Cahaya lampu menggantung di langit-langit perlahan menusuk indera Claire saat ia terbangun. Kepalanya terasa berat, pikirannya masih kacau. Saat ia mulai duduk perlahan, tubuhnya gemetar dan mual menyerang saat bayangan kejadian mengerikan itu terlintas kembali—Jean, darah, dan… Kairos.
Langkah kaki terdengar mendekat. Claire mendongak—dan yang muncul adalah Liora.
“Selamat pagi, Nona Claire. Anda sudah bangun,” ucap Liora.
Claire memalingkan wajahnya, seolah tak sudi memandang Liora.
Claire mendesis lirih. “Jadi semua itu... kebohongan?” Ia masih sulit untuk percaya akan kenyataan yang menghantam pikirannya.
“Saya tidak akan membela diri, Nona. Tapi ketahuilah, semua senyum dan bantuan saya tidak dibuat-buat. Saya tulus... karena saya menghormati Anda. Sebagai pendamping Tuan Kairos.”
Claire tak lagi menjawab. Mendengar nama itu disebut membuat kepalanya berdenyut. Ia tetap mengalihkan pandangannya dari Liora.
"Ada yang ingin menemui Anda Nona," ujar Liora..
Sebelum Claire sempat menjawab, pintu di belakang Liora terbuka perlahan. Sosok pria paruh baya dengan sorot mata lembut melangkah masuk. Wajahnya seperti hantu dari masa lalu.
Claire mengerjap. “...Paman Axal?
Pria itu tersenyum tipis. “Claire kecil... kau sudah sebesar ini.”
Air mata langsung memenuhi mata Claire. “Tapi... Ayah... Ayah membunuhmu…”
Axal duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan keponakannya erat-erat. “Ayahmu tidak membunuhku, Sayang. Justru dia menyelamatkanku. Ia menyembunyikanku dari dunia yang kejam—karena kau… karena kau adalah kelemahan terbesarnya. Dan dia tidak ingin musuh-musuhnya menyentuh orang yang paling berharga dalam hidupnya.”
Claire terdiam. Kedua matanya membulat, bibirnya bergetar. “Bagaimana bisa...? Tapi—”
Axal menarik napas dalam-dalam. Wajahnya penuh luka masa lalu.
“Hari itu, Amora sedang mencari pekerjaan. Keluarga kami sangat miskin. Sebagai kakak tertua, Amora merasa kamilah tanggung jawabnya. Orang tua kami tak mampu membiayai pendidikan. Maka ketika ditawari pekerjaan di Prancis, dia menerimanya. Tapi itu jebakan. Amora justru menjadi korban perdagangan manusia... oleh mafia dari negara kami sendiri, dari Afrika."
“Dia dijual ke Prancis bersama beberapa wanita lain. Tapi… saat itu, Amora diselamatkan oleh seorang anggota gangster. Dialah Jacques. Ayahmu. Dan di sanalah cinta mereka dimulai.”
Claire menunduk. Air matanya jatuh membasahi tangan.
“Amora melarikan diri ke Prancis untuk mengejar Jacques. Meski tanpa restu keluarga, mereka tetap menikah. Tak lama setelah kau lahir dan usaha ayahmu melejit di kalangan gangster, kami semua datang—melihatmu, menatapmu… dan menangis. Bukan karena sedih, tapi karena tak percaya Amora bisa hidup sebaik itu.”
Axal tersenyum pahit.
“Jacques memberi kami pekerjaan, rumah, dan martabat yang dulu tidak kami miliki. Tapi… tidak semua saudaraku bersyukur. Setelah orang tua kami meninggal, mereka mulai berunding. Mereka ingin merebut kekayaan Jacques.”
Claire membeku. "Termasuk keluarga Jean?"
Axal mengangguk perlahan. “Ya. Saat tahu niat jahat mereka, aku mengadu pada Jacques. Tapi terlambat. Amora ditemukan meninggal—dibunuh. Dan ketiga saudaraku, termasuk keluarga Jean, mencuri surat wasiat yang ditulis atas namamu.”
Claire menutup mulutnya, berusaha menahan tangis.
“Sejak itu, Jacques memalsukan kematianku. Ia berpura-pura usahanya bangkrut, semuanya untuk membuatmu mandiri dan menyingkirkan pengaruh keluargaku. Ia bahkan mencari jodoh yang cukup kuat untuk melindungimu… meski semua orang menuduhnya menjual putrinya.”
Axal menggenggam tangan Claire lebih erat. “Karena kebahagiaanmu… adalah satu-satunya alasan ia bertahan hidup.”
Claire menggigit bibir. Wajah ayahnya muncul dalam benaknya—senyum lirih Jacques saat pernikahannya dengan Kairos.
Ternyata bukan karena tak peduli…
Justru sebaliknya.
Axal melanjutkan dengan suara lirih. “Hari ketika kau dan Jean kabur… Jacques pergi mencari Kairos. Saat itu Kairos sedang merebut wilayah gangster di Filipina. Jean menembak Jacques di lengan. Ia mengira ayahmu tewas di tempat. Tapi sebelum pingsan, Jacques memohon Kairos untuk menemukanmu. Maka Kairos menyerahkan semua urusannya dan pergi sendiri ke pulau terpencil itu… dengan satu tujuan: menghabisi Jean.”
Claire menatap sang paman dengan mata berlinang. “Lalu… ayahku…?”
Axal menunduk. “Beliau selamat, tapi koma. Kini disembunyikan di tempat aman.”
Claire menangis semakin keras, tubuhnya terguncang. “Aku ingin bertemu ayahku… Kumohon…”
Liora yang sejak tadi berdiri diam akhirnya angkat bicara. “Anda akan bertemu dengannya, jika kondisi Anda sudah stabil.”
Claire menoleh cepat, matanya penuh kemarahan. “Kau mengancamku?”
Liora tetap tenang. “Anggap saja begitu, Nona.”
Claire menunduk, suara hatinya penuh luka. “Tapi... mengapa semua orang bersandiwara? Mengapa tidak pernah ada yang jujur padaku?”
Axal menatapnya dalam-dalam. “Karena orang jahat tidak akan pernah ragu menggunakan kebenaran sebagai senjata untuk menyakiti yang paling tak berdosa. Jacques hanya ingin memastikan kau tumbuh kuat dan mandiri. Ia tahu dia tidak akan hidup lama karena penyakitnya. Jadi... ia melakukan yang harus dilakukan.”
Liora kemudian maju selangkah. “Nona Claire, izinkan saya menjelaskan soal Jean.”
Claire mendongak. “Apa lagi yang belum kuketahui?”
Liora berkata dengan jelas, “Jean dan keluarganya sudah lama mengincar harta warisan Ibu Anda—Nyonya Amora. Karena cinta yang begitu besar, Ayah Anda menyerahkan seluruh hartanya atas nama Nyonya Amora. Dan Nyonya Amora... membuat surat wasiat yang menyatakan bahwa semua harta akan menjadi milik Anda.”
Liora melanjutkan, “Namun pada malam saat ibu Anda ditemukan meninggal secara misterius di kamarnya... surat wasiat itu hilang. Dan kami tahu siapa yang mengambilnya—keluarga Jean. Mereka menyimpannya, menunggu waktu yang tepat agar bisa memanipulasi Anda.”
Claire terdiam, tubuhnya membeku. Ia teringat akan surat warisan yang di genggaman Jean.
“Dua minggu ini,” lanjut Liora, “Jean memainkan peran sebagai pelindung. Tapi begitu waktunya tiba, dia menunjukkan wajah aslinya. Dia ingin Anda menandatangani surat itu. Ia membungkus keinginannya dengan alasan ‘demi melindungi Anda dari ayah Anda’. Tapi nyatanya... ia ingin menguasai semuanya.”
Claire mengingat kembali detik-detik itu. Suara Jean yang berubah. Bentakannya. Lalu wajahnya yang lembut kembali, merayunya agar percaya. Ia menggigil. “Aku hampir menandatanganinya...”
“Namun Kairos datang tepat waktu,” ujar Axal pelan. “Ia tahu bahaya itu. Dan dia mengambil keputusan yang tepat.”
Claire kembali teringat pada suara tembakan, darah, dan tubuh Jean yang tumbang. Dan di baliknya—sosok Kairos berdiri dengan dingin. Tangannya masih memegang pistol, tatapan matanya tak berperasaan.
Claire menunduk, dadanya sesak. “Mengapa semua orang di sekitarku... menyamar? Bahkan Kairos...”
Axal tersenyum getir. “Karena cinta sejati tidak selalu tampil lembut. Kadang cinta tampil dalam bentuk paling kasar demi menyelamatkan.”
---
Claire menyandarkan diri ke kepala ranjang. Matanya kosong menatap langit-langit.
“Dan Kairos?” bisiknya. “Di mana dia sekarang?”
Liora menatap Axal sejenak, lalu menjawab dengan suara datar namun tegas. “Tuan Kairos sedang dalam misi. Seluruh keluarga Jean—termasuk kelompok gangster yang mendanai mereka—telah menjadi target pembasmian.”
Claire menoleh cepat, napasnya tercekat. “Kau bilang… dibasmi?”
“Dia tidak akan berhenti sampai semuanya dihancurkan,” sahut Axal. “Itu janjinya pada Jacques.”
Claire merasa seolah tenggelam dalam laut yang tenang namun mematikan. Ia ingin marah, ingin melawan, ingin mempertanyakan segalanya… tapi ia terlalu lelah.
“Jadi… sekarang aku hanya harus diam di sini dan menunggu? Seperti boneka yang disembunyikan dari semua kekacauan?”
Liora menggeleng. “Tidak, Nona. Tugas saya bukan untuk menahan Anda. Saya hanya diminta untuk menjaga Anda tetap hidup… sampai Tuan Kairos kembali dan Anda memutuskan arah hidup Anda sendiri.”
Claire terdiam lama.
Matanya memandangi cahaya lampu gantung yang menggantung di langit-langit. Dingin, samar, seperti hatinya.
“Kalau begitu… biarkan aku sendiri malam ini.”
Liora mengangguk, memberi isyarat hormat, lalu berjalan keluar kamar. Tapi sebelum menutup pintu, ia menoleh.
“Segala sesuatu yang saya lakukan, Nona, bukan karena perintah semata. Saya sungguh ingin melihat Anda tetap hidup… dan menemukan kembali diri Anda.”
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak Claire melarikan diri dari mansion Kairos, kamar ini tidak lagi terasa seperti penjara. Tapi juga belum sepenuhnya rumah.
Ia hanya seorang gadis… yang terbangun di tengah puing-puing kepercayaan. Tapi kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun mengarahkan hidupnya lagi.
Tidak Kairos. Tidak Jacques. Tidak Liora. Tidak siapa pun. Karena ia tak ingin hidup sebagai beban siapapun. Ia ingin hidup di atas keinginan dan keberaniannya. Tak ingin terlihat lemah dan juga tak ingin dikasihani.
Tetapi dari kehidupan yang Claire lalui, ia mendapat pembelajaran.
Untuk Liora, yang menyamar sebagai pelayan polos tapi ternyata adalah pengawal rahasia Kairos.
Untuk Kairos, yang dari balik kekejamannya sebenarnya terus melindungi Claire dalam diam.
Tak semua yang melindungi akan terlihat seperti pahlawan. Kadang, mereka memakai wajah asing… menyamar, menipu, bahkan menyakitimu. Tapi bukan karena mereka membencimu. Karena dunia terlalu kejam untuk membiarkanmu tahu siapa yang sebenarnya berdiri di pihakmu.
Dan seringkali, yang terlihat melindungi… justru menyembunyikan belati paling tajam di balik pelukannya.
Persis yang dilakukan Jean.
---