Minggu pagi, Randu duduk di meja makan dengan sepiring nasi goreng yang tidak juga dia sentuh. Lies yang sedang menyiram pot-pot anggrek di teras belakang meliriknya dari balik pintu kaca.
"Bu." Panggil Randu. "Duduk sini sebentar."
Lies meletakkan gembor, mengelap tangan di daster, lalu duduk di hadapan putranya. Dia tidak bertanya. Dia hanya menunggu, seperti dulu menunggu Randu kecil yang pulang sekolah dengan lutut berdarah dan tidak mau mengaku jatuh dari sepeda.
"Ibu benar." Kata Randu akhirnya. "Soal Sonja. Dia sukanya sama aku. Dari dulu. Dia yang jatuhin sendok itu, bu. Ibu ingat?"
Lies tersenyum. Senyum yang pelan sekali mengembang, seperti matahari pagi yang naik dari balik genteng tetangga.
"Ingat, Ndu. Ibu ingat semuanya."
"Kenapa ibu gak bilang dari dulu?"
"Lha wong ibu sudah bilang. Kamu yang gak mau dengar." Lies mengetuk kening putranya pelan. "Kamu itu dari kecil sama, Ndu. Kalau sudah yakin, kupingmu ditutup rapat. Ibu ngomong sampai mulut berbusa juga gak masuk."
"Maaf, bu. Kemarin waktu di kontrakan, aku kasar sama ibu."
"Kamu gak kasar. Kamu benar. Ibu memang gak boleh memaksa." Lies menggenggam tangan Randu. "Sekarang ibu cuma mau tanya satu hal. Kamu sendiri gimana? Bukan soal hutang nyawa, bukan soal ibu pengin cucu. Kamu sendiri."
Randu diam lama. Dia memikirkan sticky note kuning. Steak wagyu. Dasi yang tidak miring. Bapak cemburu ya? Air mata di mobil, dan tisu yang dia ulurkan, dan tangan dingin yang menerimanya.
"Aku mau dia, bu." Jawabnya pelan. "Bukan karena ibu. Karena aku sendiri."
***
Rabu siang, food court di lantai teratas gedung tidak terlalu ramai. Hari itu hujan rintik-rintik, jadi sebagian besar karyawan memilih memesan makanan lewat aplikasi daripada naik ke lantai paling atas dengan payung. Kaca-kaca jendela besar di sekeliling food court berembun, memperlihatkan langit Jakarta yang kelabu.
Sonja duduk di meja dekat jendela, di depan semangkuk soto ayam yang sudah dingin. Randu yang mengajaknya ke sini, lewat pesan pagi tadi. Makan siang di food court atas? Kalau kamu sibuk, tidak apa-apa. Lalu dia menambahkan satu pesan lagi, lima menit kemudian. Aku yang traktir. Tapi kali ini jangan steak, food court gak jual.
Sonja tertawa membacanya di meja kerja sampai teman sebelahnya menoleh.
Sekarang Randu duduk di depannya. Dia tidak memesan apa-apa selain es teh manis. Dia memutar-mutar sedotan, menatap embun di kaca, lalu menatap Sonja, lalu kembali ke embun.
"Pak, Bapak sakit?" Tanya Sonja. "Dari tadi gak makan."
"Gak. Aku gak sakit." Randu meletakkan sedotannya. Dia menarik napas panjang, seperti orang yang mau loncat dari papan tinggi kolam renang. "Sonja, aku mau tanya sesuatu. Kamu boleh jawab iya, boleh jawab enggak, boleh jawab nanti. Apa pun jawabannya, aku terima. Tapi aku harus nanya, karena kalau gak, aku bakal nyesel seumur hidup."
Sendok di tangan Sonja berhenti di udara.
"Kamu mau jadi pacarku?"
Dunia berhenti berputar.
Suara hujan di kaca. Suara sendok beradu mangkuk di meja sebelah. Suara mesin kopi di kedai pojok. Semua menjauh, seperti didengar dari dasar kolam.
Sonja meletakkan sendoknya. Dia menatap Randu. Wajah tampan itu. Mata tajam itu, yang biasanya penuh percaya diri, sekarang terlihat cemas. Benar-benar cemas, seperti anak kecil yang menunggu hasil ujian. Tangannya yang di atas meja mengepal, tapi tidak meraih tangan Sonja. Menunggu.
Gadis antara ada dan tiada. Gadis aneh. Gadis yang tak terlihat.
Lelaki ini melihatnya. Lelaki ini bertanya.
"Iya." Bisik Sonja.
Randu mengerjap. "Apa?"
"Iya, Pak. Saya mau." Suaranya pecah di tengah kalimat, dan tiba-tiba air mata sudah membanjir di pipinya. Dia menutup mulut dengan tangan, tapi tawa juga ikut keluar di sela-sela isakan, campur aduk, berantakan. "Ya Allah, maaf, saya... saya nangis... tapi saya ketawa juga... duuh, ini kenapa sih... saya mau, Pak. Saya mau banget."
Randu tertawa. Tawa yang lepas, yang membuat beberapa orang di meja lain menoleh. Dia ingin sekali meraih tangan Sonja, tapi dia menahannya sebentar, lalu mengangkat telapak tangannya di atas meja, terbuka, menunggu.
"Boleh?"
Sonja meletakkan tangannya di telapak itu. Hangat. Besar. Sedikit gemetar.
"Jangan panggil Pak lagi ya." Kata Randu pelan. "Aku pacarmu sekarang. Bukan direksi."
Sonja mengusap air matanya dengan tangan yang bebas. Pipinya merah, matanya sembap, maskaranya pasti sudah luntur ke mana-mana. Tapi dia tersenyum, dengan gingsul dan lesung pipi yang paling dalam.
"Iya... Mas."
Dari arah pintu masuk food court, terdengar pekikan tertahan. Dua kepala menyembul dari balik pilar dekat lift. Mya, dengan ponsel teracung merekam. Daniel, dengan mulut menganga dan tangan menutupi mulut Mya yang berusaha berteriak.
"Kalian ngapain di situ?!" Seru Randu.
"Lewat!" Jawab Daniel cepat.
"Lewat dari mana? Lift ke sini cuma satu arah!"
"Ya udah, kami ngintip! Puas lu?!" Mya akhirnya berhasil melepaskan diri dari bekapan Daniel, berlari ke meja mereka dan langsung memeluk Sonja dari belakang. "Neng! Neng! Lu jadian! Hari ke dua puluh empat! Tantangan gue berhasil sebelum tiga puluh hari!"
"Tantangan apa?" Tanya Randu bingung.
"Bukan apa-apa!" Sonja dan Mya menjawab bersamaan.
Daniel menyusul, menepuk-nepuk punggung Randu keras-keras. "Akhirnya, bro! Akhirnya! Gue kira lu bakal nunggu sampai rendang ke seratus!"
Randu tidak menanggapi. Dia mengambil ponselnya dan menekan satu nomor. Sonja melihat nama di layar. Ibu.
"Assalamualaikum, bu."
"..........................."
"Bu, Sonja mau, bu. Jadi pacar Randu."
Hening sedetik. Lalu dari speaker ponsel itu, cukup keras sampai terdengar ke seluruh meja, bahkan ke meja sebelah, meledak sebuah teriakan yang membuat Randu harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"YA ALLAH! ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAH YA RABB! NDU! SONJA! YA ALLAH IBU SENENG BANGET! IBU MAU SUJUD SYUKUR! NDU, SONJA DI SITU? KASIH TELEPONNYA KE SONJA!"
Randu mengulurkan ponsel itu pada Sonja, dengan tawa yang tidak bisa dia tahan. Sonja menerimanya, dan sebelum dia sempat mengucapkan salam, suara Lies yang sudah terisak bahagia memenuhi telinganya.
"Nduk... nduk... makasih ya nak. Makasih sudah mau sama anak tante yang keras kepala itu."
Sonja tidak bisa menjawab. Dia hanya menangis lagi, sambil tertawa, sambil memegangi tangan Randu di bawah meja. Di luar, hujan rintik masih turun. Tapi bagi Sonja, langit Jakarta siang itu adalah langit paling cerah yang pernah dia lihat.