Amplop cokelat itu tinggal di dalam laci selama dua belas hari.
Sonja tahu persis jumlahnya, karena setiap malam dia membuka laci itu, menatap amplopnya, lalu menutupnya lagi. Kadang dia mengambilnya, merasakan beratnya di tangan, membaca tulisan Untuk Sonja di depannya. Lalu meletakkannya kembali.
Malam ketiga belas, hujan turun deras di Cinere. Petir menyambar di kejauhan. Sonja tidak bisa tidur. Dia duduk di ranjang, memeluk lutut, mendengarkan air yang menghantam genteng.
Lalu, tanpa benar-benar memutuskan, tangannya membuka laci itu. Dan kali ini, dia merobek amplopnya.
Di dalamnya ada tujuh lembar kertas folio bergaris, ditulis tangan dengan tinta biru. Tulisan yang rapi di halaman pertama, lalu makin miring dan makin tidak rapi di halaman-halaman berikutnya, seperti ditulis oleh tangan yang gemetar.
Sonja,
Aku gak tahu harus mulai dari mana. Jadi aku mulai dari yang paling penting. Aku gak pernah menyentuh Vania. Gak pernah sekali pun. Kalimat yang kuucapkan di food court itu bohong. Aku memilih kalimat yang paling kejam yang bisa kupikirkan, dengan sengaja, supaya kamu membenciku dan berhenti bertanya. Aku gak akan membela kalimat itu. Itu kalimat paling jahat yang pernah keluar dari mulutku.
Surat itu bercerita semuanya. Panggilan video dari Palembang. Dua garis merah di ruang kantor. Bintang yang minta jangan bilang ibu. Vania di ruang tamu, ancaman itu, tensi ibu yang naik turun, bapak yang jantungnya berhenti diam-diam. Janji yang dia buat dalam lima menit, tanpa bertanya pada siapa pun.
Aku sudah terbiasa memutuskan sendiri sejak bapak meninggal. Aku pikir itu artinya bertanggung jawab. Ternyata bukan. Aku memutuskan hidupmu tanpa bertanya padamu. Aku memperlakukanmu seperti payung, Sonja. Seperti yang ibu bilang di teras malam itu. Dipakai kalau kehujanan, dilipat kalau sudah reda. Kamu bukan payung. Kamu orang yang berhak tahu, berhak memilih, berhak marah.
Hari Kamis itu, waktu kamu datang ke lantai delapan, aku menyuruhmu berhenti menggangguku di depan semua orang. Waktu kamu menelepon jam tujuh, aku membalik ponselku ke meja. Waktu kamu mengirim maaf, aku pikir kamu minta maaf soal siang itu. Aku gak berpikir lebih jauh. Aku gak mau berpikir lebih jauh. Itu juga salahku.
Aku gak minta kamu memaafkanku. Aku cuma ingin kamu tahu yang sebenarnya, karena kamu berhak. Apa pun yang kamu putuskan sesudah ini, itu keputusanmu. Aku gak akan datang, gak akan menghubungimu, kecuali kamu sendiri yang meminta.
Bintang dan Vania sudah menikah. Vania bilang dia ingin minta maaf padamu kalau suatu hari kamu sudah siap. Ibu sehat. Ibu tahu semuanya. Ibu gak pecah.
Di bawahnya, satu kalimat terakhir, ditulis dengan tekanan pena yang sangat dalam sampai hampir merobek kertas.
Maaf. Untuk semuanya. — Randu.
Sonja membaca surat itu dua kali. Lalu tiga kali. Lalu dia melipatnya, memasukkannya kembali ke amplop, dan menangis sampai subuh. Bukan tangis yang sama seperti di food court. Ini tangis yang lain. Tangis yang marah.
***
Pagi harinya, Sonja mengirim pesan pada Randu untuk pertama kalinya sejak malam itu.
Datang ke Cinere hari Minggu. Jam empat sore.
Balasan datang dalam tiga menit. Aku datang. Terima kasih.
***
Minggu sore, langit Cinere cerah sesudah hujan berhari-hari. Bapak Sonja yang membukakan pagar. Dia tidak menjabat tangan Randu. Dia hanya menunjuk ke samping rumah, ke jalan setapak berbatu yang mengarah ke taman belakang.
"Sonja di belakang. Bapak duduk di teras. Bapak gak akan dengar, tapi bapak akan lihat."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Taman belakang rumah itu kecil, dengan rumput yang dipotong rapi, pohon jambu air yang sedang berbuah, dan bangku kayu di bawahnya. Sonja berdiri di samping bangku itu. Dia memakai kaos lengan panjang berwarna abu-abu, celana kain longgar. Lengan kirinya tertutup sampai ke punggung tangan. Wajahnya lebih kurus dari terakhir kali Randu melihatnya di brankar. Tapi matanya tidak lagi kosong.
Matanya menyala.
Randu berhenti tiga langkah di depannya.
"Sonja..."
"Saya sudah baca suratnya, Pak."
Pak. Bukan Mas. Kata itu menghantam Randu lebih keras dari tamparan Mya.
"Saya baca semuanya." Lanjut Sonja. Suaranya bergetar, tapi tidak pecah. "Vania. Bintang. Ancaman itu. Tante Lies. Saya mengerti kenapa Bapak takut. Saya juga sayang sama Tante Lies. Kalau saya di posisi Bapak, mungkin saya juga takut."
"Sonja, aku..."
"Saya belum selesai, Pak."
Randu diam.
"Tapi saya gak mengerti kenapa Bapak gak tanya saya." Suara Sonja meninggi. "Saya tunangan Bapak. Kita mau menikah tiga bulan lagi. Undangannya sudah jadi. Kebayanya sudah jadi. Dan waktu ada masalah sebesar itu, Bapak gak tanya saya. Bapak gak cerita ke saya. Bapak putuskan sendiri. Bapak putuskan hidup saya sendiri. Bapak putuskan saya harus dibuang, dan Bapak buang saya dengan kata-kata yang..." Napasnya tersengal. "Dengan kata-kata yang bikin saya benci badan saya sendiri. Bikin saya pikir saya gak cukup. Gak cukup cantik. Gak cukup perempuan. Saya pikir saya gak cukup untuk apa pun, Pak."
Air mata akhirnya jatuh. Tapi Sonja tidak menunduk. Dia menatap Randu lurus.
"Saya gadis yang nunggu dilihat dari kuliah. Akhirnya Bapak lihat saya. Akhirnya Bapak tanya, boleh? Dan saya pikir, akhirnya ada orang yang nanya pendapat saya sebelum memutuskan sesuatu. Ternyata enggak. Ternyata waktu yang paling penting, Bapak gak nanya."
Randu tidak membela diri. Dia berdiri di sana, menerima setiap kata, setiap tetes air mata, dengan kepala tegak dan mata yang basah.
Sonja merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sesuatu yang berkilau ditimpa matahari sore.
Cincin emas putih itu.
Dia melemparkannya. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Randu refleks mengangkat tangan dan menangkapnya di telapak.
"Saya kembalikan, Pak."
Randu menatap cincin di telapak tangannya. Cincin yang dia pasangkan sendiri di jari manis Sonja, di ruang tamu dengan sofa rotan, di depan bapak dan ibunya.
Dia menggenggamnya.
"Iya." Bisiknya. "Kamu berhak."
Hanya itu. Dia mengangguk sekali pada Sonja, dengan cincin tergenggam di tangan. Lalu dia berbalik, berjalan kembali melewati jalan setapak berbatu, melewati teras tempat bapak Sonja duduk dan menatapnya, dan keluar dari pagar.
Sonja berdiri di taman sampai suara mesin mobil itu menghilang. Lalu kakinya lemas, dan dia terduduk di bangku kayu, di bawah pohon jambu air.
Bapaknya datang dan duduk di sampingnya. Dia tidak bertanya. Dia hanya meraih kepala putrinya dan menyandarkannya di bahunya.
"Kamu hebat, nak." Bisiknya. "Kamu sudah bilang semuanya."
Sonja menangis di bahu bapaknya, sampai matahari tenggelam di balik genteng-genteng Cinere.