Setelah musik berhenti dan langkah mereka melambat, Jean tersenyum kecil lalu mengecup punggung tangan Claire—pelan, penuh rasa hormat. Ia tak berkata apa-apa lagi, hanya meninggalkan perempuan itu di beranda, masih terbungkus selimut hangat yang ia berikan.
Claire tidak segera masuk ke kamar. Entah mengapa, kakinya justru melangkah turun menuju pasir.
Langit sudah hampir gelap sepenuhnya. Cahaya jingga terakhir terpantul di permukaan laut, dan bintang mulai bermunculan satu per satu. Debur ombak terdengar seperti bisikan dari tempat yang jauh—memanggil, mengingatkan, menguji.
Ia duduk di dekat garis air, membiarkan kaki tenggelam di pasir dingin. Angin menyapu rambutnya, dan untuk beberapa saat ia hanya diam, menatap laut yang luas, yang tak pernah memberi jawaban.
Ingatan tentang tarian canggung mereka tadi masih menempel di kepalanya—pelukan selimut itu, tawa Jean. Namun tetap saja ada ruang kosong di dalam dirinya. Ruang yang seolah tertinggal di sebuah mansion batu, di balik pintu besi, di bawah tatapan mata hijau yang terus menghantui pikirannya.
Kairos.
Ia membenci kenyataan bahwa nama itu masih menggema di hatinya. Claire ingin Jean menjadi rumah, namun hatinya masih seperti kunci yang tergantung di pintu masa lalu.
“Kenapa bayanganmu masih memburu malam-malamku?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Ia mengira bisa melupakan. Mengira pergi jauh akan membawa ketenangan. Tetapi ternyata, bukan tempat yang perlu ia tinggalkan—melainkan perasaan itu. Dan ia tak tahu bagaimana caranya.
Air mata jatuh, bukan karena luka, melainkan karena kenyataan bahwa seseorang yang pernah membuatnya takut… juga telah mencuri sebagian hatinya.
Ia membungkuk, menyembunyikan wajah di antara lutut. Hanya suara laut yang menjawab. Dan malam, yang terus berbisik: Belum selesai.
Claire kembali ke villa saat malam semakin larut, tak ingin membuat Jean khawatir jika pulang dan tak menemukannya. Langkahnya pelan menapaki beranda. Angin malam mulai menusuk, tapi selimut hangat yang ia kenakan masih menyisakan rasa nyaman.
Di dalam kamar, suasana begitu hening. Hanya suara detik jam dan dengungan pelan dari luar jendela. Ia duduk di meja kecil dekat lampu baca, cahaya keemasan jatuh di permukaan buku jurnal yang sudah lama tak ia sentuh.
Perlahan, ia membuka halaman baru. Jari-jarinya sedikit bergetar saat menggenggam pena. Lalu mulai menulis:
~ Dua minggu di pulau ini.
Rasanya seperti surga yang dibuat untuk melupakan. Tapi rupanya, kenangan tetap menemukan jalannya.
Jean baik. Lebih dari baik. Dia membuatku tertawa. Mengajakku berdansa. Menyediakan segalanya.
Tapi tetap saja… hatiku belum bisa tenang.
Kairos, kau seperti hantu yang menolak pergi. Meski aku yang meninggalkan, aku tetap merasa dikejar.
Apakah ini salahku karena menyerah terlalu cepat?
Atau justru salahku karena mulai berharap padamu?
Ia meletakkan pena, menarik napas panjang, lalu memejamkan mata. Suara laut kembali menembus pikirannya.
Ia belum siap menghapus nama itu.
Namun ia juga belum siap untuk kembali.
Untuk saat ini, ia hanya ingin tetap di sini.
Menjadi Claire.
Bukan istri siapa pun.
Bukan pelarian.
Hanya… Claire.
*****
Dua minggu berlalu.
Perlahan, hidup Claire mulai menemukan bentuk yang baru. Tanpa suara langkah berat di koridor mansion, tanpa mimpi buruk atau tatapan membekukan dari Kairos—ia bisa bernapas. Dan Jean… Jean selalu ada, menjaganya seperti dulu saat mereka kecil.
Setiap pagi dimulai dengan sarapan di teras. Setiap malam ditutup dengan tawa kecil saat bintang-bintang muncul di atas villa tua itu. Untuk pertama kalinya, Claire merasa… hidup.
Sore itu, usai menikmati matahari tenggelam di ufuk pantai, mereka kembali ke dalam villa. Jean membuat teh. Claire bersandar di sofa, mengusap pelipisnya yang sedikit pusing karena terlalu banyak tertawa.
Tiba-tiba, Jean mengeluarkan sebuah map dan meletakkannya pelan di meja.
“Apa ini?” tanya Claire.
“Surat wasiat ibumu. Amora.”
Jantung Claire nyaris berhenti. Ia meraih dokumen itu dengan tangan gemetar. Namanya tertera di halaman depan.
Tapi… juga nama Jean.
“Kenapa atas namamu?”
Jean tersenyum lembut, tapi sorot matanya berbeda. Bukan Jean yang biasa.
“Kami semua tahu, Jacques takkan pernah rela kau menerima warisan ibumu. Apalagi di saat dia sendiri di ambang kebangkrutan. Jadi, keluarga ibumu sepakat menunjuk aku. Untuk melindungi aset itu… sampai kau siap.”
Claire menggigit bibir. Semua terdengar masuk akal. Tapi hatinya berkata lain.
Ia berdiri, memeluk dokumen itu ke d**a.
“Beri aku waktu. Aku belum siap.”
Tapi sebelum ia berbalik, tangan Jean menahan lengannya.
“Claire, kita tidak punya waktu. Jacques pasti sudah tahu kau kabur. Dia juga pasti tahu soal ini. Tanda tangani dokumennya. Sekarang.”
“Jean, aku bilang—”
“Tanda tangani, Claire!”
Suaranya membentak. Mata Jean menajam, bukan lagi lelaki lembut yang memasakkan roti bakar tiap pagi. Claire mematung.
“Kau pikir aku melakukan semua ini tanpa alasan? Ini demi kau, Claire! Demi masa depanmu! Demi ibumu!”
Tangannya mencengkeram lengan Claire begitu keras hingga gadis itu meringis. Claire mundur satu langkah. Matanya membelalak.
Lalu…
Jean mengembuskan napas, melepaskan cengkeramannya perlahan. Ia menatap Claire seakan tersadar akan dirinya sendiri.
“Maaf... Aku hanya… Aku hanya takut kehilanganmu.”
Claire tak menjawab. Jemarinya gemetar saat meraih pena. Namun belum sempat ujung pena menyentuh kertas—
DOR!
Suara tembakan mengoyak senja yang tenang.
Tubuh Jean tumbang menghantam lantai.
“Jean?!” Claire menjerit.
Di ambang pintu, berdirilah sosok lelaki dengan satu tangan di dalam saku celananya dan satu tangan lagi menggenggam pistol berasap.
Langkah beratnya bergema di ruangan.
Kairos.
Mata hijaunya tampak menyala. Dingin. Menatap lurus ke tubuh Jean, lalu ke Claire yang terus memanggil Jean.
Tanpa ekspresi.
Tangan kirinya menggenggam pistol, masih berasap.
Kairos menatap Claire dalam-dalam. Ia mengangkat pistolnya—ke arah dahi Claire.
Claire menggigil.
Perlahan Kairos menurunkan arah senjata itu. Dan—
Dor! Dor! Dor!
Peluru demi peluru menghujani tubuh Jean.
Claire menjerit. Ia berlutut di lantai. Matanya membelalak, tubuhnya gemetar. Darah. Bau mesiu. Bayangan Kairos di atasnya…
Dunia menggelap.
Tubuhnya ambruk — jatuh ke dalam pelukan Kairos yang segera menangkapnya. Diam. Tak berkata sepatah kata pun.
Hanya deburan ombak yang terdengar seperti menyerukan bahwa sesuatu yang berdarah telah terjadi.