Sepuluh hari kemudian, Vania menelepon Lies sendiri.
"Bu, aku mau." Katanya, suaranya serak tapi mantap. "Aku sudah mikir. Aku mau coba sama Bintang. Bukan karena takut. Karena aku mau anak ini punya bapak yang ada. Dan Bintang sudah janji mau ada."
Dua minggu sesudah malam di ruang tamu itu, Bintang dan Vania menikah di Kantor Urusan Agama dekat rumah orang tua Vania. Sederhana. Tanpa tenda, tanpa pelaminan, tanpa kebaya brokat. Vania memakai gamis putih sederhana dan kerudung krem. Bintang memakai kemeja putih yang dibelikan Lies di pasar sehari sebelumnya, sedikit kebesaran di bahu.
Ayah Vania yang menjadi wali. Lelaki berkumis tebal itu duduk dengan punggung tegak dan wajah kaku sepanjang acara. Dia tidak tersenyum sekali pun. Tapi ketika penghulu bertanya apakah dia ikhlas menikahkan putrinya, suaranya bergetar waktu menjawab iya. Ibu Vania menangis diam-diam di kursi belakang.
Lies duduk di samping Bintang, menggenggam tangan putra bungsunya erat-erat. Randu duduk di meja saksi, menandatangani buku nikah dengan tangan yang tidak mau berhenti gemetar.
"Saya terima nikahnya Vania binti..." Suara Bintang lantang, lebih lantang dari yang Randu duga. Sekali ucap. Tanpa salah.
Sah.
Lies menangis. Ibu Vania menangis. Bahkan ayah Vania mengusap matanya dengan sapu tangan, lalu buru-buru memasukkannya kembali ke saku, seolah malu ketahuan.
Randu tidak menangis. Dia hanya menatap adiknya. Bintang yang dulu cemberut di foto keluarga. Bintang yang dulu dia bela di depan kepala sekolah. Bintang yang sekarang duduk di depan penghulu, menjadi suami, sebentar lagi menjadi bapak.
Semoga kamu benar-benar ada untuk mereka, Dek. Semoga kali ini kamu gak lari.
***
Sesudah akad, di halaman parkir KUA yang panas, Vania menghampiri Randu. Dia berhenti dua langkah di depannya, dengan tangan bertaut di depan perut yang mulai sedikit membulat.
"Mas Randu."
"Selamat ya, Van."
"Makasih, Mas." Vania menunduk. "Mas, aku mau minta tolong. Satu kali aja. Mas antar aku ke Mbak Sonja ya. Aku mau minta maaf langsung. Soal di lobi. Soal semuanya."
Randu menatap gadis itu. Dia melihat kesungguhan di wajahnya. Penyesalan yang nyata.
"Gak, Van." Katanya pelan.
"Mas..."
"Bukan karena aku gak percaya kamu menyesal. Aku percaya." Randu menghela napas. "Tapi Sonja baru keluar rumah sakit empat hari lalu. Dia lagi di Cinere, sama keluarganya. Dia butuh tenang. Kalau tiba-tiba aku muncul di depan pintunya, bawa-bawa kamu, itu bukan buat dia. Itu buat kita. Biar kita lega."
Vania terdiam lama. Lalu dia mengangguk.
"Mas benar." Bisiknya. "Nanti, kalau Mbak Sonja sudah siap, aku sendiri yang datang."
***
Tiga hari kemudian, hari Sabtu, SUV hitam Randu berhenti di depan rumah bercat hijau muda di Cinere. Di tempat yang sama, empat bulan lalu, dia duduk di balik setir menghafal kata-kata untuk melamar.
Dia tidak turun. Dia menelepon Mya.
Mya keluar dari pagar lima menit kemudian. Dia sudah seminggu menginap di Cinere, menemani Sonja. Wajahnya masih dingin terhadap Randu, tapi tidak lagi sedingin di lorong rumah sakit.
Randu turun dari mobil. Dia tetap berdiri di luar pagar besi yang rendah. Di tangannya, sebuah amplop cokelat besar, tebal.
"Gue gak minta masuk." Katanya. "Gue gak minta ketemu dia. Gue cuma mau nitip ini."
Mya menatap amplop itu. "Isinya apa?"
"Semuanya. Yang udah gue ceritain ke lu di kantin. Vania, Bintang, ancaman itu, janji gue. Kenapa gue ngomong kalimat itu di food court. Kenapa gue gak angkat telepon jam tujuh." Randu menelan ludah. "Gak ada pembelaan di situ, Mya. Gue gak minta dimaafin. Gue cuma pengin dia tahu yang sebenarnya. Dia berhak tahu, bukan dari lu, bukan dari ibu gue. Dari gue."
Mya menerima amplop itu. Beratnya terasa di tangan. Pasti berlembar-lembar.
"Bilang ke dia," Lanjut Randu, "gue gak akan datang lagi. Gak akan telepon. Gak akan kirim pesan. Kecuali dia sendiri yang minta. Kalau dia gak pernah minta, gue gak akan pernah datang. Itu janji gue. Dan kali ini gue gak akan ingkar."
Mya menatapnya lama. Lalu dia mengangguk, sekali.
"Gue sampein."
Randu kembali ke mobil. Dia tidak menoleh ke jendela rumah itu. Dia tidak tahu apakah ada yang melihatnya dari balik gorden. Dia hanya menyalakan mesin, dan pergi.
***
Di kamarnya di lantai dua, Sonja berdiri di balik gorden jendela.
Dia melihat SUV hitam itu datang. Dia melihat Randu berdiri di luar pagar, memegang amplop cokelat. Dia melihat Mya menerimanya. Dia melihat Randu pergi, tanpa menoleh sekali pun.
Seperti di food court. Seperti di Terminal 3.
Tapi kali ini berbeda. Kali ini Randu tidak menoleh karena Sonja yang memintanya pergi.
Mya mengetuk pintu kamar beberapa menit kemudian, lalu masuk dan duduk di tepi ranjang. Dia meletakkan amplop itu di atas selimut.
"Dari dia." Kata Mya. "Katanya isinya semuanya. Dia gak bakal datang lagi kecuali lu yang minta."
Sonja menatap amplop itu. Tulisan tangan di depannya rapi, sedikit condong. Untuk Sonja.
Tulisan yang sama dengan sticky note biru di gelas kopi.
Pergelangan kirinya berdenyut di balik perban yang sekarang lebih tipis. Setiap hari Kamis, Mas Sandhy mengantarnya ke rumah sakit untuk kontrol luka dan bertemu psikolog. Ibunya memasak sayur bening setiap pagi. Bapaknya membacakan berita koran di teras setiap sore, keras-keras, padahal Sonja tidak pernah minta. Dan setiap malam, sebelum tidur, ibunya duduk di tepi ranjang dan mengelus rambutnya sampai dia tertidur, seperti waktu dia kecil.
Dunia kecilnya pelan-pelan disusun kembali. Kepingan demi kepingan.
Dia belum siap membuka amplop itu. Belum.
Sonja mengambilnya, membuka laci meja kecil di samping ranjang, dan meletakkannya di sana. Di samping kotak beludru biru tua berisi cincin emas putih yang Mya bawakan dari kontrakan.
Lalu dia menutup laci itu dan kembali berbaring, memunggungi jendela.
Mya tidak berkata apa-apa. Dia hanya ikut berbaring di sampingnya, dan memeluknya dari belakang, sampai keduanya tertidur.