Matahari belum terlalu tinggi saat Jean mengetuk pintu kamarku dengan irama khas yang selalu dia lakukan sejak kecil. Tiga ketukan pelan, satu hentakan keras—seolah ia tak pernah tumbuh dewasa.
“Tuan putri, waktunya meninggalkan istana. Pantai sudah memanggil kita,” serunya dari balik pintu.
Aku tersenyum kecil. “Jean, aku tidak pakai sepatu!”
“Bagus. Lebih dekat ke alam!”
Tak butuh waktu lama, kami pun berjalan menyusuri jalan setapak yang berhiaskan rumput laut kering dan pasir putih yang belum terjamah siapa pun. Angin laut menerbangkan rambutku, dan di sisi lain, Jean membawa dua alat pancing serta sekeranjang roti dan buah segar.
“Sudah lama aku tidak memancing,” kataku sambil menatap air jernih yang tenang.
“Dulu kita pernah hampir tenggelam karena berebut kail, ingat?” ucap Jean dengan tawa yang lepas.
Aku menggeleng sambil tertawa. “Kau yang hampir tenggelam, Jean. Aku yang menyelamatkanmu.”
Jean pura-pura terbatuk. “Itu karena aku terlalu sibuk melindungi harga diriku sebagai calon pria dewasa.”
Kami duduk di batu besar yang sedikit menjorok ke laut. Jean menyerahkan satu alat pancing padaku, lalu meletakkan buah mangga dan jeruk di antara kami.
Sesekali, kami tak bicara. Hanya menatap laut. Tapi itu sudah cukup. Udara asin, suara camar, dan sesekali semilir angin yang membuat dedaunan kelapa bergoyang seperti menyambut kami.
“Claire,” ujar Jean tiba-tiba.
Aku menoleh.
“Kau bahagia?”
Pertanyaan itu menggantung di antara suara ombak dan desir pasir. Aku tak langsung menjawab.
Tapi kemudian aku menatapnya, tersenyum. “Aku merasa aman, Jean. Dan aku rasa… itu perasaan yang sudah sangat langka untukku.”
Ia mengangguk pelan. Lalu memejamkan mata sejenak, seolah mengukir kata-kataku di benaknya.
Kami memancing hingga senja. Tak banyak yang kami dapat, hanya dua ikan kecil. Tapi Jean tetap menari kecil di pasir sambil mengangkat kailnya tinggi-tinggi. “Pesta laut! Pesta laut!” katanya sambil berputar.
Aku tertawa keras. “Kau seperti anak delapan tahun!”
“Bukankah itu yang paling kau rindukan dariku?” jawabnya sambil tersenyum penuh arti.
Hari itu berakhir dengan kami membakar ikan hasil tangkapan seadanya dan duduk di beranda villa, menghadap laut berkilauan yang mulai tertelan senja.
Jean memainkan gitar kecil—lagu sederhana dari masa kecil kami.
Dan aku diam-diam menulis satu baris lagi di surat tak terkirimku.
“Aku tidak tahu akan bagaimana akhirnya nanti, tapi malam ini aku tertawa dengan tulus. Mungkin untuk pertama kalinya… sejak aku menjadi istri seorang Dubois.”
-----
Jean... akan kupastikan kubunuh dia dengan tanganku sendiri!
Claire terbangun dengan napas tersengal. Suaranya... suara Kairos. Masih jelas, masih nyata.
Ia bangkit, berjalan dengan kaki gemetar menuju dapur. Di sana ia meneguk segelas air putih untuk menenangkan diri. Saat hendak kembali ke kamar, ia melihat Jean duduk di ruang tamu dengan laptop di pangkuannya.
"Kau belum tidur?" tanya Claire pelan.
Jean menoleh dan tersenyum tipis. "Sedang menyelesaikan sesuatu. Bagaimana denganmu?"
Claire duduk di kursi dekatnya, menyandarkan punggung. "Aku hanya haus..."
Jean menutup laptopnya. Hening sesaat. Kemudian ia bertanya, "Apa rencana hidupmu ke depan, Claire?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Claire memandang lantai, berpikir dalam diam.
"Claire," lanjut Jean, suaranya tenang namun tegas. "Kita tidak bisa tinggal di sini selamanya. Pulau ini hanya tempat persinggahan. Dan... di antara kita, tak ada ikatan apa-apa selain darah sepupu jauh."
Claire menunduk. Tak ada jawaban.
Jean berdiri, hendak kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Claire dari belakang.
"Maaf... aku belum bisa membalas perasaanmu."
Jean menoleh setengah, suaranya tetap lembut. "Aku sudah bilang, Claire... aku akan menunggu."
Lalu ia pun melangkah pelan, menghilang ke balik pintu kamarnya.
Claire masih duduk di sana, menatap pintu yang telah tertutup, dan hatinya semakin kacau.
****