Bintang mendarat di Soekarno-Hatta jam sebelas lewat sepuluh siang. Dia tiba di rumah sakit jam dua belas kurang lima, masih dengan jaket perjalanan dan ransel di punggung. Ransel besar yang sama, yang dulu Randu angkatkan ke mobil di hari keberangkatannya.
Mya menjemputnya di lobi. Tanpa sapaan, tanpa pelukan. Hanya anggukan dingin, dan satu kalimat.
"Ikut gue."
Mya membawanya ke ruang tunggu keluarga di lantai satu. Ruangan kecil dengan sofa-sofa vinil berwarna cokelat, dispenser air, televisi yang menayangkan berita tanpa suara, dan sebuah pintu kayu dengan jendela kaca kecil. Siang itu ruangan itu kosong, kecuali satu orang.
Randu berdiri di dekat jendela. Masih kaos rumah yang sama. Masih sandal jepit yang sama. Dia belum pulang sejak tadi malam.
Bintang berhenti di ambang pintu. Dia menatap kakaknya. Mata merah. Wajah kusut. Rambut berantakan. Dan bekas memar samar di pipi kiri.
"Mas..."
Randu tidak menjawab. Dia hanya menatap adiknya.
Mya menutup pintu di belakang mereka, lalu bersandar di dinding dengan tangan terlipat. Dia tidak duduk.
"Sonja gimana, Mas?" Suara Bintang bergetar. "Mbak Mya bilang dia... dia..."
"Dia hidup." Jawab Randu. Suaranya datar. "Dia di lantai tiga. Bapaknya jaga di depan pintu. Gak ada yang boleh masuk selain keluarganya. Termasuk aku."
"Aku mau lihat dia, Mas. Sebentar aja." Bintang menoleh pada Mya. "Mbak, boleh ya? Dulu dia yang nungguin aku semalaman di rumah sakit. Dia yang nangkis pisau buat aku. Aku cuma mau..."
"Lu cuma mau apa?" Potong Mya tajam. "Bilang makasih? Bilang maaf? Lu pikir sekarang dia mau lihat muka siapa pun yang namanya Alfaresi? Semalam dia buka mata, lihat Mas lu, terus minta Mas lu diusir. Lu mau giliran berikutnya?"
Bintang terdiam. Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari yang dia duga. Dia menatap kakaknya, mencari bantahan. Randu tidak membantah.
Bintang menurunkan ranselnya ke lantai. Dia berjalan dua langkah ke depan, lalu berhenti, seperti tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya sendiri.
"Mas, aku... aku gak tahu bakal kayak gini. Aku gak tahu Vania bakal ngancem Mas. Aku gak tahu Mas bakal mutusin Sonja. Mas gak pernah cerita."
"Kamu gak pernah nanya, Dek." Randu melangkah maju. "Dua minggu. Dua minggu kamu gak angkat telepon Vania. Dua minggu kamu diem di Palembang, nunggu masalahnya hilang sendiri. Kayak biasa. Kayak waktu kamu SMA. Kayak waktu kamu kuliah. Kamu pikir kalau kamu diem, masalahnya pergi. Kamu pikir kalau kamu diem, Mas yang beresin."
"Mas, aku..."
"Bilang." Randu berdiri tepat di depan adiknya sekarang. Mereka sama tingginya. Dulu Randu harus membungkuk untuk mengusap rambut Bintang. Sekarang mereka berdiri sejajar. "Bilang di depan Mya. Bilang dengan mulutmu sendiri. Anak siapa yang dikandung Vania?"
Bintang menatap kakaknya. Bibirnya bergetar. Matanya berkaca-kaca.
"Anakku, Mas."
Suaranya pelan, tapi jelas.
"Anak Vania itu anakku. Waktu dia ke Palembang. Kami berdua sama-sama mau waktu itu, Mas. Bukan cuma dia. Aku juga. Itu salah kami berdua." Air matanya jatuh. "Mas gak ada hubungannya. Mas gak pernah nyentuh dia. Aku tahu itu. Vania juga tahu itu. Itu anakku. Aku yang harus tanggung jawab. Bukan Mas."
Tinju itu melayang sebelum Randu sempat berpikir.
Satu pukulan. Hanya satu. Tepat di rahang kiri Bintang. Bintang terhuyung mundur, menabrak sandaran sofa vinil, lalu jatuh terduduk di lantai.
Mya tetap bersandar di dinding. Dia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi, karena dia merasa harus menyaksikan ini sampai selesai.
Randu berdiri dengan tangan masih mengepal, napasnya memburu. Tangan kanannya berdenyut sakit. Dia menatap adiknya yang terduduk di lantai, memegangi rahang, dengan darah tipis di sudut bibir.
Adik kecilnya. Bintang yang dulu menangis dengan mulut cemberut di foto keluarga. Bintang yang dia gendong waktu jatuh dari pohon jambu. Bintang yang dia usap rambutnya di bandara, beberapa bulan lalu.
Kenapa rasanya seperti aku yang dipukul?
Dia membuka kepalan tangannya. Jari-jarinya gemetar.
"Itu buat Sonja." Bisiknya. "Bukan buat aku."
Bintang tidak membalas. Dia tidak bangun. Dia hanya duduk di lantai, menunduk, dan mulai menangis. Menangis dengan bahu terguncang, seperti dulu, seperti waktu dia kecil dan baru saja dimarahi bapak.
"Maaf, Mas." Isaknya. "Maaf. Maaf..."
Kata yang sama. Kata yang semalam Randu ucapkan berulang-ulang di samping brankar Sonja.
Randu jatuh berlutut di depan adiknya. Dia tidak memeluknya. Belum. Dia hanya berlutut di sana, di lantai ruang tunggu yang dingin, dua lelaki dewasa yang sama-sama hancur.
***
Mereka tidak mendengar pintu terbuka.
Tidak ada yang tahu sejak kapan pintu kayu dengan jendela kaca kecil itu terbuka setengah. Tidak ada yang tahu sejak kapan seorang perempuan paruh baya berdiri di sana, dengan kerudung abu-abu dan tas tangan kecil yang dipeluk di dada. Mya yang pertama menoleh. Dan wajahnya langsung pucat.
"Tante..."
Randu dan Bintang menoleh bersamaan.
Lies berdiri di ambang pintu. Wajahnya putih seperti kertas. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Tangan yang memegang tas gemetar hebat.
Dia sudah di situ. Entah sejak kapan. Sejak Randu bertanya anak siapa. Sejak Bintang menjawab anakku. Sejak tinju itu.
Dia mendengar semuanya.
"Bu..." Randu bangkit. "Bu, ibu sejak kapan..."
"Anakmu?" Lies menatap Bintang. Suaranya nyaris tak terdengar. "Anak Vania itu... anakmu, nak?"
Bintang merangkak berdiri. Dia tidak berani menatap ibunya. "Bu... maafin Bintang..."
"Dan kamu." Lies menoleh pada Randu. Matanya sudah basah. "Kamu tahu. Dari kapan, Ndu? Kamu tahu dari kapan?"
Randu tidak sanggup menjawab.
Lies melangkah masuk satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Lalu kakinya goyah. Tas tangannya jatuh ke lantai. Mya berlari menangkapnya tepat sebelum lutut Lies menyentuh lantai.
"Tante! Tante!"
"Bu!" Randu dan Bintang menerjang bersamaan.
Lies tidak pingsan. Tapi tubuhnya lemas, bersandar sepenuhnya pada Mya. Napasnya pendek-pendek. Matanya terpejam rapat, dan dari sudutnya, air mata mengalir tanpa henti.