Malam sudah menua.
Hujan belum juga turun, tapi udara membawa dingin yang menggigit hingga ke tulang.
Di kamar yang luas itu, Claire duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Di luar, kabut menutupi taman seperti selimut putih yang menelan seluruh dunia.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba tidur, tapi yang muncul justru bayangan wajah Kairos—dingin, tegas, dan selalu sulit ditebak.
Sudah berhari-hari pria itu tak pulang. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, hanya keheningan yang membusuk di udara.
Pelan, Claire berdiri. Ia menyalakan lilin dan menggenggamnya dengan hati-hati.
Cahaya kecil itu menari di udara, memantulkan warna oranye di dinding batu.
Ia melangkah keluar kamar. Lantai marmer terasa dingin di bawah telapak kakinya yang telanjang.
Lorong itu panjang dan sepi