Pagi hari akad, langit Cinere mendung sejak subuh. Jam tujuh, gerimis mulai turun.
"Ya Allah, kok gerimis sih." Ibu Sonja mondar-mandir di teras, menatap langit dengan cemas. Tenda putih sudah terpasang di halaman, di bawah pohon mangga, dengan kursi-kursi berpita hijau zaitun dan pelaminan kecil berhias melati dan mawar putih. "Nanti tamunya basah. Nanti riasan Sonja luntur."
"Gak papa, bu." Sonja tersenyum dari kursi rias di kamarnya, tempat perias sedang memasang untaian melati di sanggulnya. "Aku suka gerimis. Semua yang penting di hidupku kejadian waktu gerimis."
Mya, yang sedang memotret dari sudut kamar, menurunkan kameranya. Dia tahu maksud sepupunya. Hari hujan, payung polkadot, sweater biru dongker. Terminal 3. Dan juga malam itu, gerimis, ojek, tas yang basah.
Dan sekarang ini.
"Neng." Kata Mya. Suaranya bergetar. "Lu cantik banget."
"Kebaya ini tuh, Mya. Masih sempit di pinggang."
"Biarin. Biar lu inget napas pas Randu ngucapin qobiltu."
Sonja tertawa. Kebaya brokat putih gading dengan payet halus itu, kebaya yang dulu dia coba di butik di Tebet, yang sempat tersimpan di lemari ibunya selama berbulan-bulan, akhirnya dia pakai juga. Pemilik butik bahkan datang sendiri ke Cinere untuk mengecilkan bagian pinggangnya, karena Sonja menjadi lebih kurus sejak fitting terakhir.
"Mya." Panggil Sonja pelan.
"Hmm?"
"Makasih ya. Buat tantangan tiga puluh hari itu. Buat semuanya. Buat malam itu."
Mya meletakkan kamera. Dia berjalan ke kursi rias dan memeluk Sonja dari belakang, hati-hati supaya tidak merusak sanggul.
"Gak usah bilang makasih." Bisiknya. "Lu cukup bahagia aja. Itu udah bayaran paling mahal buat gue."
***
Jam sembilan, akad dimulai.
Tamu-tamu duduk di bawah tenda, sementara gerimis menetes pelan di atas kain putih. Lies duduk di barisan depan dengan kebaya encim biru dan kerudung putih, tidak berhenti menyeka mata sejak pagi. Daniel dan Edel di sebelahnya, Edel sudah menangis bahkan sebelum acara dimulai. Gilang dan beberapa staf lantai delapan duduk di barisan belakang, bersama Mbak Rina yang membawa sebungkus martabak manis sebagai hadiah tambahan.
Bintang dan Vania datang dari Palembang dua hari sebelumnya. Mereka duduk di barisan kedua. Vania menggendong bayi laki-laki berumur dua bulan yang tidur pulas di balik selendang batik. Namanya Langit. Bintang yang memilih. Supaya dia tahu, katanya pada Lies, bahwa tempat bintang ada di langit, dan dia gak akan ke mana-mana.
Lies, untuk pertama kalinya, menggendong cucu di acara keluarga. Sejak pagi bayi itu tidak lepas dari pelukannya.
Randu duduk di depan penghulu dengan beskap putih dan blangkon. Bapak Sonja duduk di hadapannya, sebagai wali. Tangan mereka berjabat di atas meja kecil berhias kain putih.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Randu Alfaresi bin almarhum..." Suara bapak Sonja bergetar. Dia berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan. "...dengan putri saya, Sonja Januar, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin emas, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Sonja Januar binti..." Suara Randu lantang. Tegas. Tanpa jeda. Sekali ucap. "...dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Bagaimana, saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Di dalam rumah, di balik pintu yang terbuka sedikit, Sonja mendengar kata itu. Sah. Dan air matanya jatuh, satu tetes, ke punggung tangannya yang memegang sesuatu.
Sesudah doa, sambil para tamu menyalami Lies, ponsel Randu bergetar di saku beskapnya. Dia sempat melirik. Sebuah pesan pendek dari nomor berkode negara plus enam satu.
Selamat ya, Ndu. Salam buat Sonja. Semoga kalian bahagia.
Randu tersenyum kecil. Dia membalas dengan dua kata, terima kasih, lalu menyimpan ponsel itu lagi dan tidak memikirkannya sesudahnya. Kalimat yang dulu dia bisikkan di Terminal 3 akhirnya kembali padanya, dan kali ini dia tidak lagi menunggu apa pun dari arah sana.
***
Ketika Sonja keluar dari rumah dan berjalan menuju pelaminan, diapit ibunya dan Mya, gerimis masih turun. Tamu-tamu menoleh. Dan beberapa orang tertawa kecil, terheran-heran.
Karena pengantin perempuan itu memegang payung.
Payung lipat kecil bermotif polkadot hijau. Sedikit penyok di salah satu jari-jarinya. Hanya muat satu orang.
Randu berdiri di depan pelaminan, menunggu. Dia melihat payung itu. Dan untuk sesaat, dia lupa bahwa ada seratus lebih tamu yang menonton. Dia hanya melihat seorang gadis tinggi di bawah hujan, menyodorkan payung pada lelaki asing yang gelisah.
Sonja berhenti di depannya.
"Mas." Katanya, mengangkat payung itu sedikit lebih tinggi. "Payungnya cuma muat satu orang."
Randu tertawa, dengan mata yang basah.
"Terus gimana?"
"Ya kita sepayung berdua." Sonja tersenyum, dengan gingsul dan lesung pipi paling dalam. "Sedikit basah deh. Tapi lumayanlah."
Kalimat Randu sendiri, di hari hujan itu, berbulan-bulan lalu. Dikembalikan padanya, persis.
Randu melangkah masuk ke bawah payung kecil itu. Bahu kanannya langsung basah. Bahu kiri Sonja juga. Tamu-tamu bersorak. Daniel bersiul paling keras. Mya memotret dengan tangan gemetar.
Lalu Randu menunduk, dan mencium kening istrinya. Lama.
Di bawah payung polkadot hijau, di tengah gerimis, dia berbisik pelan, cukup pelan supaya hanya Sonja yang mendengar.
"Aku janji, aku gak akan pernah menyakitimu lagi. Dan kalau aku takut, aku cerita. Kalau aku bingung, aku tanya. Kalau aku salah, kamu yang pertama tahu."
Sonja menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Matanya basah, tapi bibirnya tersenyum jahil.
"Mas tahu gak, tantangan Mya dulu itu apa?"
Randu mengernyit. "Akhirnya kamu mau cerita?"
"Tiga puluh hari." Bisik Sonja. "Buat godain Mas. Sampai Mas lihat aku."
Randu terdiam. Lalu dia tertawa, tertawa lepas di bawah payung kecil itu, sampai bahunya yang basah berguncang.
"Berhasil?"
"Mas yang jawab."
"Berhasil." Randu menyentuhkan dahinya ke dahi Sonja. "Sangat berhasil. Terus sekarang, sesudah tiga puluh hari?"
Sonja tersenyum. Senyum yang dulu dia sembunyikan di pojok lift. Senyum gadis antara ada dan tiada, yang akhirnya memutuskan untuk ada.
"Sekarang sisanya, Mas." Bisiknya. "Seumur hidup. Untuk menggodamu."
Di atas mereka, gerimis terus turun, mengetuk-ngetuk payung polkadot hijau itu dengan pelan, seperti ribuan jari yang bertepuk tangan.
TAMAT