Randu tiba di rumah sakit dua puluh tiga menit kemudian. Dia tidak ingat bagaimana dia menyetir. Dia tidak ingat lampu merah mana saja yang dia terobos. Dia tidak ingat memarkir mobil, atau berlari dari parkiran ke pintu IGD dengan sandal jepit dan kaos rumah.
Yang dia ingat hanya satu. Panggilan masuk jam tujuh lewat dua belas malam. Nama Sonja di layar. Dan dia, duduk di sofa ruang tamu rumahnya, menatap layar itu bergetar, lalu membalikkan ponselnya ke meja. Karena layar ponselnya baru saja memunculkan pesan Vania soal tanggal akad di KUA, tanggal yang sampai malam itu belum sanggup dia sampaikan pada ibu. Karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengangkat telepon Sonja lagi, demi kebaikan Sonja sendiri.
Lalu pesan itu. Maaf, Mas. Dia membacanya. Dan dia tidak membalas, karena dia pikir Sonja minta maaf soal datang ke lantai delapan siang tadi.
Dia pikir.
Ya Allah. Dia pikir.
Lorong IGD sepi dan berbau antiseptik. Lampu neon berkedip di ujung. Mya duduk di bangku plastik dekat pintu ruang tindakan, dengan blus kerja bernoda merah gelap, dengan wajah yang sembap tapi kering.
Mya berdiri ketika melihatnya datang.
"Mya, gimana Sonja? Dia..."
Tamparan itu datang tanpa peringatan.
Keras. Sangat keras. Kepala Randu terlempar ke samping. Suaranya memantul di sepanjang lorong, membuat seorang perawat di meja jaga berdiri kaget.
Randu hanya berdiri di situ, membiarkan pipinya panas, dengan kepala tertunduk.
"Itu buat jam tujuh." Kata Mya, suaranya bergetar menahan sesuatu yang lebih besar dari amarah. "Lu boleh benci gue seumur hidup. Gue gak peduli."
"Gimana dia, Mya?" Bisik Randu.
Mya menatapnya lama. Lalu dia menunjuk pintu ruang observasi di sebelah ruang tindakan.
"Dokter bilang dia lewat masa kritis. Dia kehilangan banyak darah. Dia belum sadar. Keluarganya masih di jalan dari Cinere." Mya menelan ludah. "Masuk. Lihat sendiri apa yang udah lu lakuin."
***
Ruang observasi itu kecil, dengan empat ranjang yang dipisahkan tirai hijau. Hanya satu yang terisi.
Sonja terbaring di brankar paling ujung. Wajahnya pucat, hampir seputih seprai rumah sakit. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Rambut panjangnya yang biasanya diikat asal tergerai di bantal, masih sedikit basah. Selang infus dan transfusi masuk lewat lipatan siku kirinya, dan kantong darah menggantung di tiang sebelah ranjang, menetes pelan-pelan. Hanya tangan kanannya yang bebas.
Pergelangan tangan kirinya terbalut perban putih tebal. Di lengan yang sama, sedikit lebih ke atas, Randu bisa melihat bekas jahitan lama. Bekas luka dari pisau yang dulu ditangkisnya demi menyelamatkan Bintang.
Gadis ini pernah berdarah untuk adikku. Dan sekarang dia berdarah karena aku.
Randu jatuh berlutut di samping brankar.
Dia mengulurkan tangan, gemetar, dan meraih tangan kanan Sonja. Hati-hati sekali, seolah tangan itu terbuat dari kaca. Tangan itu dingin. Sangat dingin. Kurus, dengan ruas-ruas jari yang menonjol. Tangan yang dulu menyodorkan payung polkadot hijau. Tangan yang menempelkan sticky note kuning di kotak bekal. Tangan yang dia genggam di food court, di atas meja, setelah dia bertanya boleh?
Dia mengecup punggung tangan itu.
"Maaf." Bisiknya.
Lalu dia mengecupnya lagi.
"Maaf."
Dan lagi. Dan lagi. Air matanya jatuh ke punggung tangan Sonja, membasahinya, dan dia mengecup air mata itu juga.
"Maaf. Maaf, Sonja. Maaf..."
Hanya satu kata itu. Dia tidak bisa mengucapkan kata lain. Semua kalimat yang dia susun di kepala sepanjang jalan tadi, penjelasan, alasan, Vania, Bintang, ibu, semuanya menguap. Yang tersisa hanya maaf, berulang-ulang, seperti doa orang yang tidak tahu doa lain.
Dia menangis terisak. Bahunya terguncang. Dia menempelkan dahi ke tepi ranjang, masih menggenggam tangan kanan Sonja, dan menangis seperti anak kecil. Seperti dia menangis di malam ketika bapak meninggal, diam-diam, di kamar mandi, supaya ibu dan Bintang tidak tahu.
Dia tidak tahu apa yang dia tangisi. Sonja yang terbaring di antara hidup dan mati. Atau dirinya sendiri, lelaki yang dengan kata-kata paling kejam mendorong gadis ini sampai ke titik ini.
Dialah alasannya. Bukan Vania. Bukan Bintang. Dia. Dia yang memilih diam. Dia yang memilih kejam. Dia yang membalikkan ponsel ke meja.
Ya Allah, kalau Engkau mau mengambil sesuatu, ambil dariku. Jangan dia. Kumohon. Beri dia kesempatan bangun.
***
Langkah kaki terdengar di lorong. Langkah yang dia kenal. Pelan, sedikit terseret, dengan suara sandal karet di lantai keramik.
"Ndu."
Randu mengangkat kepala. Ibunya berdiri di ambang tirai, memakai jaket rajut di atas daster, kerudung bergo dipasang asal. Wajahnya pucat, napasnya tersengal. Mya berdiri di belakangnya, memegangi lengannya.
"Ibu..." Randu berdiri dengan cepat. "Ibu kenapa ke sini? Ibu harusnya di rumah. Tensi ibu..."
"Kamu banting pintu tengah malam, terus mobilmu ngebut kayak orang kesetanan. Ibu bangun, Ndu. Ibu telepon kamu, gak diangkat. Ibu telepon Mya. Mya yang bilang." Lies melangkah masuk, perlahan, menatap gadis yang terbaring di brankar. Matanya langsung berkaca-kaca. Dia menutup mulut dengan tangan. "Ya Allah... nduk... Ya Allah, Gusti..."
Dia menatap perban di pergelangan kiri Sonja. Lalu menatap putranya. Pipi Randu masih merah bekas tamparan, matanya sembap, kaosnya basah oleh air mata.
"Apa yang kamu lakukan, Ndu?"
Suara Lies tidak keras. Tidak marah. Tapi pertanyaan itu jatuh di ruangan kecil itu seperti batu.
"Ibu tanya, apa yang kamu lakukan sama anak ini?"
Randu membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Dia ingin menjawab. Dia ingin menceritakan semuanya. Vania di kantor, dua garis merah, Bintang yang minta waktu, ancaman di ruang tamu, janjinya. Tapi ibunya berdiri di depannya dengan napas tersengal dan tangan gemetar, berpegangan pada lengan Mya. Dan dokter di kampung pernah bilang, tensi ibu tidak boleh naik mendadak.
Jadi Randu hanya diam. Menunduk.
Lies menunggu jawaban. Satu menit. Dua menit.
Tidak ada jawaban.
Akhirnya Lies menghela napas panjang, sangat panjang. Dia berjalan mendekati brankar, melewati putranya tanpa menoleh, dan duduk di kursi plastik di samping Sonja. Dia mengelus rambut gadis itu dengan lembut, seperti mengelus rambut anak sendiri.
"Nduk, ini Tante. Bangun ya nak. Ibumu sebentar lagi datang."
Randu berdiri di ujung ranjang. Dia tidak diusir. Tapi dia juga tidak disuruh tinggal. Dan baginya, itu lebih menyakitkan dari tamparan mana pun.