Gelang itu dibelikan Mas Sandhy di sebuah toko perak di Kotagede, waktu dia ada urusan kerja ke Yogyakarta. Gelang perak lebar dengan ukiran daun-daun kecil, pas sekali menutupi bekas luka di pergelangan kiri Sonja.
"Biar kamu gak perlu pakai lengan panjang terus kalau udah balik kerja." Kata Mas Sandhy waktu menyerahkannya, dengan wajah datar yang dibuat-buat. "Jangan GR. Itu diskon."
Sonja memakainya di hari Senin pertama dia kembali ke kantor. Enam minggu sesudah malam di kamar mandi. Dokter sudah mengizinkan, psikolognya juga. Mya yang mengantar, dengan mobilnya, dan sepanjang jalan dari Cinere Mya tidak berhenti mengoceh soal gosip artis supaya Sonja tidak sempat melamun.
Lobi gedung itu masih sama. Pintu putar. Lantai marmer. Satpam yang sama di meja yang sama.
Sonja berhenti di ambang pintu putar. Kakinya mendadak berat.
Di sini. Di dekat pintu ini. Vania berdiri dengan dress merah dan berteriak, ini perempuan yang mau merebut calon suami saya.
"Neng." Mya menggenggam tangannya. "Lu gak harus naik hari ini kalau belum kuat. Kita bisa balik."
Sonja menarik napas panjang. Seperti yang diajarkan psikolognya. Hitung empat, tahan, buang. Gelang perak di pergelangannya terasa dingin dan berat. Sebuah pengingat. Dia masih di sini.
"Aku naik, Mya."
***
Lift lobi penuh. Sonja dan Mya menunggu yang berikutnya. Pintu terbuka, dan dua lelaki tinggi berjas melangkah masuk bersamaan dengan mereka, dari arah lift direksi yang sedang diperbaiki.
Randu dan Daniel.
Waktu seperti berhenti. Randu membeku di ambang pintu lift. Daniel berhenti bicara di tengah kalimat. Mya menegang di samping Sonja, siap menerjang kalau perlu.
Sonja melangkah masuk. Dia tidak mepet ke pojok. Dia berdiri di tengah lift, di depan panel tombol, dan menekan angka dua puluh tujuh dengan jari yang hanya sedikit gemetar.
"Pagi, Pak Daniel." Sapanya sopan. Lalu dia menoleh sekilas. "Pagi, Pak Randu."
Hanya itu. Datar. Dingin. Seperti menyapa satpam yang tidak dia kenal.
"Pagi, Sonja." Jawab Randu pelan.
Pintu lift menutup. Angka-angka mulai naik. Tidak ada yang bicara. Daniel menatap pantulan mereka berempat di dinding cermin lift, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak tahu harus melempar candaan apa.
Lantai delapan. Pintu terbuka.
Randu melangkah keluar. Dia tidak menoleh. Dia menahan diri untuk tidak menoleh, dengan seluruh tenaganya. Tapi sebelum pintu tertutup, Daniel yang menoleh, dan dia melihat sesuatu. Gadis tinggi itu, dengan gelang perak di pergelangan kiri, menegakkan punggungnya dan menatap lurus ke depan.
Pintu menutup.
***
"Masuk ruangan lu. Sekarang." Kata Daniel.
Randu masuk. Daniel menutup pintu kaca, lalu menurunkan tirai jendela. Hal yang tidak pernah dia lakukan, bahkan waktu rapat paling rahasia.
"Ndu."
"Gue tahu, Dan."
"Lu gak tahu." Daniel duduk di tepi meja, menatap sahabatnya. Wajahnya serius, tanpa sisa senyum iseng sama sekali. "Gue lihat muka lu barusan. Lu pengin ngejar dia. Lu pengin nekan tombol dua puluh tujuh, ngikutin dia ke mejanya, terus minta maaf lagi seribu kali. Iya kan?"
Randu tidak menjawab. Itu sudah cukup jadi jawaban.
"Jangan." Kata Daniel tegas. "Bro, dengerin gue. Gue tahu lu sayang dia. Gue tahu lu nyesel. Tapi kalau lu ngejar dia sekarang, lu ngulangin kesalahan yang sama. Lu mutusin buat dia lagi. Lu mutusin kapan dia harus dengerin lu. Lu mutusin kapan dia harus maafin lu."
"Terus gue harus diem?"
"Lu harus beres." Daniel mengetuk dada Randu dengan telunjuk. "Beresin diri lu. Beresin kebiasaan lu yang suka nanggung semua sendiri terus diem. Itu yang bikin semua ini kejadian, Ndu. Bukan Vania. Bukan Bintang. Kebiasaan lu."
Randu menatap meja. Sticky note kuning sudah tidak ada di pinggir layar laptopnya. Sudah berpindah ke dompet, di balik foto bapak.
"Dan lu harus jujur." Lanjut Daniel. "Bukan cuma ke dia. Ke semua orang yang lu bohongin. Lu ingat hari Kamis itu? Lu bentak dia di depan staf gue. Di depan anak-anak lantai ini. Lu bilang dia bikin malu dirinya sendiri. Sampai sekarang, separuh lantai ini mikir Sonja itu cewek gak tahu diri yang ngejar-ngejar lu. Gilang aja nanya ke gue, bener gak sih Pak, mbak itu yang bikin Pak Randu batal nikah?"
Randu memejamkan mata. Dia tidak tahu soal itu. Dia tidak pernah bertanya.
"Memperjuangkan dia itu bukan ngejar dia, Ndu." Kata Daniel lebih pelan. "Memperjuangkan dia itu beresin kekacauan yang lu bikin. Jujur di tempat lu bohong. Terus nunggu. Dan kalau ujungnya dia tetep gak mau, itu haknya. Lu terima. Keputusannya punya dia. Bukan punya lu. Bukan punya gue. Bukan punya Tante Lies."
Hening lama di ruangan itu.
"Lu belajar ngomong kayak gini dari mana, Dan?" Tanya Randu akhirnya, suaranya serak.
Daniel tersenyum tipis. "Dari Edel. Dia bilang gue kalau ngomong kebanyakan ngelantur. Jadi gue latihan."
***
Senin siang, jam satu, ada rapat mingguan seluruh staf lantai delapan di ruang rapat besar. Biasanya Randu hanya membacakan target dan laporan klien. Hari itu, sesudah laporan terakhir, dia tetap berdiri.
"Ada satu hal lagi." Katanya. "Bukan soal kerjaan. Tapi kalian semua perlu dengar, karena kalian yang jadi saksi."
Ruangan hening. Gilang meletakkan pulpennya. Staf perempuan berkacamata yang dulu menunjukkan ruangan Randu pada Sonja menegakkan duduk.
"Beberapa minggu lalu, hari Kamis, Sonja dari lantai 27 datang ke sini, dan saya membentaknya di depan kalian. Saya bilang dia mengganggu saya. Saya bilang dia bikin malu dirinya sendiri." Randu menatap satu per satu wajah di ruangan itu. "Itu bohong. Sonja tidak pernah mengganggu saya. Saya baru saja memutuskan pertunangan kami dengan cara yang buruk, dan dia datang untuk meminta penjelasan yang memang berhak dia dapat. Saya yang salah. Saya yang membuat keputusan buruk, lalu menutupinya dengan menyakiti dia di depan kalian."
Tidak ada yang bersuara. Bahkan Daniel, yang duduk di ujung meja, menunduk.
"Kalau ada yang dengar gosip soal dia, perebut, atau apa pun itu, kalian sekarang tahu itu tidak benar. Dan kalau ada yang mau menyalahkan seseorang, salahkan saya."
Randu duduk. Rapat bubar dalam keheningan yang canggung. Tapi sore itu, staf perempuan berkacamata itu naik ke lantai 27 dan meletakkan sebungkus martabak manis di meja Sonja, dengan secarik kertas: Maaf ya mbak, kami sempat salah sangka.
Sonja menatap martabak itu lama. Dia tidak tahu apa yang terjadi di lantai delapan. Tapi malam itu, Mya menceritakannya, dari Daniel.
Sonja tidak berkata apa-apa. Dia hanya memutar-mutar gelang perak di pergelangan kirinya, lama sekali.