Kantin rumah sakit jam tujuh pagi dipenuhi bau teh manis dan gorengan yang baru diangkat dari wajan. Beberapa keluarga pasien duduk dengan wajah lelah, menyuapkan nasi uduk tanpa selera. Seorang bapak tidur dengan kepala di atas meja, masih memegang termos.
Randu duduk di meja paling pojok, di depan segelas teh manis yang sudah dingin. Dia belum makan sejak siang kemarin. Dia tidak lapar.
Mya datang jam tujuh lewat seperempat. Dia sudah berganti baju, kaos abu-abu dan celana jins, rambutnya diikat ekor kuda. Wajahnya tanpa riasan sama sekali. Untuk pertama kalinya sejak Randu mengenalnya di semester satu, Mya terlihat sepuluh tahun lebih tua.
Dia menarik kursi dan duduk di depan Randu tanpa basa-basi.
"Tante Lies udah di rumah. Udah minum obat tensi. Udah tidur." Katanya datar. "Sonja udah di kamar rawat inap. Lantai tiga. Bapaknya jaga di depan pintu. Lu jangan berani-berani naik."
"Gue gak akan naik."
"Bagus." Mya menyilangkan tangan di dada. "Sekarang lu cerita."
"Mya..."
"Lu cerita sekarang, Ndu. Semuanya. Dari awal." Suara Mya tidak keras, tapi tajam seperti pisau dapur. "Gue udah kenal lu sepuluh tahun lebih. Gue tahu lu bukan cowok yang ninggalin cewek demi badan cewek lain. Lu bukan Bintang. Lu gak pernah kayak gitu. Jadi jangan bohong ke gue. Gue udah capek. Gue semalem ngebungkus sepupu gue pakai bathrobe di lantai kamar mandi. Lu utang penjelasan ke gue."
Randu menatap gelas teh di depannya. Permukaan airnya bergetar sedikit, karena tangannya yang di atas meja ternyata gemetar.
Lalu dia bercerita.
Tentang kebaya dan panggilan video dari Palembang. Tentang Bintang yang bilang Vania sempat menyusul dua bulan lalu, lalu buru-buru bilang gak ada apa-apa. Tentang pesan-pesan Vania yang tidak berhenti. Tentang hari Kamis di ruangannya, amplop klinik, dua garis merah. Tentang Bintang yang di telepon minta waktu, minta jangan bilang ibu, karena baru mulai kerja.
Tentang Sabtu pagi, ketika ibu pergi ke pasar. Tentang Vania di ruang tamu, yang bilang dia tidak mau Bintang, dia mau Randu. Tentang ancaman itu. Aku bakal ngomong ke Tante Lies, hari ini, begitu dia pulang dari pasar.
Tentang ibu yang tensinya naik turun dan hampir jatuh di kamar mandi. Tentang bapak yang jantungnya berhenti tanpa ada yang tahu dia sakit.
Tentang janjinya. Aku nikahi kamu. Dan syaratnya. Putusin Mbak Sonja, jangan bilang alasannya ke siapa pun.
Dan tentang food court. Tentang kata-kata yang dia pilih dengan sengaja, kata-kata paling kejam yang bisa dia pikirkan, supaya Sonja membencinya dan tidak pernah bertanya lagi.
"Gue gak pernah nyentuh Vania, Mya." Kata Randu di akhir, suaranya habis. "Sekali pun gak pernah. Gue bilang kayak gitu ke Sonja biar dia benci gue. Biar dia gampang ngelupain gue. Gue pikir itu yang terbaik buat dia."
Mya tidak bergerak selama Randu bercerita. Wajahnya seperti batu. Tapi begitu Randu selesai, dia memukul meja dengan telapak tangan. Keras. Gelas teh terlonjak. Bapak yang tidur di meja sebelah terbangun kaget.
"Lu goblok."
"Gue tahu."
"Lu GOBLOK, Ndu!" Mya hampir berteriak, lalu menurunkan suaranya ketika beberapa orang menoleh. Tapi kemarahannya tidak turun. Malah makin mendidih. "Yang terbaik buat dia? Lu yang mutusin itu? Sendirian? Lu tanya dia gak? Lu tanya ibu lu gak? Lu tanya gue gak? Lu pikir lu Tuhan, bisa mutusin hidup semua orang sendirian?"
Randu menunduk. Tidak membantah.
"Dan adek lu." Mya mengeluarkan ponselnya. "Adek lu yang bikin semua ini, terus lu yang nanggung. Kayak biasa. Dari dulu kayak gitu. Bintang mecahin, Randu yang nyapu. Lu kira lu ngelindungin dia? Lu ngerusak dia, Ndu. Dan sekarang lu hampir ngebunuh sepupu gue karena itu."
"Mya, lu mau ngapain?"
Mya tidak menjawab. Dia sudah menekan sebuah nama. Dia mengaktifkan speaker dan meletakkan ponselnya di tengah meja, di antara mereka berdua.
Nada sambung. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
"Halo? Mbak Mya? Tumben pagi-pagi..." Suara Bintang, serak, baru bangun tidur.
"Bintang. Ini gue. Mas lu ada di depan gue. Dengerin baik-baik, karena gue cuma ngomong sekali."
"Mbak? Ada apa? Kok..."
"Sonja semalam hampir mati."
Hening total di seberang.
"Dia di rumah sakit. Kehilangan banyak darah. Dia nyoba ninggalin dunia ini, Bintang. Gara-gara Mas lu mutusin dia dengan cara paling bangsat yang bisa dibayangin manusia. Dan Mas lu ngelakuin itu gara-gara lu. Gara-gara Vania. Gara-gara anak lu."
"Mbak..." Suara Bintang pecah. "Mbak, Sonja... Sonja gimana? Dia..."
"Dia hidup. Bukan karena lu. Bukan karena Mas lu." Mya mencondongkan tubuh ke ponsel. "Sekarang lu dengerin gue. Lu cari penerbangan pertama dari Palembang. Gue gak peduli kontrak lu. Gue gak peduli bos lu. Gue gak peduli lu belum siap. Hari ini lu pulang. Hari ini lu ngadep ibu lu, ngadep Mas lu, dan ngadep apa yang udah lu lakuin. Kalau jam dua belas siang lu belum di Jakarta, gue sendiri yang terbang ke Palembang dan nyeret lu pulang. Ngerti?"
"..........................."
"Bintang. Gue tanya. Ngerti?"
"Ngerti, Mbak." Bisik Bintang, dan terdengar suara tangis yang tertahan. "Aku pulang. Aku cari tiket sekarang."
Mya memutus sambungan. Dia menyimpan ponselnya, lalu bersandar ke kursi dan memejamkan mata, seperti orang yang baru saja mengangkat beban berat.
Randu menatapnya. "Mya..."
"Jangan." Mya membuka mata. "Jangan bilang makasih. Gue gak ngelakuin ini buat lu. Gue ngelakuin ini buat Sonja. Dan buat Tante Lies, yang harusnya tahu kebenaran dari mulut anaknya sendiri, bukan dari perempuan yang ngancem dia."
Dia berdiri, mendorong kursi ke belakang.
"Satu lagi, Ndu." Katanya sebelum pergi. "Lu bilang lu gak pernah nyentuh Vania. Gue percaya. Tapi itu gak bikin lu gak bersalah. Lu tetep yang ngomong kalimat itu ke Sonja. Bukan Vania. Bukan Bintang. Lu."
Mya berjalan pergi. Randu tinggal sendirian di meja pojok, menatap teh manis dingin di depannya.
Dia tahu. Dia tahu. Itulah yang paling menyakitkan. Dia tahu.