"Ibu mau ke Cinere, Ndu."
Randu yang sedang mengikat tali sepatu di undakan teras berhenti. Hari Sabtu pagi. Ibunya berdiri di ambang pintu, sudah rapi dengan gamis cokelat dan kerudung krem. Di tangannya, sebuah rantang susun tiga.
"Bu, aku sudah janji gak akan ke sana kecuali Sonja minta."
"Ibu gak minta kamu ikut." Lies mengangkat dagunya. "Ibu sudah minta tolong Mya. Mya yang antar. Kamu di rumah saja. Siram anggrek ibu."
"Ibu mau ngapain ke sana?"
Lies menatap putranya lama. Lalu dia tersenyum, senyum yang sedih tapi tegas.
"Ibu mau melakukan yang seharusnya ibu lakukan dari dulu, Ndu. Waktu ibu tahu anak ibu menyakiti anak orang."
***
Ibu Sonja yang membuka pintu. Dia terkejut melihat Lies berdiri di teras dengan rantang, bersama Mya. Senyumnya yang ramah tertahan di tengah jalan. Tapi dia tetap mempersilakan masuk. Orang tua Sonja tidak pernah diajari menutup pintu pada tamu, siapa pun tamunya.
Bapak Sonja keluar dari kamar sesudah dipanggil istrinya. Dia berhenti di ruang tamu, menatap Lies. Wajahnya tidak bisa dibaca.
Di lantai dua, Sonja mendengar suara-suara itu. Dia turun pelan-pelan, sampai di anak tangga terakhir, lalu berhenti di balik pintu dapur yang terbuka sedikit. Dari celah pintu itu, dia bisa melihat ruang tamu dengan sofa rotan. Ruang tamu yang sama tempat Randu dulu berdiri dan memasangkan cincin di jarinya.
Mya melihatnya, tapi tidak berkata apa-apa. Mya hanya menggeleng pelan, tanda dia tidak akan memberi tahu siapa pun.
"Silakan duduk, Bu Lies." Kata bapak Sonja.
Tapi Lies tidak duduk.
Dia meletakkan rantang di meja kecil. Lalu, di depan semua orang, perempuan paruh baya itu menurunkan tubuhnya perlahan. Lututnya menyentuh lantai keramik. Dia bersimpuh di depan bapak dan ibu Sonja, dengan kepala menunduk dalam-dalam dan dua tangan terlipat di pangkuan.
"Bu Lies!" Ibu Sonja terpekik, langsung bergerak hendak membangunkannya. "Jangan, Bu! Jangan begini!"
"Biarkan saya, Bu. Tolong." Suara Lies bergetar. "Biarkan saya bicara dulu."
Ibu Sonja berhenti. Bapak Sonja tidak bergerak.
"Saya datang ke sini sebagai ibu dari Randu." Kata Lies pelan. "Saya mau minta maaf atas apa yang dilakukan anak saya pada putri Bapak dan Ibu. Anak saya yang memutuskan sendiri, tanpa bertanya, tanpa jujur. Anak saya yang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan siapa pun pada perempuan mana pun. Anak saya yang membuat putri Bapak dan Ibu hampir..." Suaranya pecah. Dia menelan ludah, berusaha melanjutkan. "Hampir pergi."
Di balik pintu dapur, Sonja menutup mulut dengan tangan.
"Dan saya juga minta maaf atas kesalahan saya sendiri." Lanjut Lies, air matanya menetes ke lantai. "Saya yang membesarkan Randu jadi lelaki yang menanggung semuanya sendirian. Saya yang biarkan dia jadi tameng adiknya sejak kecil. Saya yang tidak pernah mengajarinya bahwa meminta tolong itu bukan kelemahan. Kalau Bapak dan Ibu mau marah, marahlah pada saya juga. Saya pantas menerimanya."
"Dan saya..." Lies mengangkat wajahnya, menatap bapak Sonja. "Saya dulu datang ke kontrakan Sonja, terang-terangan bilang ingin dia jadi menantu karena hutang nyawa. Di depan dia. Tanpa bertanya dia mau atau tidak. Saya juga memaksa, Pak. Dengan cara saya sendiri. Maafkan saya."
Ruang tamu itu sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin di sudut, dan isakan pelan Lies.
Bapak Sonja menatap perempuan yang bersimpuh di lantai rumahnya. Lama. Lalu dia melangkah, pelan, dan berjongkok di depan Lies. Dia mengulurkan tangan.
"Bangun, Bu Lies. Silakan bangun."
Lies menatap tangan itu.
"Saya juga orang tua, Bu." Kata bapak Sonja. Suaranya berat, tapi lembut. "Saya tahu rasanya membesarkan anak dengan semua yang saya tahu dan semua yang saya tidak tahu. Saya berdua dengan istri saja sering salah langkah. Bu Lies membesarkan dua anak lelaki tanpa suami. Saya tidak berhak menghakimi Ibu."
Dia membantu Lies berdiri, dan mendudukkannya di sofa rotan. Ibu Sonja langsung duduk di samping Lies, menggenggam tangannya, ikut menangis.
"Saya memaafkan Ibu." Kata bapak Sonja. "Dari hati. Ibu datang sendiri, Ibu bersimpuh, Ibu mengakui kesalahan Ibu sendiri juga. Itu bukan hal kecil. Saya menghargainya."
"Terima kasih, Pak. Terima kasih..."
"Tapi." Bapak Sonja mengangkat tangan. "Soal Randu, soal mereka berdua, bukan saya yang memutuskan. Bukan juga istri saya. Bukan Ibu. Itu urusan Sonja. Dia yang dilukai. Dia yang berhak memilih memaafkan atau tidak, kembali atau tidak. Kami orang tua hanya bisa mendukung, apa pun pilihannya."
Lies mengangguk sambil menyeka air mata. "Iya, Pak. Saya mengerti. Saya tidak datang untuk meminta Sonja kembali. Saya datang hanya untuk minta maaf."
Di balik pintu dapur, Sonja menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras, membasahi kerah kaosnya.
Dia teringat Lies di rumah sakit, waktu Bintang ditusuk. Lies yang mencium pipinya dan memanggilnya nak. Lies yang mengirim pesan panjang, tante minta maaf atas nama anak tante, walaupun tante gak tahu salahnya apa. Lies yang tetap duduk di samping brankarnya malam itu, mengelus rambutnya, padahal putranya sendiri berdiri tak diacuhkan di ujung ranjang.
Dan sekarang Lies bersimpuh di lantai rumahnya.
Sonja mendorong pintu dapur itu.
Semua kepala menoleh. Lies berdiri dari sofa dengan mata membulat.
"Nduk..."
Sonja tidak berkata apa-apa. Dia berjalan menyeberangi ruang tamu, dan memeluk Lies erat-erat. Seperti dulu Lies memeluknya di rumah sakit lantai lima, dengan semangat, sampai napasnya hampir habis.
"Tante gak salah." Bisik Sonja di bahu Lies. "Tante gak perlu bersimpuh. Tante gak boleh begitu lagi ya."
Lies menangis di pelukannya. "Maafin Randu ya, nduk. Eh, enggak. Gak usah. Kamu gak harus maafin Randu. Kamu maafin tante aja. Itu sudah cukup."
Sonja tertawa di sela tangisnya. Tawa kecil yang pertama dalam waktu yang sangat lama.
"Tante sudah saya maafkan dari dulu."
Siang itu rantang susun tiga dibuka di meja makan. Isinya rendang. Bumbunya agak terlalu asin dan dagingnya masih sedikit alot.
"Tante belajar sendiri dari YouTube, nduk." Kata Lies malu-malu. "Dulu kamu kan janji mau ngajarin, tapi belum sempat. Jadi tante coba-coba sendiri, tiga kali gagal."
Sonja menyuap sepotong, lalu tersenyum sampai gingsulnya kelihatan. "Kurang lama masaknya, Tante. Empat jam. Gak boleh kurang."
Soal Randu, dia tidak menjawab. Belum.