Jam sebelas lewat dua puluh menit, Mya memarkir mobilnya di depan kontrakan dengan kepala berdenyut. Rekrutmen massal besok pagi membuatnya terpaksa membaca dua ratus berkas lamaran dalam satu malam. Matanya pedas, punggungnya pegal, dan yang dia inginkan hanya mandi air hangat lalu tidur memeluk Sonja seperti beberapa minggu terakhir ini.
Lampu teras mati. Ruang tamu gelap.
Aneh. Sonja selalu menyalakan lampu teras kalau Mya pulang malam. Kebiasaan sejak mereka mulai mengontrak bersama. Biar kamu gak kesandung pot, katanya dulu.
Mungkin dia ketiduran.
Mya membuka pintu dengan kuncinya sendiri. Ruang tamu sunyi. Tas kerja Sonja tergeletak di lantai dekat pintu, basah, dengan genangan kecil air di bawahnya. Sepatu kerjanya tidak disusun di rak seperti biasa, tapi terlempar asal di dekat sofa.
"Neng?" Panggil Mya. "Lu udah tidur?"
Tidak ada jawaban.
Mya menyalakan lampu. Dia berjalan ke kamar Sonja. Pintunya terbuka. Ranjangnya rapi, belum ditiduri. Lampu kamar mati.
Dari ujung lorong, ada cahaya kuning yang keluar dari celah pintu kamar mandi. Pintu itu terbuka setengah. Dan dari dalam, terdengar suara air menetes dari kran, pelan, satu-satu.
"Sonja?"
Langkah Mya makin cepat. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan, padahal dia belum tahu kenapa. Dia mendorong pintu kamar mandi itu.
Lalu dia menjerit.
***
Kelak, Mya tidak akan pernah bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi dalam lima menit berikutnya. Yang dia ingat hanya potongan-potongan. Lantai kamar mandi yang basah dan merah. Tubuh Sonja yang tergeletak dekat pintu, dingin, pucat seperti kertas. Pergelangan tangan kirinya. Jeritannya sendiri yang memantul di dinding keramik.
Dan suaranya sendiri yang berteriak ke ponsel, alamat kontrakan mereka, dua kali, tiga kali, karena tangannya gemetar terlalu hebat sampai dia lupa nomor rumahnya sendiri.
"Ibu, tolong tenang. Ambulans sedang menuju lokasi." Suara petugas di telepon terdengar tenang, sangat tenang, seperti dari dunia lain. "Apakah pasien masih bernapas?"
Mya menempelkan telinga ke dada Sonja. Ada. Pelan sekali, tapi ada. Dia menangis lega.
"Ada! Ada, masih ada!"
"Baik. Ambil kain atau handuk yang bersih. Tekan pada bagian yang berdarah, kuat dan terus-menerus. Jangan dilepas sampai petugas datang. Selimuti pasien supaya tetap hangat."
Mya menarik handuk dari gantungan, menekannya ke pergelangan kiri Sonja dengan dua tangan. Dia meraih bathrobe putih yang tergantung di balik pintu, menyelimutkannya ke tubuh sepupunya yang menggigil. Bathrobe itu milik Sonja. Hadiah ulang tahun dari Mya dua tahun lalu, dengan bordir huruf S di dada.
"Neng, bangun. Neng, ini gue. Ini Mya." Bisiknya, berulang-ulang, sambil terus menekan. "Jangan tinggalin gue. Lu denger gak? Jangan berani-berani lu tinggalin gue. Tante sama Om gimana? Mas Sandhy gimana? Gue gimana?"
Bibir Sonja bergerak sedikit. Sangat sedikit. Matanya tidak terbuka.
"Bu... bapak..." Bisikan itu nyaris tidak terdengar. "Maaf..."
"Gak usah minta maaf! Lu bangun aja! Bangun!"
Sirene ambulans terdengar dari ujung gang. Tujuh menit, kata petugas di telepon nanti. Tujuh menit yang terasa seperti tujuh tahun.
***
Di ruang tunggu IGD, Mya duduk di bangku plastik dengan blus kerja yang ternoda merah. Seorang perawat sempat menawarinya baju ganti. Mya menolak. Dia tidak mau beranjak dari pintu itu.
Tim dokter sudah membawa Sonja masuk dua puluh menit lalu. Kata dokter jaga, Sonja kehilangan banyak darah, tapi datang tepat waktu. Mereka sedang menangani lukanya dan memberikan transfusi. Kita berdoa sama-sama ya, Bu, kata dokter muda itu. Mya mengangguk seperti robot.
Mya menatap noda di lengan blusnya. Pagi tadi Sonja sempat berdiri lama di depan pintu kamar, memegangi gagang pintu, lalu bertanya pelan, Mya, nanti malam pulangnya jam berapa? Dan Mya, yang sedang buru-buru memasang anting, menjawab sambil lalu. Gak tahu, neng, rekrutmen gila-gilaan. Kenapa?
Gak papa, kata Sonja. Cuma nanya.
Cuma nanya. Ya Allah, kenapa gue gak nanya balik?
Mya meremas ujung blusnya sampai buku-buku jarinya memutih. Dia tahu, menyalahkan diri sendiri sekarang tidak menolong siapa pun. Tapi pertanyaan itu terus kembali, seperti tetes kran di kamar mandi tadi.
Dia sudah menelepon Cinere. Ibu Sonja menjerit di telepon. Bapak Sonja mengambil alih, suaranya bergetar tapi berusaha tenang, berkata mereka berangkat sekarang juga. Mas Sandhy yang akan menyetir.
Lalu Mya menatap tas kerja Sonja yang dia bawa dari kontrakan. Dia membukanya, mengeluarkan ponsel Sonja yang masih menyala. Dia butuh nomor-nomor keluarga, siapa tahu ada kerabat yang lebih dekat dari Cinere.
Layar ponsel itu terbuka di riwayat panggilan.
Panggilan keluar terakhir, jam tujuh lewat dua belas malam. Satu panggilan, tidak diangkat.
Mas Randu.
Di atasnya, di aplikasi pesan, satu pesan terakhir yang bercentang dua. Dibaca jam tujuh lewat lima belas. Tidak dibalas.
Maaf, Mas.
Mya menatap layar itu sangat lama. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat jernih. Sangat dingin. Semua lelah, semua gemetar, semua tangis yang tadi, mendadak menguap dan digantikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas dan tajam.
Dia menekan nama itu.
Nada sambung berbunyi sekali. Dua kali.
Kali ini diangkat.
"Sonja?" Suara Randu. Terdengar terkejut, ragu. Seperti seseorang yang baru saja terbangun.
"Ini Mya."
"Mya? Kenapa kamu pakai HP Sonja? Ada apa?"
"Sonja di IGD. Rumah sakit dekat kontrakan. Yang di jalan raya, sebelah masjid." Suara Mya datar. Sangat datar. "Dia hampir mati, Ndu. Dia nelepon lu jam tujuh. Lu gak angkat. Dia kirim pesan ke lu. Lu baca. Lu gak bales."
"..........................."
"Lu masih di situ?"
Hening yang panjang. Lalu Mya mendengar suara sesuatu jatuh di seberang sana. Mungkin ponsel. Mungkin tubuh. Lalu suara langkah tergesa. Lalu suara pintu dibanting.
"Gue ke sana." Suara Randu terdengar asing. Seperti suara orang lain. "Gue ke sana sekarang."
Mya mematikan sambungan tanpa menjawab. Dia meletakkan ponsel Sonja di pangkuannya, lalu menunduk, menekan wajahnya ke kedua telapak tangan yang masih berbau besi.
Dan baru sekarang, sesudah semuanya, Mya menangis sejadi-jadinya.