Cahaya pagi menyusup lewat jendela kayu, membelai wajah Claire dengan kelembutan yang hangat. Matanya terbuka perlahan, merasakan kesegaran udara pantai yang berbeda dari udara kota yang pengap dan penuh tekanan.
Ia bangkit, menyibakkan selimut tipis, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, dengan rambut setengah kering dan balutan gaun santai berwarna krim, Claire melangkah keluar menuju ruang makan kecil di villa itu.
Di atas meja, sudah tertata rapi dua potong sandwich di atas piring keramik bergaris biru. Sebuah kertas kecil terselip di bawah gelas jus jeruk segar.
~ Untuk Claire.
Makanlah sarapanmu,
Aku ke pulau seberang,
Jangan keluar rumah sebelum aku kembali.
—Jean
Claire tersenyum samar, jemarinya menyentuh ujung kertas itu sejenak sebelum duduk. Dari kursi rotan di teras, matanya tertuju lurus ke laut. Ombak berdebur tenang, langit cerah tanpa awan.
Ia menyentuh sandwich itu pelan, lalu meletakkannya kembali. Bukan karena tak lapar—kepalanya masih penuh.
“Bahkan bayanganmu tak membiarkanku tenang, Kairos,” gumamnya lirih. Tangannya mengepal di pangkuan. Mengapa suara itu muncul lagi tadi malam? Apakah karena ia ragu? Ataukah… karena hatinya belum selesai?
Jean baik. Terlalu baik. Namun di dalam dirinya, masih ada luka yang tak bisa dijangkau siapa pun. Bayangan itu… suara berat itu… cara Kairos menatapnya terakhir kali mereka bertemu… semua masih tersimpan.
Claire memeluk lututnya, bersandar ke kursi, menatap laut yang luas. Apakah kau tahu aku di sini, Kairos? Apakah kau bahkan mencariku?
Tak lama setelah matahari naik lebih tinggi, suara deru mesin motor air terdengar samar dari kejauhan. Claire menoleh, melihat perahu kayu menepi perlahan di ujung dermaga kecil yang mengarah ke laut biru.
Jean.
Ia melompat turun lebih cepat dari biasanya, menenteng beberapa kantong besar belanjaan. Wajahnya dipenuhi peluh, namun juga semangat.
“Claire!” serunya sambil melambaikan tangan.
Claire berdiri dan berjalan menjemputnya, senyum tipis tanpa sadar terbit di wajahnya.
“Kau bawa seluruh pasar?” godanya ringan.
Jean tertawa. “Kurasa hampir. Aku membeli alat pancing baru, beberapa bumbu dapur, dan—” ia mengangkat kantong terdepan, “—cat air dan kanvas. Untukmu.”
Claire terdiam sesaat. “Untukku?”
Jean mengangguk. “Kau bilang dulu suka melukis tapi tak pernah sempat. Jadi kupikir… kenapa tidak sekarang?”
Matanya terasa panas, namun ia cepat menunduk, menahan emosi. “Terima kasih, Jean.”
Jean tersenyum lembut. “Kupikir, selain memancing dan memasak, kita butuh sesuatu yang lebih tenang. Melukis laut, langit sore… atau wajahku.” Ia mengedip, membuat Claire tertawa kecil sambil menampar ringan bahunya.
Mereka membawa belanjaan masuk. Jean dengan cekatan menyusun bahan makanan, lalu menawarkannya es kelapa muda segar yang ia beli langsung dari petani lokal.
Siang itu, mereka duduk berdampingan di depan villa, memandangi laut sambil memotong buah dan sesekali bertukar cerita masa kecil. Jean mengingatkan Claire pada masa ketika hidup terasa ringan dan hati belum penuh luka.
Saat angin sore mulai berembus, Jean berkata lirih, “Kau tahu… aku tak akan pernah bisa menjadi seperti dia.”
Claire menoleh, bingung.
“Tapi aku akan terus berusaha jadi yang terbaik untukmu. Bukan untuk menggantikannya… tapi untuk menjadi satu-satunya Jean yang bisa kau andalkan sekarang.”
Claire tak mampu berkata-kata. Namun ada sesuatu yang hangat tumbuh perlahan di dadanya—walau ia tahu pintu itu belum sepenuhnya terbuka.
---------
Keesokan harinya, langit mendung tipis menaungi pulau kecil itu. Jean sibuk menyiapkan umpan ikan di dapur belakang, sementara Claire duduk di beranda villa, memandangi laut sambil memegang kuas.
Kanvas kosong di depannya terasa seperti cermin—sunyi, menantang, memaksa. Ia mencelupkan kuas ke dalam warna biru laut, membentuk garis-garis cakrawala, ombak kecil, dan langit senja. Sesekali, ia berhenti, menatap jauh, mengingat pantulan cahaya sore di jendela mansion Kairos.
Tanpa sadar, lukisannya mulai berubah. Sosok pria berdiri membelakangi laut, mengenakan jas panjang gelap, rambut sedikit acak, bahu lebar. Tak ada wajah, hanya siluet. Tapi siluet itu jelas.
Kairos Dubois.
Claire menatapnya lama. Mengapa, bahkan saat mencoba memulai dari awal, namanya tetap tergambar lewat ujung kuas?
“Kau melukis seseorang?” suara Jean memecah lamunannya.
Ia cepat menutupi lukisan dengan kedua tangan. “Ah… hanya bayangan. Tak penting.”
Jean tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil dan duduk di sampingnya.
“Kau boleh melukis siapa pun, Claire. Bahkan jika dia masih tinggal di sudut hatimu.”
Claire menunduk, tak menjawab.
“Asal kau tahu,” lanjut Jean dengan nada ringan, “aku akan tetap ada di luar sana. Menunggu jika suatu hari kau membiarkan hatimu kembali terbuka.”
Claire menatapnya. Jean tersenyum lembut.
Angin sore meniup rambutnya, membuat Claire kembali menatap lukisan itu. Mungkin ia belum selesai dengan masa lalu… tapi setidaknya hari ini ia berani menghadapinya.
---
Senja datang membawa warna jingga, emas, dan ungu pudar. Claire duduk di beranda, rambut tergerai diterpa angin laut.
Langkah kaki mendekat, pintu kaca geser terbuka. Jean muncul, membawa selimut hangat yang ia sampirkan di pundaknya. “Aku belikan tadi pagi. Kupikir kau suka warna seperti ini.”
Krem lembut dengan garis tipis biru laut. Pola sederhana—hangat seperti rumah.
“Terima kasih, Jean,” ucap Claire pelan.
Jean tak membalas, hanya masuk sebentar dan kembali membawa laptop. Ia memutar musik piano lembut, diiringi biola yang mengiris senja dengan keindahan melankolis.
“Maukah Nona Claire berdansa denganku malam ini?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Claire nyaris tertawa. “Jean… aku tidak bisa berdansa.”
“Bagus. Aku juga tidak,” jawabnya dengan senyum khas Jean.
Tawa pun pecah. Claire menyambut uluran tangannya. Langkah mereka canggung, sesekali saling menginjak kaki, tapi justru membuat mereka tertawa. Jean menggenggam tangannya hangat, tanpa memaksa.
Lagu mengalun, wajah Jean begitu dekat, tatapannya jernih dan tulus. Claire bisa merasakan dirinya dilihat, bukan sekadar dipandang.
Namun di lubuk hatinya, ada nama yang bergetar. Kairos.
Hatinya membeku sesaat. Mengapa harus hadir, bahkan di momen sesederhana ini?
Malam itu, Claire memilih berdansa. Memilih menikmati selimut pemberian Jean, genggaman tangan yang tak menuntut, dan musik yang hanya meminta ia hadir sepenuhnya.
Untuk sekali ini saja… ia ingin tenang.