Malam sudah larut ketika deru mesin mobil memecah kesunyian. Suara itu begitu akrab di telinga Claire, hingga tubuhnya bereaksi tanpa sempat berpikir. Ia terbangun, jantungnya berdegup kencang—ada sesuatu yang ia tunggu, meski tak berani menyebutkan namanya.
Ia menyambar kardigan tipis, menutupi gaun tidur sutra, lalu menuruni tangga dengan langkah tergesa. Lampu gantung kristal menyinari lantai marmer yang dingin, memantulkan bayangan langkahnya yang gemetar. Jam antik di dinding berdetak lambat, berpadu dengan desiran angin yang menggoyangkan tirai, seolah ikut menghitung setiap denyut jantungnya. Aroma malam yang lembut bercampur dengan wangi lilin yang masih tersisa di ruang tamu, membuat suasana kian sunyi namun hangat.
Di ambang pintu utama, sosok itu muncul.
Kairos.
Pria itu mel