"Gak bisa, Mbak. Ini kekecilan di pinggang. Napas saya kepotong."
"Neng, kebaya itu memang harus pas badan. Kalau longgar namanya daster."
"Tapi Mya, aku harus bisa napas waktu ijab kabul! Masa Mas Randu ngucapin qobiltu, aku pingsan?"
Butik kebaya di kawasan Tebet itu mendadak riuh oleh tawa. Pemilik butik, seorang ibu bersanggul dengan meteran melingkar di leher, menggeleng-geleng sambil tersenyum maklum. Sudah enam minggu sejak lamaran di Cinere, dan ini fitting kedua. Kebaya brokat putih gading dengan payet halus di bagian dada itu sudah hampir jadi, tinggal disesuaikan di beberapa bagian.
Lies duduk di kursi tunggu dengan secangkir teh melati, menatap calon menantunya yang berdiri di depan cermin besar. Sonja yang tinggi menjulang, dengan kebaya putih dan kain batik sogan yang dililit sementara. Rambut panjangnya digelung asal dengan jepit.
"Ayu tenan kowe, nduk (Cantik sekali kamu, nak)." Gumam Lies, matanya basah. "Kalau bapaknya Randu masih ada, pasti dia nangis lihat ini."
"Tante, jangan bikin saya nangis juga. Nanti maskaranya luntur, Mbak butiknya marah." Sonja tertawa, tapi dia sendiri sudah mengusap sudut mata.
Mya memotret dari berbagai sudut. "Ini buat arsip. Nanti kalau lu udah nikah terus lu ngambek ke Randu, gue kirim foto ini ke dia. Biar dia inget pernah dapet bidadari."
"Bidadari dari mana? Bidadari kok tingginya kayak tiang bendera."
"Bidadari model, neng. Bidadari zaman sekarang tingginya standar catwalk."
***
Di luar butik, Randu duduk di bangku kayu di bawah pohon ketapang, menunggu. Dia dilarang masuk. Kata ibunya, pamali calon pengantin lelaki melihat kebaya calon istrinya sebelum hari H. Kata Mya, biar kejutan. Kata Sonja, biar Mas Randu penasaran. Yang terakhir itu yang paling membuatnya tersenyum.
Ponselnya bergetar. Panggilan video. Bintang.
"Mas!" Wajah Bintang memenuhi layar, berlatar dinding kos yang dicat biru muda. Rambutnya lebih panjang, kulitnya sedikit lebih gelap. "Mas lagi di mana? Kok kayak di pinggir jalan?"
"Nunggu calon kakak iparmu fitting kebaya."
"Wih! Udah fitting? Cepet banget!" Bintang tertawa, lalu menggeleng-geleng. "Gila sih Mas. Aku masih gak percaya. Mas Randu sama Sonja. Sonja-ku. Eh, Sonja-mu ding sekarang."
"Jangan pernah lagi bilang Sonja-ku."
"Iya, iya. Galak amat calon pengantin." Bintang menyeringai. "Mas, aku pasti pulang pas akad. Udah kuajukan cuti dari sekarang. Bosku baik kok, katanya boleh asal kerjaanku beres."
"Bagus. Ibu bakal ngamuk kalau kamu gak datang."
"Ibu sih gak bakal ngamuk. Ibu bakal nangis, terus nelpon aku tiap jam. Itu lebih seram." Bintang tertawa lagi, tapi kemudian tawanya agak mengendur. Dia menggaruk tengkuk. "Mas, ngomong-ngomong, Vania sempat nyusul ke sini lho."
Randu mengernyit. "Vania? Ke Palembang?"
"Iya. Udah lama sih, sekitar dua bulanan lalu. Tiba-tiba aja dia muncul di depan kos. Katanya ada tugas kantor di sini. Nginep seminggu di hotel dekat sini." Bintang tertawa canggung. "Ya gitu deh, Mas. Kayak biasa. Dia ngintilin aku ke mana-mana."
"Terus?"
"Terus ya dia pulang. Udah. Gak ada apa-apa kok." Bintang menjawab cepat. Terlalu cepat. Matanya melirik ke samping, ke luar layar. "Ya udah ya Mas, aku mau berangkat kerja lagi. Salam buat ibu sama Sonja. Bilang Sonja, kebayanya jangan kekecilan, ntar pingsan pas akad."
Panggilan terputus. Randu menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ada sesuatu di wajah Bintang tadi. Sesuatu yang dia kenal sejak adiknya masih SD. Wajah Bintang tiap kali habis memecahkan kaca jendela tetangga dengan bola, lalu bilang gak ada apa-apa kok, Mas.
Ah, sudahlah. Bintang sudah dewasa. Dia sudah kerja. Bukan urusanku lagi.
Pintu butik berdenting. Sonja keluar sudah berganti pakaian, blus biru dan celana kain, dengan rambut masih tergelung berantakan. Di belakangnya Mya dan Lies menenteng tas belanja berisi kain sisa.
"Mas penasaran ya?" Sonja berdiri di depan bangku, sengaja menghalangi matahari.
"Gak."
"Bohong. Dari jendela aku lihat Mas tiga kali ngintip." Sonja mengeluarkan ponselnya, membuka satu foto, lalu memamerkannya sekilas. Hanya foto ujung lengan kebaya, renda putih gading yang menutupi pergelangan tangan, dan jari manis dengan cincin emas putih itu. "Bocoran dikit. Sisanya bayar pakai rendang tiga kali."
"Rendang kan kamu yang masak."
"Makanya. Mas yang belanja dagingnya." Sonja tersenyum lebar lalu melenggang ke mobil, meninggalkan Randu yang tertawa sambil geleng-geleng kepala. Mya menepuk bahunya sambil lewat. "Sabar ya, Ndu. Lu sendiri yang milih cewek yang bisa ngelawan."
***
Pesan pertama dari Vania masuk tiga hari kemudian, jam sepuluh malam.
Malam Mas Randu. Maaf ganggu. Mas, Bintang baik-baik aja kan di Palembang? Udah seminggu dia gak bales chatku.
Randu yang sedang membaca laporan di ruang kerjanya mengernyit. Dari mana Vania dapat nomornya? Mungkin dari Bintang, dulu. Atau dari ponsel Bintang yang tergeletak di meja waktu di rumah sakit.
Dia membalas singkat. Baik. Terakhir video call minggu lalu. Coba telepon langsung.
Balasan datang dalam hitungan detik. Udah Mas, gak diangkat. Mas bisa tolong bilangin dia buat angkat teleponku? Penting banget.
Randu tidak membalas.
Besoknya, jam tujuh pagi, pesan baru masuk. Mas, maaf ganggu lagi. Mas lagi di kantor? Aku boleh ketemu Mas sebentar? Ada yang mau aku omongin soal Bintang.
Siangnya, satu lagi. Mas Randu, tolong bales ya. Aku bingung harus ngomong ke siapa lagi.
Sorenya, dua lagi. Dan malamnya, tiga.
Randu menatap tumpukan pesan itu dengan perasaan tidak nyaman yang merayap pelan dari tengkuk ke punggung. Dia meneruskan beberapa pesan itu ke Bintang dengan satu kalimat: Dek, tolong angkat telepon Vania. Dia nyariin kamu terus ke aku.
Bintang membalas jam dua belas malam. Iya Mas, nanti aku urus. Maaf ya ngerepotin.
Nanti aku urus. Kalimat yang sama yang Bintang ucapkan waktu SMA, waktu dia ketahuan bolos tiga hari. Kalimat yang selalu berakhir dengan Randu yang mengurus semuanya.
Randu meletakkan ponselnya di nakas, terbalik. Di kamar sebelah, terdengar ibunya batuk-batuk kecil, lalu suara kran air, lalu sunyi lagi. Akhir-akhir ini ibunya makin sering mengeluh pusing. Kemarin bahkan sempat hampir jatuh di kamar mandi, untung bisa berpegangan ke wastafel.
Dia memejamkan mata. Tiga bulan lagi dia menikah. Tiga bulan lagi Sonja akan memakai kebaya putih yang tidak boleh dia lihat itu.
Jangan sekarang, Dek. Tolong. Jangan ada masalah sekarang.
Tapi Randu sudah cukup lama menjadi kakak Bintang untuk tahu, masalah tidak pernah bertanya dulu sebelum datang.