Bintang menelepon Vania malam itu. Randu tahu, karena jam sebelas malam Bintang meneleponnya juga.
"Udah, Mas. Udah kutelepon." Suara adiknya terdengar lelah, seperti habis menangis atau habis berteriak. Mungkin dua-duanya.
"Terus?"
"Aku bilang aku belum siap, Mas." Bintang menarik napas panjang. "Aku gak bisa pulang sekarang. Aku gak bisa nikah sekarang. Aku belum punya apa-apa. Kos aja masih sepetak. Gajiku baru cukup buat aku sendiri. Gimana aku mau ngidupin istri sama anak?"
"Kamu pikir itu alasan? Waktu kamu sama dia di Palembang, kamu mikir soal gaji?"
"Mas, jangan gitu..."
"Terus aku harus gimana, Dek? Dia hamil anakmu. Anakmu. Darah daging keluarga kita."
"Kasih aku waktu, Mas. Setahun. Enam bulan deh. Biar aku kumpulin uang dulu. Biar aku..." Suara Bintang pecah. "Biar aku gak jadi kayak... kayak orang yang gak bisa apa-apa."
Randu memejamkan mata. Dia mengenal ketakutan itu. Ketakutan anak lelaki yang kehilangan bapak terlalu cepat, yang tumbuh tanpa contoh bagaimana caranya menjadi kepala keluarga. Dia sendiri merasakannya dulu, waktu harus menggantikan peran bapak saat dia sendiri baru jadi mahasiswa.
Tapi dia tidak lari. Bintang lari.
"Enam bulan lagi perutnya sudah besar, Dek. Anakmu sudah mau lahir."
Bintang tidak menjawab. Hanya isakan yang tertahan. Lalu sambungan terputus.
***
Sabtu pagi, Lies berangkat ke pasar dengan Bu Narti, tetangga sebelah, naik bajaj. Katanya mau beli bahan untuk masak besar, karena hari Minggu Sonja dan Mya mau datang makan siang. Sebelum berangkat, dia sempat berpegangan pada kusen pintu sebentar.
"Ibu pusing lagi?" Tanya Randu.
"Sedikit. Biasa, Ndu. Tensinya naik turun. Wis, ra popo (sudah, tidak apa-apa)." Lies mengibaskan tangan. "Ibu cuma sebentar."
Setengah jam kemudian, bel pintu berbunyi. Randu membukanya dan mendapati Vania berdiri di depan undakan, dengan wajah pucat dan mata merah.
"Van? Kamu ngapain ke sini?"
"Bintang gak mau, Mas." Vania menerobos masuk sebelum Randu sempat mencegah. Dia berdiri di tengah ruang tamu, memeluk dirinya sendiri. "Bintang bilang dia belum siap. Dia bilang aku harus nunggu. Aku gak bisa nunggu, Mas. Perutku gak bisa nunggu."
"Van, duduk dulu. Kita bicara baik-baik. Nanti aku telepon Bintang lagi..."
"Aku gak mau Bintang."
Randu terdiam.
Vania menatapnya. Air matanya masih menetes, tapi suaranya mendadak tenang. Tenang yang mengerikan.
"Aku gak mau Bintang, Mas. Bintang gak pernah mau aku. Dari dulu dia cuma main-main. Dia bilang ke semua orang aku cuma ngejar-ngejar dia. Aku capek, Mas." Dia melangkah mendekat. "Aku mau Mas Randu. Mas Randu yang baik. Mas Randu yang bertanggung jawab. Dari pertama kali ketemu di rumah sakit, aku tahu Mas beda."
"Van, kamu ngomong apa sih? Aku mau nikah. Tiga bulan lagi. Sama Sonja."
"Aku tahu." Vania mengangguk. "Tapi Mas tahu gak, kalau Tante Lies tahu soal ini? Kalau aku datang ke Tante Lies, terus aku bilang anak bungsunya menghamili aku, terus kabur ke Palembang, gak mau tanggung jawab? Tante Lies yang lagi sering pusing itu? Yang tensinya naik turun itu?"
Randu merasakan darahnya membeku.
"Kamu gak akan berani."
"Aku gak punya apa-apa lagi buat dipertahankan, Mas." Vania tersenyum. Senyum yang pecah, menyedihkan, dan berbahaya. "Mamaku bakal ngusir aku kalau tahu. Kantorku bakal mecat aku. Bintang gak mau aku. Aku cuma punya ini. Aku bakal ngomong ke Tante Lies. Hari ini. Begitu dia pulang dari pasar."
Dari luar terdengar suara bajaj lewat. Randu refleks menoleh ke jendela, takut itu ibunya. Bukan. Bajaj itu terus melaju.
Dia membayangkan wajah ibunya. Wajah ibunya kalau mendengar ini. Ibunya yang menangis waktu Bintang ditusuk. Ibunya yang menjerit waktu menemukan bapak sudah tidak bernapas di kamar, bertahun-tahun lalu. Ibunya yang kemarin hampir jatuh di kamar mandi.
Bapak meninggal karena jantungnya. Tidak ada yang tahu bapak sakit sampai semuanya terlambat.
Dan Randu sudah menjadi tameng Bintang sejak adiknya itu masih kecil. Memecahkan kaca tetangga, Randu yang minta maaf. Berkelahi di sekolah, Randu yang datang ke kepala sekolah. Ketahuan bolos, Randu yang mengurus. Selalu Randu.
"Apa maumu?" Tanyanya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
"Nikahi aku, Mas."
"Van..."
"Nikahi aku. Anak ini butuh bapak. Butuh nama. Dia darah daging keluarga Mas juga." Vania menyeka air matanya. "Kalau Mas mau, aku gak akan bilang apa-apa ke Tante Lies. Aku gak akan bilang ke siapa-siapa. Bintang bisa tetap kerja di Palembang. Tante Lies gak perlu tahu anak bungsunya sebrengsek itu. Semua aman."
"Dan Sonja?"
"Putusin dia."
Randu menatapnya.
"Putusin Mbak Sonja, Mas. Aku gak mau ada perempuan lain. Dan jangan bilang ke dia alasannya. Jangan bilang ke siapa pun. Kalau Mbak Sonja tahu, nanti dia bilang ke Mya, Mya bilang ke Tante Lies. Sama aja."
Ruang tamu itu mendadak terasa sangat sempit. Jam dinding berdetak. Randu bisa mendengar jantungnya sendiri.
Ada seribu jalan lain. Dia tahu itu, di suatu tempat di belakang kepalanya. Dia bisa menelepon Mya. Dia bisa memberi tahu ibunya pelan-pelan, didampingi dokter. Dia bisa terbang ke Palembang dan menyeret Bintang pulang. Dia bisa bercerita pada Sonja dan meminta pendapatnya.
Tapi yang dia dengar hanya detak jam, dan suara bajaj di kejauhan, dan bayangan ibunya terbaring di lantai kamar mandi.
Sejak kecil, tiap kali ada masalah, Randu memutuskan sendiri. Karena tidak ada orang lain yang bisa memutuskan. Bapak sudah pergi. Ibu harus kerja. Bintang masih kecil. Dia yang memutuskan, dia yang menanggung, dia yang diam.
Kebiasaan itu yang menjawab sekarang. Bukan hatinya.
"Oke." Katanya pelan. "Aku nikahi kamu."
Vania menutup mulutnya, terisak lega.
"Tapi dengar, Van." Randu menatapnya dingin. "Aku nikahi kamu buat anak itu. Buat ibuku. Bukan buat kamu. Jangan pernah berharap lebih dari itu."
Vania tidak menjawab. Dia hanya mengangguk, lalu mengulurkan tangan seperti hendak menyentuh lengan Randu. Randu mundur selangkah, membiarkan tangan itu menggantung di udara.
"Pulang, Van. Ibuku sebentar lagi pulang."
Sesudah Vania pergi, Randu duduk di sofa ruang tamu dan tidak bergerak sampai ibunya pulang membawa dua kantong besar sayuran, ikan bandeng, dan daging sapi untuk rendang. Daging sapi untuk rendang, karena Sonja bilang mau mengajari Lies resep rendangnya yang empat jam itu.
"Lho, Ndu, kamu kenapa? Pucat begitu."
"Gak papa, bu. Cuma capek."
Randu membantu ibunya membawa belanjaan ke dapur. Dia menata ikan bandeng di kulkas, menyusun sayuran di rak, dan meletakkan daging sapi itu di lemari pendingin paling bawah. Lalu dia masuk kamar, mengunci pintu, dan menatap ponselnya. Foto profil Sonja di aplikasi pesan. Sonja tertawa, dengan sticky note kuning di tangan.
Besok Minggu. Besok Sonja datang untuk masak rendang.
Dan Randu harus mencari cara untuk menghancurkan hati satu-satunya perempuan yang pernah dia minta dengan kata-kata, tanpa sekali pun memberitahunya kenapa.