Hari Minggu, Randu membatalkan makan siang dengan alasan ada klien yang minta bertemu mendadak. Sonja membalas pesan itu dengan stiker kucing menangis dan kalimat, Yaah, padahal udah semangat mau ngajarin Tante Lies rendang. Ya udah, Mas semangat kerjanya! Jangan lupa makan!
Randu membaca pesan itu di kamarnya, tanpa pergi ke mana pun. Daging sapi di lemari pendingin bawah tetap utuh sampai hari Senin.
***
Senin siang, Sonja naik ke food court lantai teratas dengan langkah ringan. Randu mengirim pesan pagi tadi, minta bertemu jam dua belas di meja dekat jendela. Meja mereka. Sonja membawa map plastik berisi brosur vendor katering, daftar tamu dari pihak keluarganya yang sudah diketik rapi oleh Mas Sandhy, dan contoh undangan yang baru jadi dari percetakan.
Undangan itu berwarna krem dengan pita hijau zaitun, warna dress yang dia pakai di lamaran Daniel. Randu yang memilih warnanya.
Randu sudah duduk di sana ketika Sonja tiba. Kemejanya putih, dasinya hitam. Wajahnya pucat, bibirnya terkatup rapat. Di depannya tidak ada makanan, tidak ada minuman.
"Mas! Lihat deh, undangannya udah jadi!" Sonja duduk dan langsung membuka map. "Bagus kan? Pitanya pas banget. Terus ini daftar tamu dari Mas Sandhy, dia ketik semalaman, sampai nomor HP-nya dicantumin satu-satu, rajin banget kan? Terus..."
"Sonja."
Suara itu dingin. Terlalu dingin. Sonja berhenti bicara. Senyumnya membeku di wajah.
"Mas kenapa? Sakit? Dari kemarin kok..."
"Aku mau kita putus."
Brosur katering di tangan Sonja jatuh ke lantai.
Dia menatap Randu. Menunggu tawa. Menunggu, bohong deng, cuma pengin lihat kamu panik. Seperti dia dulu menggoda Randu soal dasi miring di lift. Randu pasti sedang membalasnya. Iya kan? Pasti begitu.
Tapi Randu tidak tertawa. Wajahnya seperti batu.
"Mas... Mas bercanda kan?"
"Vania hamil. Aku harus menikahinya." Jawab Randu dengan nada dingin. Sedingin tatapan matanya ke arah Sonja.
Dunia di sekeliling Sonja mendadak tidak bersuara. Dia melihat bibir Randu bergerak, tapi kata-katanya datang terlambat, seperti suara petir yang menyusul kilat.
Vania. Vania yang mengejar-ngejar Bintang. Vania yang dulu mencium pipi Bintang di rumah sakit. Vania, pacar Bintang.
"Apa maksudmu, Mas?" Suaranya bergetar. "Kamu menghamili Vania? Calon adik iparmu sendiri?"
Randu tidak menjawab. Dia hanya menatap Sonja, tanpa ekspresi.
Kaki Sonja lemas. Dia jatuh terduduk lebih dalam di kursinya, tangannya mencengkeram ujung meja. Cincin emas putih di jari manisnya berkilau ditimpa sinar matahari dari jendela. Cincin yang dipasangkan Randu sendiri di Cinere, dua bulan lalu, di depan bapak dan ibunya.
"Tapi kita sebentar lagi menikah." Bisiknya. Air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan. "Undangannya udah jadi, Mas. Kebayanya udah jadi. Kamu tega mengkhianatiku? Kenapa kamu tega melakukan ini, Mas?"
Randu memalingkan wajah ke jendela. Rahangnya mengeras. Untuk sedetik, hanya sedetik, Sonja melihat sesuatu bergetar di sudut matanya. Tapi ketika Randu menoleh lagi, yang ada hanya es.
"Karena Vania mampu memberikan apa yang kamu tidak bisa berikan." Kata Randu. Setiap kata seperti batu yang dilemparkan dengan sengaja. "Tubuhnya! Tubuhnya untuk menghangatkanku!"
Sonja tersentak seperti ditampar.
"Aku hanya minta putus. Mulai saat ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."
Randu berdiri. Kursinya berderit keras di lantai. Beberapa orang di meja sebelah menoleh. Dia tidak memungut brosur yang jatuh. Dia tidak melihat undangan krem dengan pita hijau zaitun yang terbuka di atas meja. Dia berbalik dan berjalan ke arah lift, dengan langkah lebar dan cepat, tanpa mau menoleh lagi ke belakang.
Karena dia tahu, kalau dia menoleh sekali saja, dia akan berlari kembali dan memeluk gadis itu, dan menceritakan semuanya, dan seluruh dunia akan runtuh menimpa ibunya.
Ada seorang perempuan lain yang sedang hamil dan menunggunya untuk dinikahi.
***
Sonja tidak tahu berapa lama dia duduk di sana.
Orang-orang datang dan pergi di sekelilingnya. Seorang petugas kebersihan memungut brosur katering dari lantai dan meletakkannya kembali di meja dengan hati-hati, tanpa berkata apa-apa. Seorang perempuan di meja sebelah menyodorkan tisu. Sonja mengambilnya, mengucap terima kasih tanpa suara, tapi tidak memakainya. Tisu itu terus dia genggam sampai lumat.
Tubuhnya. Tubuhnya untuk menghangatkanku.
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya, mengulang, mengulang, mengulang. Sonja menatap tubuhnya sendiri. Tinggi, kurus, tidak berlekuk. Tubuh yang dulu membuat orang-orang memanggilnya tiang listrik. Tubuh yang selalu dia sembunyikan di balik kemeja kebesaran.
Jadi itu. Itu alasannya. Bukan karena dia tidak cukup baik. Karena dia tidak cukup cantik. Tidak cukup berisi. Tidak cukup perempuan.
Dia tidak pernah benar-benar dilihat. Dia cuma dikira terlihat.
Ponselnya bergetar. Mya.
Neng, jadi gak makan siangnya sama Randu? Gue mau nitip es kopi dari kedai atas dong. Hehe.
Sonja menatap layar itu lama. Jempolnya tidak bergerak.
Jam satu lewat lima belas, dia akhirnya berdiri. Dia membereskan brosur, daftar tamu, dan undangan ke dalam map plastik. Rapi. Teratur. Seperti seorang accounting officer yang baik. Lalu dia berjalan ke lift, menekan tombol dua puluh tujuh, dan kembali ke mejanya.
Dia menyelesaikan laporan rekonsiliasi bank sore itu tanpa satu pun kesalahan.
***
Di dalam lift direksi yang turun ke lantai delapan, Randu bersandar ke dinding cermin. Dia sendirian. Tangannya menekan dada, kuat-kuat, seperti mencoba menahan sesuatu agar tidak tumpah keluar.
Lantai dua puluh. Lantai lima belas. Lantai dua belas.
Di lantai sepuluh, dia menangis.
Tidak bersuara. Hanya air mata yang jatuh, satu-satu, lalu deras, membasahi kemeja putihnya. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan. Bahunya terguncang.
Kamu tega? Kenapa kamu tega melakukan ini, Mas?
Lantai sembilan.
Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Menarik napas. Membuang napas. Merapikan dasi hitam yang sebenarnya tidak miring.
Lantai delapan. Pintu terbuka.
Randu Alfaresi melangkah keluar dengan wajah yang sudah kembali menjadi batu. Staf-staf di lantai delapan menyapanya seperti biasa. Dia mengangguk seperti biasa. Lalu dia masuk ke ruangannya, menutup pintu kaca, dan melihat sticky note kuning yang masih menempel di pinggir layar laptopnya.
Jangan dikembalikan kalau belum habis. Yang masak tersinggung. — S.
Dia mencabutnya pelan-pelan. Melipatnya dua kali. Dan menyimpannya di dompet, di balik foto almarhum bapaknya.
Dia tidak bisa membuangnya. Dia juga tidak berhak menyimpannya. Tapi dia menyimpannya juga.