Hari Kamis, jam sebelas siang, resepsionis lantai delapan menelepon ke ruangan Randu.
"Pak, ada tamu. Namanya Mbak Vania. Katanya sudah janji."
Randu yang sedang meninjau kontrak klien berhenti menulis. Dia tidak pernah berjanji apa-apa. Dia bahkan sudah tiga hari tidak membalas pesan Vania, berharap Bintang benar-benar mengurusnya.
"Suruh masuk." Katanya akhirnya. Lebih baik dia selesaikan ini di ruangannya, dengan pintu kaca terbuka, daripada Vania membuat keributan di lobi.
Vania masuk lima menit kemudian. Randu hampir tidak mengenalinya. Gadis yang dulu datang ke rumah sakit dengan bibir bergincu merah dan mencium pipi Bintang tanpa malu-malu itu sekarang tampak pucat, nyaris abu-abu. Rambutnya diikat asal. Tidak ada lipstik merah. Matanya sembap, seperti habis menangis berhari-hari. Dia memeluk tas besar di depan dadanya seperti memeluk bantal.
"Duduk, Van." Randu menunjuk kursi tamu. "Mau minum?"
Vania menggeleng. Dia duduk di ujung kursi, punggungnya tegak kaku. Bibirnya bergetar.
"Mas..." Suaranya serak. "Maaf aku datang ke kantor Mas. Aku gak tahu harus ke mana lagi."
"Ada apa? Soal Bintang?"
Vania tidak menjawab. Dia membuka tasnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan sebuah amplop putih bercap klinik, dan meletakkannya di atas meja. Lalu, dengan gerakan yang lebih pelan lagi, sebuah benda kecil memanjang berwarna putih, terbungkus plastik bening.
Randu menatap benda itu. Dua garis merah di jendela kecilnya.
Untuk beberapa detik, dia tidak bisa bernapas.
"Aku hamil, Mas." Bisik Vania. Air matanya langsung jatuh. "Dua bulan. Kata dokter dua bulan. Itu hasil USG-nya di amplop."
Randu tidak menyentuh amplop itu. Dia tidak perlu. Dia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum dia bertanya. Wajah Bintang di panggilan video minggu lalu. Matanya yang melirik ke samping. Gak ada apa-apa kok, Mas.
"Bintang?" Tanyanya, suaranya datar, nyaris tanpa nada.
Vania mengangguk sambil terisak. "Waktu aku ke Palembang. Aku... kami... Mas, aku gak tahu harus gimana. Bintang gak mau angkat teleponku. Dia cuma bales sekali, bilang dia lagi mikir. Udah dua minggu dia mikir. Aku gak bisa nunggu lagi, Mas. Perutku nanti makin gede. Mamaku belum tahu. Kantor belum tahu. Aku takut, Mas."
Randu memejamkan mata. Di luar ruangan kacanya, staf-staf lantai delapan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Seseorang tertawa di dekat dispenser air. Telepon berdering di meja sebelah. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang baru saja runtuh.
Dia meraih ponsel dan menekan nomor Bintang. Dia tidak peduli Palembang jam berapa. Dia tidak peduli Bintang sedang rapat atau sedang di toilet.
Nada sambung. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Randu hampir menyerah ketika akhirnya terdengar suara.
"Halo, Mas? Ada apa? Aku lagi..."
"Vania ada di kantorku." Potong Randu. "Sekarang. Di depanku. Dengan hasil tes."
Hening di seberang. Hening yang lama dan berat, sampai Randu bisa mendengar napas adiknya yang mendadak memburu.
"Mas..." Suara Bintang pecah. "Mas, aku... aku bisa jelasin..."
"Jelasin apa? Itu anakmu?"
"..........................."
"Bintang. Jawab. Itu anakmu?"
"Iya, Mas." Bisikan itu nyaris tidak terdengar. Lalu tiba-tiba Bintang berbicara cepat, tergesa, panik, kata-katanya saling bertabrakan. "Mas, tolong. Tolong, Mas. Aku baru mulai kerja di sini. Baru tiga bulan. Kontrakku dua tahun. Kalau aku pulang sekarang, aku kehilangan semuanya. Mas, tolong jangan bilang ibu dulu. Ibu lagi sering sakit kan? Mas sendiri yang bilang. Kalau ibu tahu, ibu bisa... Mas tahu sendiri bapak kenapa. Tolong, Mas. Kasih aku waktu. Aku bakal urus. Aku janji."
Aku janji. Aku bakal urus. Gak ada apa-apa kok, Mas.
Randu menatap Vania yang menangis di kursi tamu. Gadis itu menunduk dalam-dalam, bahunya terguncang. Dia mendengar semuanya dari speaker ponsel yang Randu biarkan menyala.
"Kamu dengar dia, Dek?" Kata Randu pelan, sangat pelan. "Dia ada di depanku. Dia dengar kamu minta waktu. Dia hamil anakmu dan dia dengar kamu ngomongin kontrak kerja."
"Mas..."
"Telepon dia. Malam ini. Kalau malam ini kamu gak telepon dia, aku yang telepon kamu. Dan kamu tahu aku gak akan sesabar ini."
Randu memutus sambungan. Tangannya gemetar. Dia meletakkan ponsel di meja dengan sangat hati-hati, seolah benda itu bisa meledak.
"Maaf, Van." Katanya akhirnya. "Maaf adikku kayak gitu."
Vania mengangkat wajahnya yang basah. Ada sesuatu di matanya yang membuat Randu sedikit tidak nyaman. Bukan hanya ketakutan. Ada hal lain, yang tidak bisa dia baca.
"Mas Randu baik banget." Bisik Vania. "Dari dulu Mas Randu yang paling baik."
"Mbak Sonja tahu?" Tanya Vania tiba-tiba, sambil menyeka hidung dengan tisu.
"Belum."
"Jangan dulu ya, Mas." Vania meremas tisu di tangannya. "Aku malu. Aku gak mau orang-orang tahu dulu. Cuma Mas Randu yang tahu sekarang. Aku percaya sama Mas."
Cara Vania menyebut namanya membuat Randu ingin mundur selangkah dari kursinya sendiri. Dia teringat hari di rumah sakit, saat Vania terbengong menatapnya beberapa detik terlalu lama sesudah bersalaman. Dulu dia menganggapnya angin lalu.
Randu tidak menanggapi kalimat itu. Dia mengambil gelas air mineral dari laci, membuka segelnya, dan meletakkannya di depan Vania. Lalu dia memesankan taksi online untuk mengantar gadis itu pulang, dan menunggu bersama di lobi sampai taksi itu datang. Selama menunggu, dia berdiri dua langkah dari Vania, dengan tangan di saku.
Sesudah taksi itu pergi, Randu tidak langsung kembali ke ruangannya. Dia naik ke lantai teratas, ke food court, dan duduk di kursi paling pojok, di depan kaca jendela besar yang memperlihatkan langit Jakarta yang terik.
Di sudut lain food court, dia melihat meja dekat jendela. Meja tempat, hampir tiga bulan lalu, dia bertanya kamu mau jadi pacarku, dan seorang gadis tinggi menangis sambil tertawa.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Sonja.
Mas, nanti sore jadi ke vendor katering? Aku udah bikin daftar menunya. Mas pilih ayam bakar atau rendang? Hehe. Rendangnya pasti kalah sama punyaku sih.
Randu membaca pesan itu berulang-ulang. Dia mengetik balasan. Menghapus. Mengetik lagi.
Akhirnya dia hanya mengirim satu kalimat.
Maaf sayang, nanti sore aku ada urusan mendadak. Besok ya.
Lalu dia memandangi langit lama sekali, mencoba mengingat bagaimana caranya bernapas dengan benar.