Angin malam menyusup pelan dari sela jendela yang terbuka sebagian. Di kamar yang hangat dengan cahaya temaram lampu gantung, Claire dan Liora duduk bersila di atas permadani lembut. Di antara mereka, secangkir teh melati menguap harum.
Liora menggulung rambut kepangnya ke belakang sambil memandangi Claire yang tengah melamun.
“Nona…” panggil Liora hati-hati, “ceritakan lagi tentang Jean.”
Claire menoleh. “Kenapa kau begitu penasaran?” tanyanya sambil tersenyum samar.
Liora ikut tersenyum, tapi kali ini senyumnya mengandung ketulusan yang membuat suasana terasa lebih akrab.
“Karena… aku melihat wajah Anda terlihat bahagia saat menyebut namanya di taman tadi. Rasanya… berbeda dari biasanya. Seolah waktu berhenti sebentar.”
Claire menunduk. Ada jeda sunyi sebelum akhirnya ia membuka suara.
“Ya… masa kecil kami sangat indah. Itu semua… sebelum ibuku meninggal.”
Liora diam, menyimak dengan penuh perhatian.
“Jean adalah anak yang lantang. Suka membela yang lemah, dan… sedikit ceroboh. Kami sekolah di tempat yang sama dan… sempat tinggal di atap yang sama. Di rumah orang tuaku."
Claire tersenyum kecil, memeluk lututnya. “Dia selalu bilang akan menjagaku kapan pun, di mana pun. Kadang menyebalkan… tapi aku selalu merasa aman.”
Liora menatap wajah Claire yang diterangi cahaya hangat. Tatapan itu begitu jujur.
“Lalu?” bisiknya.
“Sepuluh tahun lalu, saat ibuku meninggal… semuanya berubah,” ucap Claire dengan suara nyaris tenggelam. “Ayahku mengirim Jean kembali ke tempat asal keluarganya, di Afrika. Sejak saat itu… tak ada lagi kabar tentangnya.”
Ia menatap lurus ke depan, kosong namun sarat luka.
“Hidupku berubah. Bahkan… batinku juga. Aku merasa seperti kehilangan satu-satunya rumah.”
Liora menggeser duduknya pelan. Lalu tanpa banyak kata, ia mengambil tangan Claire yang tergenggam di pangkuan, memijatnya perlahan.
Beberapa detik kemudian, dengan suara lirih dan penuh ketulusan, Liora berkata, “Kalau begitu… izinkan aku mencarinya untuk Anda, Nona.”
Claire terkejut, menatap Liora seolah tak percaya.
Liora menunduk sedikit, menempelkan pipinya ke lutut Claire yang masih terlipat. “Jean, teman kecil Anda… orang yang membuat Anda merasa hidup dan aman… aku ingin membantu menemukannya. Bukan sebagai pelayan… tapi sebagai teman.”
Claire menatap wajah Liora dalam diam. Hatinya terasa penuh, begitu hangat dan tak terduga.
Akhirnya, ia mengangguk pelan. “Terima kasih, Liora…”
Liora tersenyum. “Serahkan padaku. Aku akan menemukan dia untuk Nona.”
Dan malam itu, benih kepercayaan tumbuh di antara dua hati yang berbeda dunia—tapi sama-sama terluka oleh masa lalu.
Dan sejak malam itu, Liora mulai bergerak.
Dengan diam-diam, ia menghubungi kenalan lamanya—seorang detektif bayaran yang pernah bekerja pada ayahnya, jauh sebelum ia hidup sebagai pelayan. Tak butuh waktu lama, pencarian membuahkan hasil.
Beberapa hari kemudian, di taman samping rumah kaca, Liora menghampiri Claire dengan selembar surat yang dilipat rapi di tangannya. Wajah gadis itu tampak berseri, meski ada kantung mata samar di bawah matanya.
“Jean ditemukan,” ucapnya perlahan.
Claire menatapnya dengan napas tertahan.
“Dia tinggal di kota tua, dekat perbatasan timur,” jelas Liora. “Awalnya dia tidak percaya... tapi setelah kuceritakan semua yang nona ceritakan, akhirnya sesuai rencana. Jean percaya."
Surat itu disodorkan perlahan. Aroma kertas tua menyapa seperti hantu dari masa lalu—hangat, getir, penuh kenangan.
Claire menerimanya dengan tangan gemetar, memeluknya erat seolah takut itu hanya mimpi.
“Dia menulis untuk Anda,” bisik Liora.
Beberapa saat, tak ada kata yang terucap. Hanya tatapan haru yang mengalir di antara dua perempuan berbeda dunia. Claire menatap pelayannya dengan mata yang mulai berkaca.
Liora tersenyum kecil, lalu berkata, “saya akan melakukan apapun untuk membahagiakan Nona. Ini bukan janji."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Claire merasa... ia tidak sendirian lagi.
Claire,
Kupikir aku sudah kehilanganmu.
Hari itu… saat aku tak mendapat kabar darimu setelah malam pelarian, aku tahu semuanya gagal. Tapi yang paling menghantui adalah… aku tak tahu apa yang terjadi padamu.
Tiga orangku—Orlan, Fazio, dan Gema—mereka tidak pernah kembali. Lalu kabar menyebar. Mereka ditemukan dalam kondisi tak layak disebut manusia. Dan aku tahu… Kairos menemukan mereka lebih dulu dariku.
Setiap malam sejak itu aku bertanya-tanya: apakah kau selamat? Apakah kau masih hidup? Atau… apakah aku sudah menjadi alasan kematianmu?
Claire, aku… minta maaf. Untuk segala luka yang mungkin kau terima karena rencanaku. Aku terlalu yakin bisa membawamu pergi seperti dulu. Padahal kita sudah bukan anak-anak yang bisa bersembunyi di loteng.
Dunia tempatmu hidup sekarang… jauh lebih kejam dari apa pun yang kubayangkan.
Liora—gadis yang mengirimkan suratmu—adalah satu cahaya kecil yang entah bagaimana sampai padaku. Dia datang diam-diam, dengan sepotong cerita tentang kita. Tentang masa kecil kita.
Aku hampir tidak percaya. Tapi tak ada orang asing yang tahu cerita itu… kecuali kamu. Dan aku.
Aku tak tahu apakah kau akan membalas surat ini. Aku tak tahu apakah Kairos sudah membaca surat ini duluan. Aku tak tahu apakah ini akan menjadi kata-kata terakhirku padamu.
Tapi ketahuilah, Claire… aku masih hidup.
Claire… aku tidak akan menghilang. Bahkan jika dunia mencoba menghapus jejakku darimu.
Jika kau masih ingin pergi… kita akan bicara dengan cara lain.
Jika kau masih ingin pergi… kita akan bicara dengan cara lain.
Jika kau hanya ingin tahu bahwa aku ada di luar sana—masih menunggumu, masih menyebut namamu dalam doa—maka biarlah surat ini cukup untuk malam ini.
Balas suratku, Claire, jika kau ingin kabur lagi.
Kali ini kita harus menyusunnya secara matang.
Jean.
***
Claire memandangi surat itu lama. Hening menyelimuti kamar, hanya suara detak jarum jam yang terdengar di dinding. Di tangan kanannya, surat dari Jean sedikit bergetar. Bukan karena dingin… tapi karena hatinya belum benar-benar tenang sejak membaca kalimat terakhir.
Balas suratku, Claire, jika kau ingin kabur lagi.
Kali ini kita harus menyusunnya secara matang.
Claire menggigit bibir bawahnya. Sebagian dari dirinya ingin menyobek surat itu, membuangnya ke dalam api perapian. Tapi sebagian lain—bagian yang tak pernah mati sejak malam pelarian gagal itu—menggenggam lebih erat.
Ia masih mengingat tatapan Kairos malam itu.
Kemarahan yang tidak diucapkan.
Janji balas dendam yang tak terselubung.
Dan Jean… Jean masih hidup. Menunggu. Mencari.
Pelan-pelan, Claire berdiri dan berjalan ke meja kecil di samping ranjang. Ia duduk, mengambil kertas dan pena, lalu menatapnya lama. Ragu. Penuh pertimbangan.
Namun jemarinya mulai menulis.
---
Jean,
Aku masih hidup. Masih ingin melihatmu. Masih ingin bertemu denganmu.
Dan ya… aku masih ingin pergi.
Malam-malam di sini terasa seperti sangkar emas. Aku hidup, tapi tidak bebas. Dan dunia tempatku berada saat ini… tidak bisa kudeskripsikan dengan satu kata.
Kau benar. Kali ini harus lebih matang. Lebih diam. Lebih tepat.
Aku tak tahu apakah aku akan selamat. Tapi jika kau bertanya apakah aku masih punya harapan… maka inilah jawabannya.
Ya. Aku akan mencobanya sekali lagi.
Claire.
---
Ia melipat kertas itu pelan, menyelipkannya ke dalam amplop kecil tanpa nama, lalu memanggil Liora dengan suara pelan.
Tak butuh waktu lama hingga gadis berkepang dua itu muncul, membawa selimut dan secangkir s**u hangat seperti biasa. Tapi Claire tak menoleh ke arah nampan. Ia hanya mengulurkan amplop itu dengan tangan gemetar.
“Liora,” bisiknya, “kirimkan ini untuk Jean… diam-diam. Tak seorang pun boleh tahu.”
Liora menerima amplop itu dengan penuh hormat. Tak banyak kata, hanya anggukan kecil… dan senyum yang mengandung janji.
Malam itu, saat jendela terbuka dan angin menggoyangkan tirai tipis di kamar Claire, dua hati di dua tempat yang berbeda kembali menyusun harapan untuk satu rencana yang baru.
Rencana pelarian kedua. Yang kali ini… tak boleh gagal.