Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai tipis, menumpahkan kehangatan ke dalam kamar. Claire duduk di kursi dekat jendela, membiarkan sinar mentari menyentuh kulitnya yang pucat.
Ketukan pelan terdengar di pintu. Tidak ada jawaban.
Liora membuka pintu tanpa ragu, khawatir terjadi sesuatu. Di tangannya, setangkai bunga segar yang sudah ia tata rapi dalam vas putih.
“Apa Anda butuh sesuatu, Nona?” tanyanya sambil meletakkan bunga di atas nakas.
Claire tidak menoleh. Diam.
“Nona masih marah pada saya?” tanya Liora lagi.
Kali ini, Claire menoleh, menatap wajah Liora yang tetap datar. Lalu ia menarik napas panjang, memalingkan wajah kembali ke luar jendela.
“Aku benci diriku… yang tidak bisa membencimu.”
“Oleh karena itu, jangan benci saya,” jawab Liora datar.
Claire mengangguk kecil.