Pesan itu datang lewat Mya, hari Rabu.
"Vania nanya, boleh gak dia ketemu lu. Sebentar aja. Di kantor, jam makan siang, di tempat yang rame biar lu nyaman. Bintang ikut. Cuti panjang Bintang habis minggu ini, dan Sabtu nanti mereka berdua berangkat ke Palembang." Mya menatap Sonja dari seberang meja makan kontrakan. Sudah seminggu Sonja kembali tinggal di kontrakan, walaupun setiap akhir pekan dia pulang ke Cinere. "Lu boleh nolak, neng. Gue bilangin ke mereka."
Sonja memutar-mutar sendok di mangkuk sayur sopnya. Gelang perak di pergelangan kirinya berdenting pelan menyentuh pinggir mangkuk.
"Coffee shop lantai satu." Katanya akhirnya. "Jumat. Jam dua belas. Kamu temani aku ya, Mya."
***
Coffee shop lantai satu ramai seperti biasa di jam makan siang. Bau kopi, roti panggang, dan suara mesin espresso yang mendesis. Sonja duduk di meja dekat jendela. Mya duduk di meja sebelahnya, pura-pura sibuk dengan laptop, padahal matanya tidak lepas dari pintu.
Vania datang lebih dulu. Lalu Bintang di belakangnya, membawakan tas Vania.
Sonja hampir tidak mengenali Vania. Tidak ada dress merah. Tidak ada tas branded. Tidak ada gincu merah menyala. Vania memakai gamis longgar warna biru muda dan kerudung putih. Perutnya sudah membulat jelas di balik kain. Wajahnya lebih berisi, tapi matanya tampak lelah.
Bintang juga berbeda. Rambutnya dipotong pendek dan rapi. Kemejanya disetrika. Dia berjalan di samping Vania dengan tangan siaga, seperti takut istrinya tersandung.
Mereka berhenti di depan meja Sonja.
"Mbak Sonja." Suara Vania pelan. "Makasih sudah mau ketemu."
"Duduk, Van. Bintang juga."
Mereka duduk. Hening yang canggung menggantung sebentar. Bintang menatap meja. Vania meremas-remas ujung kerudungnya.
Lalu Vania mengangkat wajahnya, menatap Sonja lurus.
"Mbak, aku mau minta maaf. Soal di lobi waktu itu." Katanya, dengan suara yang bergetar tapi jelas. "Aku sebut Mbak perebut. Di depan orang banyak. Padahal Mbak gak merebut apa-apa. Aku yang mau merebut. Aku yang ngancem Mas Randu supaya dia mutusin Mbak. Aku tahu dia tunangan Mbak, aku tahu kalian mau nikah, dan aku tetap ngelakuin itu. Karena aku takut, dan karena aku iri."
Sonja tidak berkata apa-apa. Dia mendengarkan.
"Aku gak minta Mbak maafin aku." Lanjut Vania, air matanya mulai menggenang. "Aku cuma mau Mbak tahu, semua yang aku bilang di lobi itu bohong. Mbak gak salah apa-apa. Yang salah aku. Dan waktu aku dengar Mbak... waktu aku dengar Mbak masuk rumah sakit..." Dia menunduk, tidak sanggup melanjutkan.
Bintang menggenggam tangan istrinya di atas meja. Lalu dia yang mengangkat wajah.
"Sonja." Panggilnya. Suaranya serak. "Aku juga mau ngomong."
"Iya, Bintang."
"Dulu waktu aku ditusuk, kamu yang nolongin aku. Kamu nangkis pisau, tanganmu dijahit. Kamu nungguin aku semalaman, padahal kita bukan siapa-siapa. Kamu bilang, Bintang jangan mati di sini, ntar gak ada yang datang ke pemakamanmu." Bintang tertawa getir. "Dan aku balas apa? Aku lari ke Palembang, ninggalin masalahku buat Mas Randu, dan Mas Randu ninggalin lukanya buat kamu. Semua ujungnya ke kamu, Sonja. Kamu yang paling gak salah, dan kamu yang paling sakit."
Matanya basah.
"Makasih, Sonja. Makasih sudah nyelametin aku dulu. Dan maaf. Maaf banget. Aku gak tahu cara membayarnya. Tapi aku janji, aku gak akan lari lagi. Aku bakal jadi bapak yang ada. Buat anak ini." Dia menyentuh perut Vania dengan lembut. "Supaya dia gak perlu punya om yang terus-terusan jadi tameng bapaknya."
Sonja menatap mereka berdua. Vania yang menangis dalam diam. Bintang yang memegang tangan istrinya erat-erat.
Dia teringat Bintang di kampus, tengil dan usil, yang bilang kamu pasti jadi gadis yang kuincar kalau mau dandan. Bintang di rumah sakit, dengan kepala di pangkuannya, berkata jangan menangis, nanti cantikmu hilang. Dia teringat Vania di kamar ranap lantai lima, mencium pipi Bintang tanpa malu, dan menyapanya, loh Sonja, kok di sini?
Dua orang yang dia kenal. Dua orang yang, dengan cara masing-masing, ikut menjadi sebab dari malam terburuk dalam hidupnya.
Dan dua orang yang sekarang duduk di depannya, meminta maaf dengan jujur, tanpa alasan, tanpa pembelaan.
"Van." Kata Sonja pelan. "Kamu udah periksa kandungan bulan ini?"
Vania mengerjap, terkejut dengan pertanyaan itu. "Su... sudah, Mbak. Minggu lalu. Kata dokter sehat. Laki-laki."
"Alhamdulillah." Sonja tersenyum. Senyum kecil, tapi tulus. "Jaga dia baik-baik ya. Jaga dirimu juga."
Vania menatapnya, tidak mengerti.
"Aku maafin kamu, Van." Kata Sonja. "Bukan karena kamu sudah minta maaf. Karena aku capek bawa marah ini ke mana-mana. Berat. Aku mau menaruhnya di sini, di meja ini, dan pulang tanpa itu."
Vania menutup wajah dengan dua tangan dan menangis. Bintang memeluk bahunya.
"Kamu juga, Bintang." Sonja menoleh padanya. "Aku maafin kamu. Tapi kamu harus tepati janji itu. Jangan lari lagi. Kalau kamu lari, aku sendiri yang terbang ke Palembang dan nyeret kamu pulang."
Bintang tertawa, sambil menangis. "Itu kalimatnya Mbak Mya."
"Aku belajar dari ahlinya." Sonja melirik meja sebelah. Mya pura-pura tidak mendengar, tapi bahunya bergetar menahan tawa.
***
Mereka berpamitan setengah jam kemudian. Di depan pintu coffee shop, Vania memeluk Sonja dengan canggung, hati-hati supaya perutnya tidak terlalu menekan. Bintang tidak memeluk. Dia hanya menjabat tangan Sonja, lama, dengan dua tangan.
"Mas Randu..." Bintang ragu sebentar. "Mas Randu gak nitip apa-apa. Dia bilang dia gak akan nitip apa-apa, kecuali kamu yang minta. Aku cuma mau bilang, dia sekarang beda, Sonja. Dia cerita ke ibu soal semuanya, sekarang. Dia nanya pendapat ibu sebelum mutusin apa pun. Bahkan beli galon air dia nanya ke ibu."
Sonja tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Sesudah mereka pergi, Sonja berdiri lama di depan jendela coffee shop, memandangi lobi gedung. Pintu putar. Lantai marmer. Tempat dia dulu dihina di depan banyak orang.
Hari ini, di lobi yang sama, dia berdiri tegak. Dan beban yang selama ini menekan dadanya terasa sedikit lebih ringan.