Jam satu lewat empat puluh dini hari, kelopak mata Sonja bergerak.
Lies yang pertama melihatnya. Dia sedang membaca surat-surat pendek dari Al-Quran kecil di ponselnya, berbisik-bisik, ketika jari-jari kanan Sonja berkedut di atas seprai. Lies langsung berdiri.
"Nduk? Nduk, kamu dengar tante?"
Mata Sonja terbuka perlahan. Pandangannya kabur, berputar-putar, sebelum akhirnya fokus pada langit-langit putih dengan lampu neon. Bau antiseptik. Bunyi bip pelan mesin di sampingnya. Rasa perih yang berdenyut di pergelangan kiri.
Rumah sakit. Aku di rumah sakit.
Aku masih hidup.
Dia tidak tahu apakah dia lega atau tidak. Dia hanya merasa sangat, sangat lelah.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah, ya Allah..." Lies menangis, menggenggam tangan kanannya. "Mya! Mya, Sonja bangun!"
Mya menyeruak masuk dari balik tirai. Dia langsung memeluk Sonja, hati-hati, menghindari tangan kirinya, membenamkan wajah di bahu sepupunya. Sonja bisa merasakan bahunya basah oleh air mata Mya.
"Bego... lu bego... lu bego banget, neng..." Isak Mya. "Jangan pernah lagi. Jangan pernah. Gue gak sanggup..."
Sonja ingin menjawab, tapi tenggorokannya kering seperti pasir. Matanya bergerak melewati bahu Mya. Lalu berhenti.
Di ujung ranjang, berdiri seorang lelaki tinggi dengan kaos rumah yang kusut dan sandal jepit. Matanya merah dan bengkak. Pipinya ada bekas memerah. Dia menatap Sonja seperti menatap sesuatu yang hampir hilang dari tangannya.
Randu.
Sonja memalingkan wajah. Ke dinding. Ke tirai hijau. Ke mana saja asal bukan ke wajah itu.
"Sonja..." Suara Randu serak.
Sonja memejamkan mata. Rapat-rapat.
"Suruh dia pergi." Bisiknya pada Mya. Suaranya hampir tidak terdengar, tapi semua orang di ruangan itu mendengarnya. "Mya. Tolong. Suruh dia pergi."
***
Langkah-langkah tergesa terdengar dari lorong. Lalu tirai hijau tersibak dengan kasar.
Ibu Sonja masuk lebih dulu, berlari kecil, kerudungnya miring. Begitu melihat putrinya di brankar dengan perban di pergelangan dan kantong darah di tiang, dia menjerit tertahan dan langsung meraih Sonja ke pelukannya. Sonja menangis untuk pertama kalinya malam itu. Menangis di dada ibunya seperti anak kecil yang jatuh dari sepeda.
"Ibu... maafin Sonja, bu... maaf..."
"Sssh... sssh... gak papa, nak. Gak papa. Ibu di sini. Ibu di sini." Ibu Sonja mengelus rambut putrinya, berulang-ulang, menciumi keningnya. "Kamu masih di sini. Itu yang penting. Kamu masih di sini."
Mas Sandhy menyusul di belakang, wajahnya pucat dan rahangnya mengatup rapat. Dia berdiri di sisi ranjang, menyentuh kaki adiknya di balik selimut, seolah memastikan dia benar-benar ada.
Bapak Sonja masuk paling akhir.
Lelaki tua itu berhenti di ujung ranjang. Dia menatap putrinya lama. Kacamatanya berembun. Lalu dia menoleh, dan menatap Randu yang berdiri di sudut ruangan, di samping tirai.
Dia tidak perlu bertanya. Mya sudah menceritakan semuanya di telepon. Putus mendadak. Kata-kata kejam. Lima minggu diam. Dan malam ini.
"Kamu." Kata bapak Sonja. Suaranya pelan. Sangat pelan, dan justru itu yang membuatnya menakutkan.
"Pak, saya..." Randu melangkah maju.
"Keluar."
"Pak, saya cuma mau..."
"Saya bilang keluar." Bapak Sonja tidak mengangkat suara. Dia tidak perlu. "Tiga bulan lalu kamu duduk di ruang tamu saya. Kamu bilang ingin menghabiskan sisa umurmu untuk menebus waktu yang terbuang. Kamu pasangkan cincin di jari anak saya, di depan saya." Tangannya gemetar. "Dan sekarang anak saya berbaring di sini. Keluar dari kamar ini. Sekarang. Sebelum saya lupa bahwa ibumu ada di sini dan saya menghormatinya."
Lies menunduk. Dia tidak membela putranya.
Mas Sandhy melangkah, berdiri di antara Randu dan ranjang. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri.
Randu menatap Sonja sekali lagi. Gadis itu masih menyembunyikan wajah di dada ibunya. Tidak sekali pun menoleh.
Dia berbalik dan keluar.
***
Lorong rumah sakit jam tiga pagi adalah tempat paling sunyi di dunia.
Randu duduk di bangku plastik di luar ruang observasi. Bangku yang sama tempat Mya tadi menunggu. Dia tidak pulang. Dia tidak bisa pulang. Kakinya tidak mau bergerak lebih jauh dari pintu itu.
Sesekali perawat lewat, mendorong troli obat, melirik lelaki bersandal jepit yang duduk membungkuk dengan siku di lutut dan wajah di telapak tangan. Seorang satpam sempat bertanya apakah dia keluarga pasien. Randu tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya dia mengangguk. Satpam itu membiarkannya.
Dari balik pintu, terdengar suara-suara samar. Tangisan ibu Sonja. Suara dokter jaga yang datang memeriksa, menjelaskan pelan bahwa kondisi fisiknya stabil, bahwa sesudah pulih Sonja akan dirujuk ke dokter jiwa dan psikolog rumah sakit, dan bahwa yang paling dia butuhkan sekarang adalah orang-orang yang menemaninya. Suara Mas Sandhy yang menenangkan ibunya. Dan sesekali, sangat pelan, suara Sonja sendiri.
Randu mendengarkan setiap suara itu dengan seluruh tubuhnya.
Dia memikirkan sebuah payung polkadot hijau di bawah hujan. Gadis yang berkata, payungnya hanya muat untuk bapak. Gadis yang rela kehujanan supaya orang lain tetap kering. Dan dia membalasnya dengan apa?
Lies keluar sekitar jam empat, berjalan pelan ke arahnya. Dia tidak duduk. Dia hanya berdiri di depan putranya, memandanginya dari atas.
"Ibu pulang dulu, Ndu. Mya yang antar. Ibu gak kuat." Suaranya serak. "Besok kamu cerita sama ibu. Semuanya. Ibu gak mau dengar kamu diam lagi."
Randu mengangguk tanpa mengangkat kepala.
Lies menatapnya sebentar lagi. Lalu tangannya terulur, menyentuh rambut putranya. Hanya sebentar. Lalu dia pergi.
Azan subuh berkumandang dari masjid sebelah rumah sakit. Randu masih duduk di sana. Dia tidak tahu kapan dia tertidur, dengan kepala bersandar ke dinding dingin.
"Pak. Pak?"
Seseorang mengguncang bahunya pelan. Randu membuka mata. Cahaya pagi menyelinap dari jendela di ujung lorong. Seorang perawat muda berdiri di depannya, memegang map.
"Maaf, Pak. Sudah pagi. Pasien mau dipindahkan ke ruang rawat inap. Bangkunya mau dipakai keluarga pasien lain."
Randu berdiri dengan tubuh kaku. Dia melihat brankar Sonja didorong keluar dari ruang observasi, dikelilingi bapak, ibu, dan Mas Sandhy. Sonja terbaring dengan mata terpejam, entah tidur entah pura-pura.
Brankar itu lewat di depannya. Tidak ada yang menoleh.