Bau alkohol medis menggantung di udara, menyesakkan d**a.
Claire membuka matanya perlahan. Kepalanya berat. Pandangannya kabur… tapi ia tahu, ia tidak lagi berada di villa.
Selang infus menusuk punggung tangannya. Selimut tebal membungkus tubuhnya. Kamar asing ini… terlalu steril.
Lalu, suara langkah pelan mendekat.
Dari ujung penglihatannya, muncul sosok yang amat dikenalnya—tapi tak pernah dalam wujud seperti ini.
Rambut cokelat Liora kini dikuncir satu dengan rapi. Baju pelayan yang biasanya dikenakannya telah diganti jas formal berwarna gelap. Matanya tidak bersinar seperti dulu, tapi tajam… dan sunyi.
Claire mengangkat tubuhnya dengan susah payah, lalu bergumam dengan suara serak, “Liora…”
Gadis itu hanya menunduk pelan. “Anda sadar.”
Claire menatapnya lama, napasnya tercekat. “Kau… kau mengkhianatiku?”
Pertanyaan itu tak butuh jawaban. Jawabannya sudah terpajang di depan mata: Liora yang selama ini tampak ceria dan polos… hanyalah ilusi.
Liora tetap diam, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tapi bukan datar seperti batu—melainkan tenang seperti air yang menyembunyikan arus dalam.
Claire menggigit bibirnya. Ia mencoba mengingat: lorong rahasia, rencana pelarian, pantulan cahaya bulan di rambut Liora saat mereka berpelukan.
Semuanya…
Rekayasa.
"Aku benar-benar percaya padamu..." bisik Claire. "Bahkan lebih dari siapapun..."
Ia tersenyum kecil—senyum yang getir, kering, dan menyesakkan. “Kenapa… kenapa kau pun ikut menyiksaku?”
Liora tak langsung menjawab. Ia melangkah lebih dekat, lalu menarik kursi, duduk di samping tempat tidur.
Suara Liora pelan… tapi jernih.
“Saya tidak pernah berniat menyiksa Anda, Nona Claire. Seperti yang saya katakan... saya hanya ingin melihat Anda bahagia.”
Claire tertawa—tawa yang nyaris terdengar seperti isak. “Bahagia? Di mansion gelap itu? Dengan semua kebohongan dan darah yang mengalir di bawah lantainya?”
Tatapannya menusuk, penuh luka.
“Kebahagiaan apa yang kudapat, Liora. Terkurung lagi di kandang yang sama. Dengan pemilik yang lebih dingin dari besi?”
Liora menunduk sejenak, lalu menatap Claire dalam-dalam.
“Karena hanya tempat itu yang bisa melindungi Anda dari kejamnya dunia luar.”
Claire ingin membantah… tapi tak bisa. Tak ada kekuatan tersisa. Jiwanya terlalu letih. Yang tersisa hanya air mata yang menetes tanpa suara.
Liora perlahan berdiri. Ia merapikan selimut Claire, lalu berkata dengan suara lebih lembut:
“Saya tahu Anda membenci saya sekarang. Tapi suatu hari nanti… Anda akan mengerti, kenapa saya harus memilih ini.”
Claire menutup mata, mencoba menenangkan degup jantungnya yang semakin kacau.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati:
Apakah kebebasan… benar-benar ada?
***
Siang itu, Liora kembali masuk ke kamar, membawa nampan berisi bubur ayam hangat, segelas air, dan dua butir obat yang diletakkan rapi di sisi piring.
Aroma gurih pelan-pelan mengisi ruangan. Tapi Claire hanya menoleh sejenak… lalu membuang wajah.
“Aku tidak lapar,” ucapnya lirih, menatap jendela yang tertutup tirai tebal.
Liora meletakkan nampan di meja kecil di sisi tempat tidur.
“Tubuh Anda masih lemah, Nona. Setidaknya makan sedikit… atau minum obatnya.”
Claire tidak menjawab.
Ia hanya memeluk lutut di balik selimut, bahunya menghadap ke Liora, tubuhnya seperti menyusut dalam diam.
“Aku sudah cukup kenyang… dengan rasa dikhianati,” bisiknya akhirnya.
Liora menunduk. Ekspresinya masih tenang, tapi kedua tangannya mengepal erat di balik jasnya.
Ia duduk kembali, perlahan. Suaranya nyaris tak terdengar.
"Saya tahu Anda marah. Saya akan membiarkan Anda menampar saya, mencaci saya, apapun itu… tapi jangan menyakiti diri sendiri.”
Claire tertawa kecil. “Kau tahu apa yang menyakitiku, Liora?”
Ia berbalik, matanya basah, tapi tidak meledak—justru tampak kosong.
“Kenyataan bahwa yang membawaku pergi dari mimpi buruk itu… ternyata juga bagian dari mimpi buruk yang lebih panjang.”
Liora terdiam lama. Akhirnya ia berkata dengan suara lembut, namun pasti:
“Saya akan tinggal di luar pintu. Jika Anda berubah pikiran… makanan ini akan tetap hangat setidaknya sampai malam.”
Ia bangkit berdiri, lalu melangkah pelan ke arah pintu. Tapi sebelum keluar, ia berbalik.
“Meski saya bukan pelayan ceroboh berkepang dua seperti dulu… tapi satu hal tidak pernah berubah, Nona.”
Claire menoleh, pelan.
Liora tersenyum kecil. Senyum yang tanpa tipu daya. “Saya masih ingin Anda bahagia. Bahkan jika Anda harus membenci saya seumur hidup.”
Pintu ditutup lembut. Dan untuk beberapa saat, yang terdengar hanyalah bunyi detik jam dinding, dan napas Claire yang menggantung di udara seperti pertanyaan tanpa jawaban.
Lampu kamar hanya menyala setengah. Sinar kekuningan menyapu dinding, menciptakan bayangan panjang dari sosok Claire yang berdiri menghadap jendela.
Liora masuk pelan, membawa selimut dan secangkir teh hangat. Tapi belum sempat berkata apa pun, Claire sudah lebih dulu bicara.
Suara Claire terdengar datar, tapi penuh sindiran:
“Liora… Hari ini kau menyuruhku makan, besok mungkin kau akan menyuruhku tersenyum. Lusa? Menikmati kehidupan ini, ya?”
Liora meletakkan cangkir di meja kecil. “Saya hanya ingin—”
“Ingin aku hidup?” potong Claire cepat. Ia membalikkan badan, menatap tajam. “Atau ingin aku tetap bisa dikendalikan?”
Liora menatap Claire, tidak membela diri.
Claire mendekat, selangkah demi selangkah, hingga jarak mereka hanya sejengkal.
“Kau ini siapa sebenarnya? Pelayan? Mata-mata? Malaikat penjaga? Atau mesin tak bernyawa yang hanya tahu kata perintah dan loyalitas?”
Liora tidak berkedip. Suaranya lembut, tapi tidak lemah.
“Saya adalah orang yang Anda percayai. Sayangnya, itu satu-satunya dosa saya.”
Claire terdiam. Hatinya menegang.
“Kau bahkan tidak marah.” Claire mencibir pelan. “Kau bicara tenang. Tatapanmu… Datar. Sangat datar. Seolah tak ada satu pun kata-kataku bisa menyentuhmu.”
Ia tertawa pahit. Lalu bergumam, “Kau mengingatkanku pada seseorang.”
Liora mengangkat alis pelan, tapi tetap diam.
“Kairos,” ujar Claire akhirnya. Pelan, seperti mengakui luka. “Kalian berdua bicara seakan dunia ini adalah papan catur dan aku hanya satu bidak yang harus dijaga. Bahkan saat kalian menghancurkanku, kalian merasa… sedang menyelamatkanku.”
Liora menunduk, tidak menyangkal. Suaranya hanya terdengar seperti desir angin:
“Dia lebih dari sekadar atasan. Dia penyelamat saya, saat semua orang ingin saya mati.”
Claire menggigit bibir. Emosi dalam dirinya mengaduk-aduk.
“Dan aku?” tanyanya lirih. “Apa aku cuma proyek penyelamatan berikutnya? Yang nanti akan dikurung lagi di mansion gelap itu, dengan segala alasan ‘demi kebaikanku’?”
Liora menatap Claire kali ini. Dalam dan jujur.
“Anda bukan proyek, nona Claire. Anda adalah titik lemah pertamanya.”
Hening.
Seketika, ruangan terasa penuh… oleh kata-kata yang baru saja diucapkan.
Claire membeku.
Liora membungkuk pelan, tanpa drama, tanpa ekspresi, lalu berbalik. Saat tangan gadis itu menyentuh gagang pintu, Claire akhirnya berkata pelan—nyaris seperti napas.
“Tapi kenapa aku masih merasa seperti tawanan?”
Liora menunduk sejenak.
“Karena untuk pertama kalinya, seseorang menawari Anda perlindungan… tapi Anda sendiri yang tidak ingin diselamatkan.”
"Apa maksudmu?"
Liora menghela napas, "Anda akan tahu, Nona."
Alis Claire terangkat. Kekesalan di hatinya belum mereda. Namun, untuk berdebat pun dia belum sanggup.