Seminggu sesudah malam di ballroom, SUV hitam itu kembali berhenti di depan rumah bercat hijau muda di Cinere.
Pohon mangga di halaman sedang berbuah lebat. Bunga kertas di sepanjang teras bermekaran merah muda dan oranye. Dan kali ini, Randu tidak duduk lama di balik setir.
Dia turun lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk ibunya. Lies turun dengan kebaya encim warna biru langit, membawa bingkisan yang lebih besar dari terakhir kali. Lapis legit, buah-buahan, dan rantang susun tiga berisi rendang yang kali ini dimasak empat jam penuh, di bawah pengawasan langsung Sonja lewat panggilan video.
"Ndu." Lies menahan lengan putranya di depan pagar. "Kamu gugup?"
"Lebih gugup dari yang pertama, bu."
"Kenapa?"
Randu menatap rumah itu. Jendela di lantai dua, tempat dia tahu Sonja pernah berdiri di balik gorden dan menatapnya pergi.
"Karena yang pertama, aku gak tahu apa yang bisa aku hilangkan." Jawabnya pelan. "Sekarang aku tahu."
Lies meremas lengannya. "Itu bagus, Ndu. Orang yang tahu apa yang bisa hilang, biasanya menjaganya lebih baik."
***
Bapak Sonja yang membukakan pintu. Kali ini dia menjabat tangan Randu. Lama, dan erat, sambil menatap matanya lurus-lurus.
Ibu Sonja langsung memeluk Lies, seperti sahabat lama. Mas Sandhy berdiri di belakang, bersedekap, dengan wajah galak yang sama persis seperti dulu. Tapi kali ini sudut bibirnya berkedut, seperti menahan senyum.
Dan Sonja berdiri di ujung ruang tamu, di depan lemari kaca berisi piala-piala menyanyinya waktu SD. Dia memakai kebaya sederhana warna krem dan rok batik. Rambutnya disanggul rendah. Gelang perak berukir daun di pergelangan kirinya.
Randu berhenti melangkah.
"Mas, jangan bengong di pintu." Kata Sonja. "Masuk. Bapak sudah nunggu dari subuh."
"Bapak gak nunggu dari subuh." Protes bapaknya.
"Bapak bangun jam tiga, Pak. Terus mondar-mandir di teras." Ibu Sonja membocorkan, membuat semua orang tertawa. Ketegangan di ruangan itu pecah sedikit.
***
Mereka duduk di sofa rotan yang sama. Bapak Sonja di kursi berlengan, Mas Sandhy di sampingnya. Sonja duduk di samping ibunya. Randu dan Lies di seberang mereka.
Kali ini Randu tidak menghafal kalimat. Dia hanya bicara.
"Pak, Bu, Mas Sandhy." Katanya. "Beberapa bulan lalu saya duduk di sini dan berjanji akan menebus waktu yang terbuang. Lalu saya melanggar janji itu dengan cara paling buruk. Saya tidak datang hari ini untuk meminta Bapak dan Ibu melupakan itu. Saya tidak akan pernah melupakannya. Saya datang karena Sonja sendiri yang meminta saya datang. Dan saya ingin meminang putri Bapak lagi, kalau Bapak dan Ibu mengizinkan."
Bapak Sonja tidak langsung menjawab. Dia membetulkan kacamatanya, lalu menatap Randu lama.
"Bapak punya satu syarat." Katanya akhirnya.
"Saya dengar, Pak."
"Jujur." Bapak Sonja mencondongkan tubuh. "Tentang apa pun. Besar atau kecil. Soal kerjaan, soal uang, soal keluargamu, soal adikmu, soal ibumu yang sakit. Soal kamu yang sedang takut, atau sedang bingung, atau sedang salah. Apa pun yang terjadi, kamu bilang ke Sonja. Kamu gak pernah lagi memutuskan sendirian, lalu diam. Bapak gak minta kamu sempurna. Bapak minta kamu jujur. Bisa?"
Randu tidak langsung menjawab. Dia menoleh pada Sonja.
Sonja menatapnya balik. Tenang. Menunggu.
"Bisa, Pak." Kata Randu. "Dan kalau suatu hari saya lupa, saya minta Sonja mengingatkan. Saya minta Bapak juga."
"Bapak akan mengingatkan." Kata bapak Sonja. "Dengan cara bapak sendiri."
"Saya juga." Celetuk Mas Sandhy. "Dengan cara saya sendiri. Yang jauh lebih gak enak dari cara bapak."
Semua orang tertawa lagi.
***
Lies berdeham pelan. Dia menatap bapak dan ibu Sonja bergantian.
"Pak, Bu, saya juga mau bilang satu hal." Katanya. "Dulu saya ingin Sonja jadi menantu karena merasa berhutang nyawa. Sekarang saya tahu, itu cara yang salah untuk menginginkan seseorang. Hari ini saya datang bukan untuk membayar hutang. Saya datang karena Sonja sendiri yang memilih anak saya. Itu saja."
Ibu Sonja tersenyum dan menggenggam tangan Lies di atas meja.
Randu mengeluarkan kotak beludru dari saku kemejanya. Bukan yang biru tua. Kotak baru, warna krem, lebih kecil.
Sonja mengangkat alis.
"Aku beli yang baru." Kata Randu, langsung pada Sonja. "Yang lama masih kusimpan. Tapi aku gak tahu kamu mau yang mana. Jadi aku bawa dua-duanya, dan aku tanya kamu."
Dia mengeluarkan kotak biru tua dari saku yang lain, dan meletakkan keduanya di meja kecil di antara mereka.
Ruangan hening. Lies menahan napas. Ibu Sonja meremas tangan putrinya.
Sonja menatap dua kotak itu. Lalu dia tertawa kecil.
"Mas beneran nanya ya. Bahkan soal ini."
"Kamu yang bikin syaratnya."
"Yang baru, Mas." Sonja mengambil kotak krem itu. "Yang lama simpan aja. Buat pengingat. Kalau Mas suatu hari lupa syarat bapak, aku lempar lagi."
Mas Sandhy tertawa paling keras.
Randu membuka kotak krem itu. Di dalamnya, sebuah cincin emas putih tipis dengan ukiran daun kecil-kecil melingkar. Ukiran yang mirip dengan gelang perak di pergelangan kiri Sonja.
Sonja menatap cincin itu, lalu menatap gelangnya sendiri, lalu menatap Randu.
"Mas tahu dari mana?"
"Aku tanya Mas Sandhy, toko peraknya di mana. Terus aku minta ukirannya dibikin sama."
Sonja menoleh pada Mas Sandhy dengan mata membulat. Mas Sandhy pura-pura sibuk menatap langit-langit.
"Dek, jangan GR. Dia maksa. Mas cuma kasih alamat."
Randu tidak memasangkan cincin itu. Dia hanya menyodorkan kotaknya, terbuka, dan menunggu.
"Sonja." Katanya pelan. "Kamu mau menikah denganku?"
Dulu, di ruang tamu yang sama, tangan Sonja gemetar saat menerima cincin. Hari itu dia gugup, bahagia, dan tidak percaya. Hari itu dia gadis yang baru pertama kali dilihat.
Hari ini, dia mengulurkan tangan kirinya. Tangan dengan gelang perak dan bekas luka yang tersembunyi di bawahnya. Tangan yang dulu terbalut perban putih tebal di brankar rumah sakit.
Tangan itu tidak gemetar sama sekali.
"Aku mau, Mas." Katanya jelas, di depan bapak, ibu, Mas Sandhy, dan Lies. "Aku mau menikah denganmu."
Randu memasangkan cincin itu di jari manisnya. Pas.
Lies menangis. Ibu Sonja menangis. Bapak Sonja menyeka kacamatanya diam-diam. Dan Mas Sandhy, yang galak, yang sejak tadi pura-pura menatap langit-langit, ternyata juga menyeka sudut matanya dengan punggung tangan.
"Kelilipan." Katanya, pada siapa pun yang menoleh.