Tiga bulan berteman ternyata bisa sangat menyenangkan.
Mereka makan siang bersama setiap Selasa dan Kamis di food court lantai teratas, sesuai jadwal yang Sonja tetapkan sendiri. Kotak bekal kucing kembali bolak-balik, tapi kali ini dua arah. Randu ternyata bisa masak, dan nasi goreng kampungnya membuat Sonja harus mengakui kalah, walaupun cuma dalam hati.
Mereka bertengkar soal hal-hal kecil. Bubur diaduk atau tidak diaduk. Lagu Dewa 19 era Ari Lasso atau era Once. Kucing atau anjing. Randu kalah di ketiganya, karena Sonja curang dengan menyeret Mya sebagai juri.
Dan setiap kali Randu harus memutuskan sesuatu yang menyangkut mereka berdua, sekecil apa pun, dia bertanya. Mau makan di mana? Boleh aku jemput? Kamu nyaman kalau Daniel ikut? Pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat Sonja geli sendiri.
"Mas, aku cuma minta Mas gak mutusin sendiri soal hal besar. Kalau mau beli es teh, Mas gak usah nanya aku manis atau tawar."
"Kamu sukanya less sugar."
"Ya itu Mas udah tahu. Ngapain nanya?"
"Biar aku yakin aku gak salah lagi."
Sonja tertawa. Lalu diam-diam, dia menyimpan kalimat itu di hatinya.
***
Ulang tahun PT Sindhu Sejati yang ke dua puluh lima dirayakan di ballroom sebuah hotel di Kuningan, Jumat malam. Mya yang mengurus semuanya, dari dekorasi sampai daftar tamu. Karena Mya, perusahaan Daniel ikut diundang sebagai mitra. Karena Mya juga, Randu duduk di meja nomor tujuh, tepat di depan panggung.
"Lu sengaja ya." Kata Randu pada Mya waktu registrasi.
"Sengaja apaan? Meja tujuh itu nomor keberuntungan." Mya menyeringai. "Duduk yang manis, Ndu. Malam ini ada pertunjukan spesial."
Daniel dan Edel, yang baru menikah bulan lalu, duduk di meja yang sama. Edel langsung menyikut Randu begitu lampu ballroom diredupkan.
"Kamu tahu gak, malam ini ada apa?"
"Gak tahu. Mya gak mau bilang."
"Hmm." Edel tersenyum penuh arti. "Kamu bawa gitarmu kan? Yang Mya suruh taruh di belakang panggung tadi sore?"
Randu menoleh cepat. "Kok kamu tahu?"
Edel hanya mengangkat bahu, lalu pura-pura sibuk dengan menu makan malam.
***
Sesudah sambutan direktur utama, sesudah potong tumpeng, sesudah pembagian penghargaan karyawan teladan, pembawa acara mengumumkan penampilan dari salah satu karyawan bagian accounting.
Ballroom riuh. Beberapa orang bersiul.
Sonja berjalan ke tengah panggung.
Dia memakai dress hijau zaitun yang dia pakai di lamaran Daniel. Rambutnya dibiarkan tergerai, bergelombang di ujung. Gelang perak berukir daun di pergelangan kirinya berkilau ditimpa lampu sorot. Dia berdiri di depan mikrofon dengan tangan yang gemetar sedikit. Lalu dia mencari satu wajah di meja nomor tujuh.
Dan dia menemukannya.
Randu menatapnya dengan mulut setengah terbuka.
Duuh, Mas. Mukanya gitu banget. Kayak lihat hantu.
Musik mengalun dari pemain keyboard di sudut panggung. Intro yang dikenal Randu. Lagu yang pernah tidak sengaja diputar radio, di dalam mobilnya, di jalanan Jakarta yang tersendat, ketika seorang gadis tinggi yang canggung ikut bersenandung pelan di kursi penumpang.
Intuisi.
Sonja mulai menyanyi.
Suaranya bergetar di bait pertama. Lalu pelan-pelan menjadi stabil. Lalu jernih, merdu, memenuhi ballroom itu sampai ke sudut-sudut paling belakang. Tamu-tamu yang tadi masih mengobrol mendadak diam. Pelayan yang membawa nampan berhenti di tempat.
Dan sepanjang lagu itu, Sonja tidak melepaskan pandangannya dari meja nomor tujuh.
Intuisiku slalu mengarah kepadamu
Tapi tak jua, tapi tak jua
Tapi tak jua kau hiraukan aku...
Di bait itu, dia tersenyum. Senyum dengan gigi gingsul yang terlihat jelas di bawah lampu sorot. Senyum yang menantang. Senyum yang menggoda.
Masih mau pura-pura gak hirau, Mas?
Randu berdiri.
Dia tidak tahu kapan kakinya bergerak. Seperti waktu itu, ke Terminal 3. Seperti waktu itu, ke sudut foto di lamaran Daniel. Kakinya jalan sendiri. Tapi kali ini dia tahu persis ke mana dia pergi, dan kenapa.
Dia berjalan ke belakang panggung. Edel bertepuk tangan pelan. Daniel bersiul. Dan Mya, yang berdiri di samping panggung dengan clipboard di tangan, menyerahkan gitar akustik itu padanya dengan wajah paling puas sedunia.
"Telat dua bait, Ndu." Bisiknya.
"Lu gak bilang gue harus main."
"Gue gak nyuruh. Gue cuma naruh gitar." Mya mendorongnya naik tangga panggung. "Sisanya terserah lu."
Randu naik ke panggung. Penonton bersorak. Seseorang meneriakkan, cie Pak Randu, dan Randu tahu itu suara Gilang, yang entah bagaimana ikut diundang.
Sonja menoleh, masih menyanyi. Matanya melebar sedikit melihat Randu duduk di kursi tinggi di sampingnya dengan gitar di pangkuan. Tapi dia tidak berhenti. Dia hanya tersenyum lebih lebar.
Randu memetik gitar. Pelan, mengikuti keyboard, lalu mengambil alih. Petikannya tidak sempurna. Di beberapa bagian dia salah kunci, karena terlalu sibuk menatap perempuan di depannya. Tapi tidak ada yang peduli.
Mereka menyelesaikan lagu itu bersama. Sonja bernyanyi, Randu bermain gitar. Seperti yang dulu Randu usulkan di mobil, setengah bercanda, kapan-kapan kita bisa nyanyi bareng ya, kamu yang vokalis aku yang main gitar.
Kapan-kapan itu ternyata malam ini.
Nada terakhir menghilang. Hening sedetik.
Lalu ballroom itu meledak.
Tepuk tangan. Sorakan. Siulan. Orang-orang berdiri dari kursi mereka. Daniel memukul-mukul meja. Edel menangis. Mya melompat-lompat di samping panggung, menjatuhkan clipboard-nya.
Di tengah semua keriuhan itu, Sonja menoleh pada Randu, masih memegang mikrofon. Pipinya merah. Matanya berkaca-kaca. Dia mendekat, dan berbisik, cukup pelan supaya hanya Randu yang mendengar.
"Mas."
"Hmm?"
"Cincinnya masih disimpan?"
Randu menatapnya. Jari-jarinya membeku di senar gitar.
"Masih." Bisiknya.
"Kalau gitu," Sonja tersenyum, dengan lesung pipi paling dalam yang pernah Randu lihat, "ajak Tante Lies ke Cinere. Bilang bapak, Mas mau ngomong."
"Kamu yakin?"
"Aku yang mutusin, Mas. Kan itu syaratnya." Sonja menurunkan mikrofon, lalu membungkuk memberi hormat ke penonton. Sebelum turun panggung, dia menoleh sekali lagi dan berbisik.
"Tantangan Mya dulu berhenti di hari kedua puluh empat, Mas. Malam ini aku tamatin."
"Tantangan apa sih sebenarnya?"
Sonja hanya tertawa, dan turun panggung meninggalkannya dengan gitar di pangkuan dan wajah semerah tomat.