Claire baru selesai mencuci muka ketika langkahnya membawanya ke dapur. Aroma kopi yang harum bercampur dengan wangi roti panggang segera menyambutnya, mengisi ruang dengan kehangatan pagi.
Jean berdiri di dekat meja, mengenakan apron sederhana. Senyumnya merekah saat melihat Claire masuk.
“Akhirnya sang putri bangun juga,” ujarnya ringan. “Sarapan spesial hari ini: omelet keju dan roti hangat. Duduklah.”
Claire hanya tersenyum kecil dan duduk tanpa banyak kata. “Kau belajar semua ini dari mana?” tanyanya, suaranya terdengar santai tapi matanya memperhatikan setiap gerakan Jean.
“Dari ibuku,” jawab Jean sambil menuang kopi ke cangkir. “Dia selalu bilang, kalau kau ingin hati seorang perempuan, masaklah sesuatu sebelum kau bicara soal cinta.”
Claire tertawa kecil. “Kau lucu.”
Jean menatapnya, kali ini lebih serius namun tetap lembut. “Tapi aku tidak bercanda.”
Mereka melanjutkan sarapan dengan obrolan ringan. Sesekali tangan Claire dan Jean bersentuhan saat mengambil gula atau mentega. Saat Jean tak sengaja menumpahkan sedikit air ke meja, Claire membalas dengan mencipratkan air dari ujung jarinya. Jean tertawa, lalu membalas. Dalam sekejap, mereka bermain seperti anak-anak—tertawa, saling menghindar, dan lupa akan waktu.
Claire bahkan tidak menyadari bahwa ini adalah kali pertama ia tertawa lepas sejak semua peristiwa kelam itu terjadi.
“Kau persis seperti waktu kecil,” kata Jean di sela tawa. “Ingat saat kau nyaris tenggelam di danau karena mengejar kupu-kupu?”
Claire tertawa mengingatnya. “Dan kau menyelamatkanku, lalu bilang ‘kalau kau mati, aku juga mati!’”
Keduanya tertawa bersama, tapi di balik tawa itu ada jeda yang membuat suasana sedikit berubah.
Jean menatapnya dengan mata yang lebih dalam. “Dan aku tetap merasa begitu, Claire,” ucapnya lirih.
Claire terdiam, hanya angin yang menerpa rambutnya yang menjawab. Saat itu, Jean meraih tangannya perlahan, jemarinya menghangatkan jemari Claire.
“Aku tahu kau masih terluka,” katanya pelan. “Aku hanya ingin kau tahu… aku di sini untuk mengisi lukamu. Bukan menggantikan siapa pun.”
Seperti hari sebelumnya, keduanya menghabiskan waktu bermain di pantai.
Mereka tertawa. Saat senja turun, mereka memasak bersama—menu sederhana yang mereka racik sambil bernostalgia. Aroma masakan dan percakapan hangat mengisi dapur tua itu dengan keintiman yang tak terucap.
Malam jatuh pelan, menyelimuti villa dengan keheningan. Suara ombak terdengar lebih sunyi dari biasanya. Setelah makan malam sederhana di teras, hanya diterangi cahaya lentera dan diiringi tawa ringan, Claire dan Jean saling berpamitan untuk beristirahat. Semuanya terasa tenang… hingga mimpi buruk itu datang.
Gelap. Darah. Tangisan. Ledakan yang memecah udara. Claire berlari, seseorang menarik tangannya, lalu—tembakan.
Ia terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya basah oleh keringat. Cahaya bulan menyelinap dari sela tirai jendela, menambah nyata rasa mencekam yang masih tertinggal di benaknya. Tenggorokannya kering. Ia meraih jubah tipis dan melangkah keluar kamar, menyusuri koridor villa yang senyap.
Dapur kecil yang hangat menyambutnya. Claire menuang segelas air putih, lalu bersiap kembali ke kamar. Namun langkahnya terhenti saat melihat siluet Jean di ruang tengah.
Pria itu duduk bersila, wajahnya serius menatap layar laptop yang bercahaya redup. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, terlalu fokus untuk menyadari kehadiran Claire.
Ia mendekat, membawa segelas air putih lain. “Sudah malam… kau tidak tidur?” suaranya pelan, masih lekat dengan sisa gemetar dari mimpi buruk.
Jean mengangkat kepala, tersenyum tipis. “Aku sedang membeli beberapa barang keperluan. Besok pagi aku akan menjemputnya ke pulau seberang.” Ia menerima gelas dari tangan Claire dan meminumnya sampai habis. “Kau tidak masalah kalau kutinggal sendiri?”
Claire mengangguk pelan. “Tidak masalah. Aku akan baik-baik saja.”
Hening. Hanya suara kipas angin dan hembusan angin barat yang menyusup lewat celah jendela.
“Kalau begitu… aku tidur dulu,” ujarnya sambil berdiri.
Namun sebelum ia sempat melangkah, tangan Jean menahan pergelangan tangannya. Claire menoleh, mendapati Jean juga sudah berdiri. Wajah mereka kini hanya berjarak sejengkal. Napasnya terdengar pelan… tapi berat. Tatapan matanya dalam, membuat Claire terpaku.
Jean mengangkat tangan, perlahan, seolah hendak menyentuh pipinya. Tetapi sebelum jemari itu menyentuh kulitnya, Claire mundur setapak, menunduk.
“Maaf… aku tidak bisa,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Jean terdiam sesaat. Tersenyum kecil, meski ada luka yang tampak jelas di matanya.
Ia mengusap lembut rambutnya sebelum berbalik menuju kamar. Claire berdiri cukup lama, matanya masih terarah pada tempat Jean berdiri tadi. Ketika akhirnya ia kembali ke kamar, detak jantungnya belum sepenuhnya tenang.
Di ruangan yang gelap dan dingin, ia rebah di ranjang, menatap langit-langit. Namun saat matanya terpejam, suara itu datang—dalam dan dekat.
“Claire…”
Ia membuka mata.
Lagi-lagi suara itu…
Kairos.
Claire menatap langit-langit kamar. Tangannya saling menggenggam, dan saat matanya menuruni jemarinya, ia terpaku.
Cincin putih itu masih tersemat di sana—cincin pernikahan yang dikenakannya saat bersanding dengan Kairos.
"Bahkan setelah aku keluar dari mansion itu... hidupku tidak tenang sama sekali," gumamnya lirih.