POV Claire....
Pulau kecil itu tak tercantum dalam peta wisata manapun. Dikelilingi hutan kelapa, suara ombak yang memecah karang, dan langit biru tak bersuara—tempat itu terasa seperti bagian dari dunia yang terlupa. Dan mungkin, itu yang membuatnya sempurna untuk bersembunyi.
Villa mungil berdinding kayu putih dengan jendela-jendela besar menghadap laut menjadi tempat tinggal kami sekarang. Tak ada penjaga, tak ada pelayan, tak ada kamera pengawas. Hanya kami berdua, dan hari-hari yang perlahan terasa seperti mimpi yang tertunda.
Jean memetik kelapa dari pohon belakang dan menaruhnya di meja dengan bangga. “Dulu waktu kecil aku tidak seberani ini. Kau yang lebih dulu naik, kau ingat?”
Aku tertawa, menatap wajahnya yang sedikit kecoklatan karena matahari.
“Itu karena kau takut jatuh. Kau pikir pohon kelapa akan melukai harga dirimu yang rapuh.”
Jean mencibir. “Dan kau pikir tawa kecilmu tak akan membuatku jatuh cinta waktu itu?”
Aku menoleh padanya dengan cepat, kaget—tapi Jean hanya tertawa ringan, seolah itu bukan apa-apa.
Kami berjalan di sepanjang pantai setelah makan siang, membiarkan air laut mencium mata kaki. Jean bercerita tentang kambing bernama Maude, dan aku hampir terjungkal saat mengingat suara cempreng binatang itu mengejarku karena roti sobek.
“Dan loteng rumah tua kita…” aku mulai pelan, “tempat kita menggambar mimpi di dinding dengan kapur warna-warni.”
Jean mengangguk, sorot matanya sayu. “Kita pernah berjanji akan kabur dari semuanya. Aku dulu janji akan jadi perisai hidupmu.”
Aku menatap cakrawala, lalu berkata pelan, “Dan kau tetap menepatinya, meski sepuluh tahun kemudian.”
Hari-hari berlalu seperti musim panas yang panjang. Kami menjemur pakaian bersama, memasak dengan bahan seadanya, tidur di hammock yang digantung di antara dua pohon kelapa. Di malam hari, kami menyalakan lampu minyak dan bercerita seperti dua anak kecil yang tak takut dunia.
Tak ada yang memanggil nama ‘Claire Dubois’. Tak ada Kairos. Tak ada mansion yang dingin.
Di tempat ini, aku hanyalah Claire kecil yang mencintai laut, dan Jean adalah Jean yang sama—yang dulu bilang bahwa kalau aku takut, aku tinggal lari ke arahnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, aku tertawa… tanpa rasa bersalah.
Kami punya kebiasaan baru di pulau ini: menulis surat tanpa perangko.
Jean akan menulis sepucuk surat untukku tiap pagi, lalu meletakkannya di bawah cangkir teh. Isinya kadang lucu, kadang hanya satu kalimat seperti, "Hari ini aku mimpi kita punya kambing lagi. Tapi dia lebih sopan." Dan aku akan membalas di sore hari, menyelipkan catatan di bawah bantalnya. Konyol? Mungkin. Tapi itu membuat setiap hari terasa ringan, seperti dulu saat kami saling melempar surat lipat di kelas.
Suatu pagi, aku menemukan kertas kecil itu dengan tulisan tangan yang khas:
“Claire, kau selalu suka roti yang dibakar terlalu lama. Tidak tahu apakah kau masih menyukainya. Tapi aku tetap akan membuatnya. Dunia boleh kacau, tapi kau tetap harus lucu.”
Aku tertawa—keras.
Jean masih sama seperti dulu. Sama-sama punya lelucon yang buruk.
Saat matahari tepat di atas kepala, Jean biasanya menyeretku ke pantai. Kami membangun menara pasir tinggi-tinggi, sampai satu dari kami menyerah karena kepanasan. Jean selalu bilang menara itu lambang kebebasan kami. Dan setiap kali menaranya runtuh, dia berkata, “Kita bisa bangun lagi. Kita kan punya waktu seumur hidup.”
Sore harinya, kami duduk di tangga teras menghadap laut. Aku mengenakan gaun putih ringan yang ditiup angin. Jean memainkan gitar kecil tua yang ia temukan di lemari bawah dapur. Nadanya kadang fals, tapi entah kenapa, lagu-lagunya tetap menenangkan.
“Kau tahu, Claire?” katanya tiba-tiba, “Aku tidak pernah berhenti menyimpan surat pertamamu. Yang kau selipkan di buku milikku waktu kita masih sekolah dasar. Yang isinya cuma satu kalimat: ‘Jangan katakan siapapun, aku makan lima permen hari ini.’”
Pipiku memanas. “Kau… masih ingat?”
“Masih. Aku bahkan menyimpannya di dompetku selama bertahun-tahun. Sampai dompetnya hilang,” ujarnya sambil tertawa. “Tapi rasanya masih tertulis di otakku.”
Aku menunduk, tersenyum malu.
"Apa kau masih suka makan permen?” tanyanya tiba-tiba.
Aku mengangkat wajah, menatap matanya yang serius.
“Tidak,” jawabku jujur. “Aku sudah lupa akan hal-hal manis, termasuk permen. Tapi aku suka hari-hari seperti ini. Dan kau… adalah bagian terindah di dalamnya.”
Jean tidak menjawab. Tapi ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. Lalu kami terdiam lama, menikmati angin yang berbisik dan suara burung-burung yang pulang ke sarang.
Di tempat ini, waktu berjalan pelan, tapi hatiku terasa utuh. Tak ada politik keluarga, tak ada drama kekuasaan.
Hanya dua orang dewasa yang menambal mimpi masa kecil mereka… perlahan-lahan.
Malam itu, hujan turun pelan. Atap villa berdenting lembut, memantulkan irama yang mengantar tidur.
Tapi aku belum tidur.
Aku berdiri di depan jendela besar, menatap garis pantai yang mengabur dalam kabut. Di belakangku, terdengar langkah pelan Jean mendekat.
“Aku membuatkanmu cokelat hangat,” katanya.
Aku menoleh. Ia berdiri dengan dua cangkir di tangan, masih mengenakan kaos tipis dan celana linen yang mulai kusut. Ia tampak... nyaman. Nyata.
Aku mengambil satu cangkir. “Terima kasih.”
Kami duduk berdampingan di sofa rotan menghadap jendela. Tak ada suara selain hujan dan detak jam tua yang Jean temukan di loteng villa.
Beberapa menit berlalu dalam diam, sampai akhirnya ia bicara, pelan.
“Claire.”
Aku menoleh, dan menemukan mata itu—mata yang dulu mengajakku lari dari rumah dan bermain petak umpet sampai senja.
“Boleh aku… memegang tanganmu?”
Aku terdiam sesaat, lalu mengangguk.
Jean menyentuh jemariku perlahan. Hangat. Seperti dulu, tapi tidak lagi kekanak-kanakan. Sentuhannya sekarang… mengandung rasa takut. Seolah ia takut merusak sesuatu.
Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, lalu berkata lirih,
“Aku tahu, kamu belum sepenuhnya pulih. Aku juga tahu, aku bukan pelindung sekuat bayanganmu tentang pria dewasa.”
“Tapi aku bersyukur... karena kamu memilih datang padaku. Meski cuma untuk sesaat, atau hanya karena ingin bernafas.”
Aku menunduk. Dadaku berdesir.
“Aku tidak ingin terburu-buru. Tapi kalau nanti kamu ingin bicara, atau ingin diam bersamaku... aku ada.”
Aku mencengkeram tangannya, erat. Tak ada kata-kata yang bisa mewakili rasaku saat itu. Hanya air mata kecil yang lolos tanpa izin, dan genggaman yang tak ingin kulepaskan.
Hujan masih turun di luar. Tapi di dalam sini... kehangatan sudah cukup membuatku lupa bahwa dunia pernah menyakitiku.
Sudah lima hari berlalu sejak malam itu. Sejak aku memeluk Liora erat-erat di ujung lorong yang mengantar kebebasanku. Tapi rasanya… baru kemarin aku membisikkan terima kasih padanya, dengan suara yang gemetar oleh rasa haru dan takut.
Liora, bagaimana kabarmu sekarang?
Apakah kau masih berdiri di tempat yang sama, menyembunyikan jejakku dengan keberanian yang tak seharusnya dimiliki oleh gadis seumurmu?
Aku melewati hari-hari yang tenang di pulau ini. Terlalu tenang, kadang-kadang. Tapi juga… indah. Jean—teman kecilku yang selalu muncul dalam ingatan masa lalu—kini benar-benar ada di sisiku.
Tak banyak yang berubah darinya. Ia masih Jean yang cerewet saat gugup, suka menyuapku dengan makanan manis, dan bisa tertawa hanya karena burung laut melintas terlalu cepat.
Tapi sekarang, kami sudah dewasa.
Dan entah bagaimana… ia menyatakan perasaannya padaku.
Aku tidak tahu harus merasa seperti apa. Jean adalah sepupu dari kerabat jauh ibuku. Kami tumbuh bersama, berbagi luka yang sama, bahkan dulu sempat tidur beralaskan karung goni di loteng rumah tua karena takut pada dunia luar.
Tapi perasaan itu?
Aku… bingung.
Ada sesuatu yang menahan langkahku untuk menjawabnya.
Dan seperti biasa, satu nama kembali bergema di kepalaku. Nama yang membuat dadaku terasa sesak tanpa alasan.
Kairos.
Ya… Kairos Dubois. Pria yang tak pernah bicara panjang, tapi mampu membuat segalanya terasa intens hanya dengan satu tatapan.
Entah kenapa… aku tidak bisa melupakannya.
Aku tidak tahu sedang apa dia sekarang. Tapi yang jelas—dia tidak mencariku. Tidak mengejarku. Tidak mengutus siapa pun untuk membawaku kembali.
Mungkin… memang seperti itulah akhirnya.
Dan aku di sini, duduk di teras kayu menghadap laut, menulis surat yang tak pernah akan kukirim.