Hujan turun deras sejak jam tiga sore. Bukan gerimis, tapi hujan yang sungguh-sungguh, yang membuat jendela-jendela gedung berembun dan jalanan di bawah tergenang. Dari lantai dua puluh tujuh, Jakarta tampak kabur, seperti lukisan cat air yang kena tumpahan.
Sonja menatap hujan itu dari mejanya. Di laci bawah, terlipat rapi, ada dua benda yang sudah dia bawa sejak pagi. Dia sudah menimbangnya tiga minggu. Sejak hari Jumat di coffee shop. Sejak Bintang bilang, bahkan beli galon air dia nanya ke ibu.
Jam setengah lima, dia membuka ponselnya. Percakapan dengan Randu berhenti di pesan sebelum taman di Cinere. Datang ke Cinere hari Minggu. Jam empat sore. Lalu balasan Randu, aku datang, terima kasih. Sesudah itu kosong. Randu menepati janjinya. Tidak satu pesan pun.
Sonja mengetik.
Pak, saya turun ke lobi jam lima. Kalau Bapak masih di kantor dan tidak keberatan, saya mau bicara sebentar.
Kirim.
Balasan datang dalam sepuluh detik. Seperti seseorang yang sudah lama menatap layar yang sama, menunggu.
Aku di kantor. Aku turun jam lima. Terima kasih, Sonja.
***
Lobi gedung jam lima sore dipenuhi karyawan yang tertahan hujan. Mereka berdiri bergerombol di dekat pintu putar, menatap langit dengan wajah kesal, menunggu reda. Bau sepatu basah dan payung yang diketuk-ketuk ke lantai.
Sonja keluar dari lift dengan dua benda di tangannya.
Sebuah payung lipat bermotif polkadot hijau, ukuran kecil, hanya muat satu orang.
Dan sebuah sweater rajut biru dongker, terlipat rapi. Sweater yang tidak pernah dia kembalikan, sejak hari hujan berbulan-bulan yang lalu, waktu seorang lelaki tampan meminjamkannya di parkiran samping gedung supaya kemejanya yang basah tidak menarik mata lelaki nakal.
Randu sudah menunggu di dekat pilar marmer, jauh dari kerumunan. Dia memakai kemeja biru muda, lengan digulung sampai siku. Wajahnya lebih tirus dari terakhir kali Sonja melihatnya di lift. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Tapi dia berdiri tegak.
Matanya langsung jatuh ke payung polkadot itu. Lalu ke sweater biru di tangan Sonja. Dan Sonja melihat jakunnya naik turun.
"Sonja."
"Pak."
Mereka berdiri berhadapan, dua langkah jauhnya. Di luar, hujan mengguyur.
"Saya mau bilang terima kasih." Kata Sonja. "Soal rapat di lantai delapan. Mbak Rina yang bawain martabak ke meja saya. Saya tahu dari Mya. Bapak gak harus melakukan itu."
"Harus." Jawab Randu. "Aku yang bikin mereka salah paham. Aku yang harus membetulkannya."
Sonja mengangguk pelan. Lalu dia mengulurkan sweater biru itu.
"Ini punya Bapak. Sudah terlalu lama di saya."
Randu menatap sweater itu. Dia tidak langsung mengambilnya.
"Sonja, sebelum aku terima itu, boleh aku ngomong satu hal? Cuma satu. Habis itu aku diam."
"Silakan, Pak."
Randu menarik napas panjang.
"Aku mencintaimu." Katanya. Pelan, tapi jelas, di tengah lobi yang ramai. "Bukan karena hutang nyawa. Bukan karena ibu ingin kamu jadi menantu. Bukan karena aku merasa bersalah. Aku mencintaimu karena kamu yang menyodorkan payung ini ke orang asing yang gelisah di bawah hujan. Karena kamu bikin rendang empat jam dan nulis jangan dikembalikan kalau belum habis. Karena kamu bohongin aku soal dasi miring cuma buat lihat aku panik. Karena kamu berdiri di taman Cinere dan bilang semuanya ke mukaku, padahal kamu gemetar. Aku mencintaimu karena kamu Sonja."
Suara hujan di luar terasa sangat jauh.
Sonja menatap lelaki di depannya. Dulu, kalimat seperti itu akan membuatnya pingsan bahagia. Akan membuatnya berguling-guling di karpet kontrakan sambil menjerit. Dulu, dia akan langsung berlari ke pelukan lelaki itu.
Tapi dia bukan gadis yang dulu. Dia gadis yang pernah tergeletak di lantai kamar mandi. Gadis yang memakai gelang perak di pergelangan kiri.
"Saya dengar, Pak." Bisiknya. "Dan saya percaya Bapak bersungguh-sungguh. Tapi saya belum bisa percaya lagi. Saya belum bisa percaya bahwa kalau besok ada masalah besar lagi, Bapak gak akan mutusin semuanya sendiri lagi. Saya takut, Pak."
Dia menyodorkan sweater itu lagi.
Randu menatapnya lama. Lalu dia mengangguk.
"Aku ngerti." Katanya. "Kamu berhak takut. Aku yang bikin kamu takut."
Dia mengulurkan tangan. Tapi bukan untuk mengambil sweater itu. Dia hanya menyentuhnya, ujung jari di atas rajutan biru, sebentar.
"Simpan saja, kalau kamu mau." Katanya. "Kalau gak mau, kembalikan. Dua-duanya aku terima. Tapi kalau kamu mau menyimpannya, simpan. Itu sudah punyamu sejak hari hujan itu."
Sonja menatap sweater di tangannya. Lalu, perlahan, dia menariknya kembali ke dadanya.
Dia lalu membuka payung polkadot hijau itu di depan pintu putar. Payung kecil, bergagang plastik, yang sedikit penyok di salah satu jari-jarinya.
"Payung ini cuma muat satu orang, Pak." Katanya, tanpa menoleh. "Jadi hari ini saya pulang duluan."
Lalu dia melangkah keluar, menembus hujan menuju ojek yang sudah menunggu, meninggalkan Randu yang berdiri di dekat pilar dan, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, tertawa kecil sendirian.
***
Delapan hari kemudian, food court lantai teratas. Meja dekat jendela. Hari itu cerah, langit biru tanpa awan.
Kali ini Sonja yang mengajak. Kali ini Sonja yang datang lebih dulu, dengan dua gelas es teh manis sudah di meja.
"Saya punya syarat, Pak." Katanya begitu Randu duduk. Langsung. Tanpa basa-basi, seperti yang dia latih di depan cermin semalam.
Randu menegakkan duduk. "Aku dengar."
"Satu. Bapak gak boleh lagi memutuskan apa pun tentang kita berdua sendirian. Apa pun. Mau itu soal besar, soal kecil, soal keluarga, soal Bintang, soal ibu. Kalau menyangkut kita, Bapak tanya saya. Kita putuskan berdua."
"Iya."
"Dua. Kita mulai dari awal. Sebagai teman. Gak ada pacaran. Gak ada lamaran. Gak ada janji. Teman. Makan siang. Ngobrol. Pelan-pelan. Sampai saya bisa percaya lagi. Dan saya gak tahu itu berapa lama."
Randu tidak ragu sedikit pun. "Iya. Aku terima."
Dia merogoh saku kemejanya. Sonja melihat kotak beludru biru tua yang dia kenal itu. Jantungnya mencelos.
Tapi Randu tidak membukanya. Dia hanya meletakkannya sebentar di atas meja, di antara mereka, lalu memasukkannya kembali ke saku.
"Cincin ini aku simpan." Katanya. "Gak akan kusodorkan lagi. Gak akan kutanyakan. Kalau suatu hari kamu sendiri yang siap, kamu yang bilang. Kalau gak pernah, ya aku simpan selamanya."
Sonja menatapnya. Lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak siang yang kejam di meja ini dulu, dia tersenyum kepada Randu. Senyum dengan gingsul dan lesung pipi yang dalam.
"Oke." Katanya. "Kalau gitu, teman. Mas traktir saya soto ya."
Randu mengerjap.
Mas.
Sonja menyeruput es tehnya dengan wajah polos, pura-pura tidak menyadari apa yang baru saja dia ucapkan. Tapi pipinya memerah sampai ke telinga.