Sebulan sesudah siang berhujan di food court, SUV hitam Randu berhenti di depan sebuah rumah bercat hijau muda di Cinere. Rumah dengan pagar besi rendah, pohon mangga besar di halaman, dan deretan pot bunga kertas warna-warni di sepanjang teras.
Di jok belakang, Lies merapikan kerudungnya untuk kesepuluh kalinya. Di jok depan, Sonja meremas-remas tali tasnya. Di kursi pengemudi, Randu duduk diam, kedua tangan masih di setir walaupun mesin sudah mati.
"Mas, turun." Bisik Sonja.
"Bentar."
"Mas udah bilang bentar dari lima menit lalu."
"Aku lagi menghafal."
"Menghafal apa?"
"Semuanya." Randu menghela napas. "Aku sudah presentasi di depan klien dari Singapura, dari Jepang, dari Jerman. Belum pernah segugup ini."
"Duuh Ndu. Bapaknya Sonja itu orang, bukan harimau. Ayo turun, ibu sudah kebelet pipis." Lies membuka pintu belakang dan turun duluan, membawa bingkisan berisi kue lapis legit dan buah-buahan.
Pintu rumah terbuka. Seorang perempuan paruh baya bertubuh tinggi, dengan wajah yang sangat mirip Sonja versi dua puluh lima tahun lebih tua, berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar. Di belakangnya, seorang lelaki berkacamata dengan rambut memutih dan kumis tipis, memakai kemeja batik, bersedekap.
Dan di belakang mereka berdua, menjulang lebih tinggi lagi, seorang lelaki berusia tiga puluhan, berkaus hitam, dengan tangan terlipat di dada dan tatapan yang membuat Randu menelan ludah.
"Itu Mas Sandhy." Bisik Sonja. "Jangan takut. Dia gak gigit kok. Paling cuma nginterogasi."
***
Ruang tamu keluarga Sonja sederhana tapi hangat. Ada sofa rotan dengan bantal-bantal batik, lemari kaca berisi piala-piala lomba menyanyi Sonja waktu SD, dan foto keluarga besar di dinding. Di foto itu, Sonja kecil berdiri paling tinggi di antara anak-anak seusianya, tersenyum dengan gigi gingsul yang sudah terlihat.
Ibu Sonja dan Lies langsung akrab dalam lima menit, seperti dua sahabat lama yang baru bertemu kembali. Mereka bertukar resep sambal, cerita tentang lutut yang suka linu, dan tentang anak-anak yang susah disuruh makan sayur.
Sementara itu, Randu duduk tegak di sofa rotan, berhadapan dengan bapak Sonja dan Mas Sandhy. Sonja duduk di samping ibunya, pura-pura membantu menuang teh, padahal telinganya terpasang penuh.
"Jadi, Nak Randu." Bapak Sonja membuka percakapan, membetulkan letak kacamatanya. "Kerja di mana?"
"Di perusahaan milik keluarga sahabat saya, Pak, namanya Daniel. Satu gedung dengan kantor Sonja, tapi beda lantai."
"Sudah berapa lama?"
"Sejak lulus kuliah, Pak."
"Gajinya cukup?"
"Pak!" Sonja dan ibunya berseru bersamaan.
"Lho, bapak kan cuma tanya." Bapak Sonja mengangkat tangan dengan wajah polos. "Bapak gak tanya berapa. Cuma tanya cukup apa enggak."
Randu tersenyum kecil. "Cukup, Pak. Untuk saya, untuk ibu, dan Insya Allah untuk keluarga nanti. Saya juga sudah punya rumah sendiri, walaupun kecil."
"Pernah pacaran berapa kali?" Kali ini Mas Sandhy yang bertanya. Suaranya berat, dalam.
Randu tidak mengelak. "Sekali, Mas. Enam tahun. Putus sekitar dua bulan lalu, karena dia melanjutkan kuliah ke luar negeri dan belum mau menikah."
"Terus langsung pindah ke adik saya?"
Ruangan mendadak sunyi. Lies berhenti bicara soal resep sambal. Ibu Sonja melirik Mas Sandhy dengan tatapan memperingatkan.
"Mas Sandhy..." Sonja berbisik.
"Gak papa, Sonja. Pertanyaan Mas Sandhy wajar." Randu menatap Mas Sandhy lurus. "Saya gak akan bohong, Mas. Waktu awal, saya memang masih memikirkan mantan saya. Sonja bahkan sempat kena imbasnya. Saya pernah membawanya ke bandara tanpa menjelaskan apa-apa, cuma karena saya gak sanggup sendirian. Itu salah saya. Tapi saya sudah selesai dengan masa lalu itu. Dan saya gak memilih Sonja karena kesepian. Saya memilih Sonja karena dia Sonja."
Mas Sandhy menatapnya lama. Sangat lama. Lalu dia menoleh pada Sonja.
"Dek, dia beneran bawa kamu ke bandara buat nonton dia perpisahan sama mantannya?"
"Iya, Mas." Sonja meringis.
"Terus kamu masih mau sama dia?"
"Mau, Mas."
Mas Sandhy menghela napas panjang, lalu tiba-tiba tertawa. Tawa yang keras dan hangat, sama sekali tidak cocok dengan wajah galaknya tadi.
"Ya udah. Kalau dia mau ngaku salah duluan sebelum ditanya, berarti dia gak bodoh-bodoh amat." Mas Sandhy mengulurkan tangan pada Randu. "Tapi kalau kamu bikin dia nangis kayak gitu lagi, saya cari kamu sampai ke lantai berapa pun."
"Siap, Mas." Randu menjabat tangan itu.
***
Sesudah makan siang yang terlalu banyak, rendang, ayam goreng, sayur lodeh, dan kerupuk udang buatan ibu Sonja, Randu berdiri. Dia meminta izin berbicara pada semua orang. Sonja yang sedang membantu membereskan piring menoleh, dan jantungnya langsung berdebar keras.
Randu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dari saku kemejanya.
"Pak, Bu, Mas Sandhy." Suaranya sedikit bergetar, tapi tegas. "Saya datang bersama ibu saya hari ini dengan niat baik. Saya ingin meminang Sonja, putri Bapak dan Ibu, untuk menjadi istri saya. Saya tahu saya belum sempurna. Saya pernah membuatnya menunggu terlalu lama tanpa saya sadari. Tapi Insya Allah, saya ingin menghabiskan sisa umur saya untuk menebus itu."
Ibu Sonja menutup mulutnya dengan tangan. Lies sudah mulai menyeka sudut mata dengan ujung kerudung.
Bapak Sonja tidak langsung menjawab. Dia menoleh pada putrinya.
"Sonja. Kamu yang menjalani. Bapak mau dengar dari mulutmu sendiri."
Semua mata tertuju pada Sonja. Gadis tinggi itu berdiri di ambang pintu dapur, masih memegang dua piring kotor. Dia meletakkan piring-piring itu di meja, mengusap tangannya di rok, lalu berjalan ke tengah ruangan, berdiri di samping Randu.
Dulu dia tidak akan berani. Dulu dia akan menunduk, gemetar, dan berharap seseorang menjawab untuknya.
Tapi hari ini dia mengangkat wajah, menatap bapaknya.
"Saya mau, Pak." Katanya jelas. "Saya mau menikah dengan Mas Randu."
Bapak Sonja tersenyum. Matanya yang di balik kacamata itu berkaca-kaca. Dia mengangguk pelan.
"Kalau begitu, bapak merestui."
Randu membuka kotak beludru itu. Di dalamnya, sebuah cincin emas putih sederhana dengan satu batu kecil yang berkilau. Dia tidak langsung memasangkannya. Dia mengulurkan kotak itu, menunggu Sonja mengulurkan tangan kirinya sendiri, baru dia memasangkannya di jari manis.
Pas. Sangat pas.
"Mas tahu ukuran jariku dari mana?" Bisik Sonja.
"Mya."
"Mya tahu dari mana?"
"Katanya dia HRD. Dia tahu semua rahasia karyawan."
Sonja tertawa sambil menangis, untuk kedua kalinya dalam sebulan.
Sore itu, dua ibu duduk berdampingan di teras dengan kalender meja di pangkuan, menghitung hari baik. Lima bulan lagi, mereka sepakat. Di bulan Syawal, sesudah Lebaran, supaya Bintang bisa pulang dari Palembang.