Claire duduk sendiri di sisi tempat tidur. Ruangan itu senyap, terlalu senyap, seperti mencerminkan kekosongan hatinya. Surat-surat itu masih tersimpan di meja kecil, namun sekarang bukan Jean yang memenuhi pikirannya. Bukan Liora. Bukan Paman Axal. Tapi... Kairos.
“Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Kairos Dubois?” pikirnya.
Lelaki itu muncul bagai badai. Datang… menjemputnya dari kehancuran. Lalu pergi—tanpa kata, tanpa pelukan, tanpa jawaban.
"Kenapa kau menembaknya?"
"Kenapa kau tahu semuanya tapi tak datang lebih awal?"
"Kenapa kau selalu melindungiku dari balik bayangan?"
Claire memejamkan mata, lalu mengusap wajahnya yang terasa panas oleh sisa tangis. Ada bagian dalam dirinya yang mulai… merindukan Kairos. Bukan hanya sebagai penyelamat, tapi sebagai lelaki yang tak pernah ia pahami, namun perlahan meninggalkan bekas terlalu dalam.
Ia berdiri, berjalan ke jendela dan menatap bulan yang menggantung di langit.
"Kalau kau benar-benar pergi untuk membalas semua ini… pulanglah dengan selamat, Kairos."
---
Langit di luar gelap gulita. Jam dinding menunjukkan lewat tengah malam. Namun Claire tidak bisa tidur.
Dengan tangan gemetar, ia menyalakan lilin kecil dan menyusuri lorong-lorong mansion yang sunyi. Setiap langkahnya menimbulkan gema lembut di lantai marmer. Gaun tidur tipis dan udara dingin tak mampu menahan keinginannya malam ini—ingin melihat wajah itu.
Tangannya membuka perlahan pintu ke ruang keluarga utama di lantai satu. Lilin di tangannya berkedip ditiup angin samar dari sela jendela.
Di sana… berdiri potret besar Kairos Dubois. Potret itu menggantung megah di atas perapian yang mati. Ia berdiri gagah dalam balutan jas hitam, dengan tatapan yang sama seperti saat pertama kali Claire melihatnya—dingin, kuat, tak tergoyahkan.
Claire melangkah mendekat. Matanya menatap dalam-dalam lukisan itu.
"Kenapa kau selalu memelukku dengan tangan tak terlihat?"
"Kenapa kau menyelamatkanku dengan cara yang menyakitkan?"
Api lilin memantul di matanya yang basah.
Lalu… tanpa sadar, Claire berbisik pelan, hampir seperti doa:
“Kembalilah dengan selamat, Kairos. Meski aku belum tahu apakah aku membencimu… atau sebenarnya aku mencarimu.”
Claire yang perlahan memadamkan lilin, lalu berdiri diam dalam gelap, membiarkan bayangan potret Kairos menjadi satu-satunya yang menemaninya malam itu.
****
Malam berikutnya...
Malam semakin dalam. Namun tidur tetap tak datang menjemput Claire.
Bayangan tentang Liora yang bukan lagi Liora yang dikenalnya, tentang Paman Axal yang ternyata masih hidup, dan tentang Jean—yang ternyata bukan pria masa kecil yang ia simpan di sudut hati—semuanya bergelayut di kepalanya seperti jaring laba-laba yang pekat dan lengket.
Claire duduk di tepi ranjang cukup lama sebelum akhirnya berdiri. Kakinya melangkah pelan, mengambil sebatang lilin dan korek api dari meja kecil. Api menyala, menari-nari kecil di ujung sumbu, lalu ia keluar dari kamarnya.
Koridor di mansion itu sepi. Dindingnya masih dipenuhi lukisan-lukisan tua, tirai berat, dan aroma kayu tua yang mengingatkannya akan malam pertamanya di tempat ini—malam pernikahan yang tak ia pilih.
Kini langkahnya mengarah ke ruang utama di lantai satu. Entah kenapa… hatinya terasa tertarik ke sana.
Saat pintu berat itu ia dorong perlahan, suara engsel berderit kecil, dan cahaya lilin menyingkap isi ruangan yang dulu terasa asing. Kini… terasa menyakitkan.
Potret besar Kairos tergantung di dinding tengah, berdiri dengan elegan dan angkuh, mengenakan jas hitam dengan mata hijau zamrud yang seperti menatap langsung ke jiwanya.
Claire mendekat, langkahnya pelan.
Ia menatap lukisan itu, lalu berbisik lirih, "Kenapa kau menyelamatkanku kalau akhirnya tetap menyiksaku dengan caramu sendiri?"
Ia terdiam.
"Apa aku memang hanya pion untukmu? Atau… apa kau hanya terlalu takut untuk menunjukkan bahwa kau sebenarnya peduli?"
Claire mengusap matanya yang basah. Ia sadar tak ada yang akan menjawab.
Tapi malam itu, ia ingin setidaknya satu hal terasa nyata—ia ingin tahu di mana Kairos berada. Apa dia masih hidup? Apa dia memikirkan Claire, meski hanya sekali?
Tangannya terangkat dan menyentuh pigura kayu lukisan itu.
"Kalau aku pergi dari mansion ini, apakah kau akan mencariku lagi?" bisiknya.
Tak ada jawaban.
Namun dalam keheningan itu, Claire tahu satu hal: meski tubuhnya lelah, pikirannya kalut, dan hatinya penuh luka—dirinya belum benar-benar bisa membenci pria itu. Kairos Dubois. Sumber dari segala kebebasan… dan juga keterkurungan.
****
Claire duduk di tepi ranjang, diam-diam memandangi sebuah kursi kayu di sudut kamar. Kursi itu tampak biasa—kaku, tenang, tak bersuara. Tapi baginya, itu adalah tempat di mana semuanya dimulai.
Malam pertama. Malam di mana Kairos duduk di sana dalam diam, menatapnya sembari menjentikkan jemarinya. Sorot matanya tajam, napasnya berat, saat ia meminta hak-nya sebagai pria yang telah menikah. Langkahnya yang berat saat mendekat. Jarinya yang menarik pelan dagu Claire untuk menatapnya. Sosoknya yang menjulang tinggi di hadapan Claire. Suara serak yang membuat Claire merinding.
Lilin di tangan Claire bergoyang kecil, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding kamar. Bayangan kursi itu bergerak, dan sesaat, ia merasa seperti Kairos benar-benar duduk di sana lagi.
Dengan posisi tubuh yang sama.
Dengan tatapan yang sama.
Dengan kekuasaan yang sama menyelimuti udara.
Claire memeluk lututnya, bibirnya bergetar. “Aku benci caramu menatapku… tapi entah kenapa, aku selalu mencari tatapan itu.”
Ia menoleh ke arah kursi.
Ia tertawa kecil, getir. Lilin di tangannya menyorot wajahnya yang kini mulai basah oleh air mata.
“Kalau sekarang aku duduk di sini dan kau di sana… apakah kau tahu bahwa aku masih berharap kau bangkit, melangkah, dan menarik daguku?”
Claire menghela napas. "Dan mungkin bukan lagi sekadar ciuman."
Tak ada jawaban. Hanya suara detik jam yang bergema samar di dinding.
Claire menyeka air matanya. “Tapi kau tak pernah datang. Bahkan saat aku pergi… kau membiarkanku pergi. Apa artinya aku bagimu, Kairos?”
Bayangan Kairos menghilang seiring nyala lilin yang melemah. Claire memejamkan mata.
“Aku sudah kabur sejauh itu, tapi ternyata… tak pernah benar-benar bebas darimu.”
Claire menunduk, "entah kenapa rasanya... malam dimana aku dengan Jean... Aku berharap kau menemukanku dengan cepat. Karena selama pelarian itu, aku tak lepas dari bayang dirimu, suaramu dan juga... sorot matamu."
Claire menghela napas panjang, lalu berdiri perlahan dari tepi ranjang. Ia melangkah pelan ke meja kecil di sisi tempat tidur, menatap nyala lilin yang hampir habis.
“Sudah cukup,” bisiknya pada dirinya sendiri, entah kepada pikirannya yang kalut… atau kepada bayangan yang terus menghantui.
Ia lalu memadamkan api lilin itu dengan ujung jari yang basah, membiarkan kegelapan menyelimuti kamar sepenuhnya.
Dan dalam gelap yang hening itu, Claire berbaring kembali di atas ranjang, membiarkan dirinya perlahan tenggelam dalam tidur.
Untuk malam ini—ia menyerah.
---