Malam itu Mya pulang dan menemukan Sonja duduk di karpet ruang tengah, masih memakai baju kerja, dengan map plastik berisi undangan di pangkuan. Sonja menceritakan semuanya dengan suara datar, seperti membacakan laporan keuangan. Vania hamil. Aku harus menikahinya. Tubuhnya untuk menghangatkanku.
Mya tidak berkata apa-apa. Dia mengambil kunci mobil dan berjalan ke pintu.
"Mya, mau ke mana?"
"Ke rumah Randu. Gue mau denger dari mulutnya sendiri."
Mya pulang dua jam kemudian dengan mata merah dan tangan gemetar. Randu tidak mau membuka pintu. Dia hanya bicara dari balik pintu, satu kalimat: Ini urusan gue, Mya. Jangan ikut campur. Lalu lampu ruang tamu dimatikan.
Itu malam pertama. Lalu datang minggu-minggu yang lebih buruk.
***
Randu menghilang dari hidup Sonja seolah tidak pernah ada. Tidak ada lagi lift yang kebetulan. Tidak ada lagi pesan. Ketika Sonja mengirim pesan, Mas, aku cuma minta penjelasan, satu kali aja, pesan itu bercentang dua dan tidak pernah dibalas. Ketika dia menelepon, nada sambung berbunyi sampai habis. Ketika dia mengirim pesan lagi keesokan harinya, dan lusanya, dan seminggu kemudian, semuanya diperlakukan sama. Dibaca. Tidak dibalas.
Tante Lies meneleponnya beberapa kali. Sonja tidak sanggup mengangkat. Dia hanya mengirim satu pesan, Maaf Tante, Sonja belum bisa bicara. Lies membalas dengan pesan panjang yang membuat Sonja menangis semalaman. Tante gak tahu apa yang terjadi, nduk. Randu cuma bilang pernikahannya batal. Dia gak mau cerita apa-apa. Tante minta maaf atas nama anak tante, walaupun tante gak tahu salahnya apa.
Tante juga tidak tahu. Bahkan Tante pun tidak tahu.
Sonja tetap berangkat kerja tiap pagi. Tetap menyelesaikan laporan. Tetap makan siang, walaupun hanya tiga suap. Cincin emas putih itu dia lepas dari jari manis pada malam ketiga, dan dia simpan di kotak beludru biru tua, di laci kedua lemarinya. Di atas foto candid yang selama ini dia sembunyikan di bawah tumpukan kaos kaki.
Badannya yang sudah kurus semakin kurus. Mya mulai memasak bubur tiap pagi dan memaksanya makan. Mya mulai pulang lebih cepat. Mya mulai tidur di kamarnya.
Lima minggu kemudian, ada hari Kamis.
***
Siang itu, Sonja naik ke lantai delapan.
Dia tidak tahu kenapa. Mungkin karena semalam dia bermimpi tentang Randu yang tertawa di food court. Mungkin karena pagi tadi dia melihat SUV hitam itu di parkiran samping gedung, dan sadar bahwa lelaki itu ada di sini, hanya sembilan belas lantai di bawahnya, setiap hari. Mungkin karena dia hanya ingin satu jawaban. Satu saja. Kenapa.
Lantai delapan masih sama. Bau kopi, bau kertas printer. Staf-staf yang dulu bersorak cie Pak Randu sekarang menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Kasihan. Penasaran. Atau keduanya.
Pintu kaca ruangan Randu terbuka. Randu berdiri di dalam, berbicara dengan Daniel. Dan di kursi tamu, duduk dengan kaki disilangkan dan bibir bergincu merah yang sudah kembali menyala, Vania.
Sonja berhenti di ambang pintu.
Tiga kepala menoleh. Daniel mengernyit, bingung. Vania tersenyum tipis. Dan Randu, wajahnya langsung mengeras.
"Mas..." Panggil Sonja pelan. "Aku cuma mau ngomong sebentar. Lima menit."
"Mau apa lagi kamu ke sini?"
Suara itu keras. Cukup keras sampai staf-staf di luar ruangan berhenti mengetik.
"Aku cuma mau tahu kenapa..."
"Berhenti menggangguku, Sonja." Randu melangkah ke ambang pintu, berdiri menjulang di depannya. Matanya dingin. "Sudah kubilang kita gak ada hubungan apa-apa lagi. Berhenti kirim pesan. Berhenti telepon. Berhenti datang ke lantai ini. Kamu bikin malu dirimu sendiri."
"Ndu!" Daniel menarik bahu sahabatnya. "Lu apa-apaan?!"
Randu menepis tangan Daniel. Dia tidak melepaskan pandangannya dari Sonja.
"Pulang ke lantaimu."
Sonja tidak menangis. Dia hanya mengangguk, sangat pelan, lalu berbalik. Dia berjalan melewati deretan meja staf yang semuanya diam. Dia bisa merasakan setiap pasang mata itu menempel di punggungnya, seperti jarum-jarum kecil yang menusuk.
Di lift, dia menekan tombol dua puluh tujuh dan berdiri di pojok. Seperti dulu. Seperti kucing basah.
Gadis antara ada dan tiada. Akhirnya kembali ke tempatnya.
***
Sorenya, jam setengah enam, gerimis mulai turun. Mya mengirim pesan dari ruang rapat. Neng, gue lembur malam ini, ada rekrutmen massal besok. Mungkin pulang jam sebelasan. Lu makan duluan ya. Ada sayur sop di kulkas.
Sonja membalas, Iya Mya. Hati-hati.
Dia turun ke lobi untuk menunggu ojek online. Lobi ramai oleh karyawan yang pulang. Dan di dekat pintu putar, berdiri seorang perempuan cantik dengan dress merah dan tas branded di lengan. Menunggu seseorang. Menunggu Randu, tentu saja.
Vania melihatnya. Sonja ingin berbalik, tapi kakinya terlambat.
"Oh. Kamu." Suara Vania nyaring, terlalu nyaring untuk lobi yang penuh orang. "Masih berani lewat sini? Tadi siang masih kurang malu?"
"Van, aku gak mau ribut..."
"Gak mau ribut?" Vania tertawa. Beberapa orang di lobi menoleh. "Kamu yang bikin ribut. Kamu yang terus ngejar-ngejar calon suami orang. Kirim pesan tiap hari, telepon tiap malam, datang ke kantornya kayak pengemis. Kamu gak punya harga diri?"
Kerumunan kecil mulai terbentuk. Satpam lobi menoleh, ragu-ragu. Beberapa karyawan perempuan berbisik-bisik.
"Teman-teman, kenalin." Vania mengangkat suaranya lebih tinggi lagi. "Ini perempuan yang mau merebut calon suami saya. Padahal saya lagi hamil. Lihat baik-baik mukanya, biar kalian tahu."
Sonja tidak tahu apa salahnya. Dia sungguh tidak tahu. Dia hanya mencintai seorang lelaki. Lelaki itu memintanya dengan kata-kata, di food court yang berembun, dan memasangkan cincin di jarinya di depan bapaknya. Lalu lelaki itu pergi, dan sekarang dialah yang disebut perebut.
Ponselnya bergetar. Ojeknya sudah sampai.
Dia berjalan keluar tanpa sepatah kata, menembus kerumunan kecil itu, menembus gerimis. Abang ojek menyodorkan helm hijau. Sepanjang jalan, hujan rintik membasahi wajahnya, bercampur dengan air mata, sampai tidak ada yang bisa membedakan mana yang mana.
Sampai di depan kontrakan, dia memberi abang ojek uang seratus ribu dan tidak meminta kembalian. Abang ojek itu tersenyum lebar, berterima kasih berkali-kali. Sonja memaksakan senyum.
Rumah itu gelap. Mya belum pulang.
"Assalamualaikum." Ucapnya pada ruang tamu yang kosong.
Tidak ada yang menjawab. Dia meletakkan tas kerjanya yang basah begitu saja di lantai, dan rumah itu tetap sunyi.