Seorang perawat dari meja jaga lantai satu datang dengan alat pengukur tensi. Lies dibaringkan di sofa vinil cokelat, dengan bantal kecil di bawah kepala. Angka di alat itu tinggi, tapi tidak berbahaya. Perawat memberinya segelas air hangat dan menyuruhnya istirahat setidaknya setengah jam sebelum bangun.
Randu berlutut di samping sofa itu, menggenggam tangan ibunya. Bintang berdiri di sudut ruangan dengan bibir masih berdarah, tidak berani mendekat. Mya duduk di kursi dekat pintu, menjaga supaya tidak ada orang lain yang masuk.
Lima belas menit berlalu tanpa suara.
Lalu Lies membuka mata. Dia menatap putra sulungnya lama. Sangat lama. Lalu dia bangkit, pelan, mengabaikan Randu yang mencoba menahannya, dan duduk tegak di sofa.
Dan dia memeluk Randu.
Erat. Sangat erat. Seperti dulu, waktu Randu masih kecil dan terbangun dari mimpi buruk. Lies memeluk kepala putranya ke dadanya, dan menangis.
"Kenapa kamu simpan sendiri, Ndu?" Isaknya. "Kenapa? Kenapa kamu gak cerita sama ibu? Kenapa kamu tanggung sendiri semuanya?"
"Ibu sakit..." Bisik Randu di bahu ibunya. "Tensi ibu naik turun. Ibu hampir jatuh di kamar mandi. Aku takut, bu. Aku takut ibu kayak bapak. Aku gak mau kehilangan ibu juga."
"Ya Allah, Ndu. Ya Allah, nak." Lies menangkup wajah Randu dengan dua tangan, memaksanya menatapnya. "Ibumu ini memang tua. Memang sering pusing. Tapi ibu bukan gelas, Ndu. Ibu gak pecah cuma karena dengar kebenaran. Lihat, ibu dengar semuanya barusan. Ibu masih di sini kan? Ibu masih bisa meluk kamu kan?"
Randu tidak bisa menjawab. Dia hanya menangis di pelukan ibunya.
"Kamu jadi tameng adikmu dari kecil." Lanjut Lies, suaranya pecah. "Dan ibu yang salah. Ibu yang biarin. Ibu yang selalu bilang, Ndu, tolong adikmu. Ndu, temani ibu ke sekolah. Ndu, bayarin kerugian tetangga. Ibu yang bikin kamu mikir semua harus kamu tanggung sendiri. Maafin ibu, nak. Maafin ibu."
"Bukan salah ibu..."
"Salah ibu juga. Tapi bukan cuma salah ibu." Lies melepaskan pelukannya. Dia menyeka air matanya dengan ujung kerudung, lalu menoleh ke sudut ruangan.
"Bintang. Sini."
Bintang mendekat dengan langkah gemetar. Dia berlutut di depan ibunya, di samping kakaknya.
Lies tidak memukulnya. Dulu, setiap kali Bintang bandel, tangan ibunya selalu melayang ke lengan atau telinganya, plaaak, dijewer, sampai Bintang mengaduh manja. Kali ini Lies hanya memegang dagu putra bungsunya dan mengangkatnya, memaksanya menatap mata ibunya. Dan bagi Bintang, itu jauh lebih berat dari jeweran mana pun.
"Lihat ibu, Bintang. Jangan nunduk."
"Iya, bu."
"Kamu ingat ibu pernah bilang apa? Jangan mempermainkan perasaan gadis-gadis. Kualat nanti kamu. Ingat?"
"Ingat, bu."
"Sekarang kamu kualat. Dan yang kena bukan cuma kamu. Masmu. Sonja. Keluarga Sonja. Vania. Dan anak di perut Vania itu." Lies menatap putra bungsunya dengan mata yang keras, mata seorang janda yang membesarkan dua anak lelaki seorang diri. "Ibu gak akan nyuruh kamu nikah, Bintang. Itu bukan urusan ibu. Itu urusan kamu dan Vania, kalau kalian berdua mau. Tapi anak itu cucu ibu. Darah daging bapakmu. Dan kamu bapaknya. Kamu tanggung jawab. Nafkahnya, kamu yang cari. Kehadirannya, kamu yang kasih. Kamu gak boleh lari lagi ke Palembang dan pura-pura gak ada apa-apa. Ngerti?"
"Ngerti, bu." Bintang menunduk dalam-dalam, menangis.
***
Malam itu, atas permintaan Lies, Vania datang ke rumah Randu.
Bintang yang meneleponnya. Lima menit di telepon, dengan suara pelan, di teras belakang. Ketika Vania datang jam delapan, wajahnya pucat dan matanya sembap. Dia duduk di sofa ruang tamu yang sama tempat, beberapa minggu lalu, dia mengancam Randu.
Lies duduk di kursi berlengan, menatapnya. Bintang duduk di ujung sofa yang lain. Randu berdiri di dekat jendela, dengan lengan terlipat. Mya sudah kembali ke rumah sakit sore tadi, menemani keluarga Sonja.
"Vania." Kata Lies lembut. "Ibu sudah tahu semuanya."
Vania langsung menangis. "Bu, maaf. Maaf, bu..."
"Ibu gak mau marah sama kamu, nak. Kamu lagi hamil. Kamu takut. Ibu ngerti." Lies menghela napas. "Tapi ibu mau dengar dari mulutmu sendiri. Kamu mau apa sekarang?"
Vania menyeka air matanya. Dia melirik Bintang, lalu melirik Randu di dekat jendela. Lirikan yang terlalu lama.
"Aku mau Mas Randu, bu." Bisiknya. "Dari awal aku mau Mas Randu."
Ruangan hening.
Randu melangkah maju. Dia tidak duduk. Dia berdiri di depan Vania, cukup jauh, dan menatapnya lurus.
"Gak, Van." Katanya tegas. "Aku gak akan nikahin kamu. Janji yang kubuat di ruang tamu ini salah, karena aku bikin janji itu di bawah ancaman. Dan aku gak pernah nyentuh kamu. Sekali pun gak pernah. Ibu harus tahu itu. Bintang tahu itu. Kamu juga tahu itu."
Vania menunduk. Bahunya bergetar.
"Aku tahu, Mas." Bisiknya. "Mas gak pernah nyentuh aku. Mas bahkan mundur waktu aku mau pegang lengan Mas."
"Terus kenapa kamu ngancem dia, nak?" Tanya Lies pelan.
Vania mengangkat wajahnya. Air matanya mengalir deras.
"Karena aku takut, bu. Bintang gak mau aku. Mamaku bakal ngusir aku. Dan Mas Randu satu-satunya orang yang baik sama aku. Aku pikir kalau aku punya Mas Randu, aku aman." Dia terisak. "Tapi itu salah. Aku tahu itu salah. Aku ngancem orang yang lagi sakit. Aku pakai ibu buat nakut-nakutin anaknya. Aku bikin Mbak Sonja... aku hina Mbak Sonja di lobi, di depan orang banyak... dan sekarang dia..." Dia tidak sanggup melanjutkan. "Maaf, bu. Maaf, Mas Randu. Aku salah. Aku yang salah."
Lies menatap gadis itu lama. Lalu dia berdiri, berjalan pelan, dan duduk di samping Vania. Dia meletakkan tangannya di punggung gadis itu, mengelusnya pelan.
"Ibu dengar, nak."
Bintang berdiri. Dia menatap Vania. "Van, kita bisa ngomong berdua sebentar? Di teras?"
Vania mengangguk.
Mereka keluar ke teras depan. Dari jendela ruang tamu, Randu dan Lies bisa melihat mereka duduk di undakan, berjauhan, di bawah lampu teras yang kuning. Bintang berbicara lama. Vania lebih banyak menunduk. Kadang-kadang dia menggeleng. Kadang-kadang dia menangis.
Dua puluh menit kemudian mereka masuk lagi.
"Bu." Kata Bintang. Matanya merah, tapi suaranya lebih tenang dari sejak siang. "Aku udah ngomong ke Vania. Aku minta, kalau dia mau, kita coba. Bangun keluarga. Buat anak kita. Aku gak maksa. Aku cuma minta."
Lies menoleh pada Vania. "Kamu, nak?"
Vania memeluk dirinya sendiri. "Aku... aku butuh waktu, bu. Buat mikir. Aku gak mau mutusin sekarang, pas lagi takut. Nanti salah lagi."
Lies tersenyum. Senyum pertama sejak siang tadi.
"Itu jawaban yang bagus, nak. Pikirkan baik-baik."