Jam sepuluh malam, acara lamaran mulai bubar. Tamu-tamu berpamitan, panitia sibuk melipat taplak. Lies sudah menguap tiga kali dan bilang ingin cepat pulang, karena kepalanya mulai keliyengan lagi.
"Ibu ikut Mya saja ya, Ndu. Mya katanya mau lewat rumahmu. Sekalian ibu mau numpang tanya-tanya soal krim malam." Kata Lies sambil mengedipkan mata, dengan cara yang sama sekali tidak halus. "Kamu antar Sonja ke kontrakannya. Kalau Sonja mau."
"Tante..." Sonja mau protes, tapi Mya sudah merangkul Lies dan menggiringnya ke mobil, sambil melambai ke belakang tanpa menoleh.
"Dah, neng! Pulangnya hati-hati! Ndu, inget, utuh tanpa kurang suatu apapun!"
Lalu mereka hilang. Tinggal Sonja dan Randu di depan pagar rumah keluarga Edel, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.
"Mereka bersekongkol ya." Kata Randu datar.
"Kayaknya iya, Pak."
"Kamu mau kuantar? Atau mau kupesankan taksi online? Dua-duanya gak papa."
Sonja menatapnya. Tiga minggu lalu, Randu tidak akan bertanya. Dia akan langsung membukakan pintu mobil dan menyuruhnya masuk. Atau malah menyuruhnya pulang sendiri tanpa menoleh.
"Diantar, Pak."
***
Jalanan Jakarta Sabtu malam masih ramai, tapi lancar. Radio di mobil Randu memutar lagu-lagu lama tahun sembilan puluhan. Sonja duduk di kursi depan, memegangi tas kecilnya, menatap lampu-lampu kota yang lewat.
Kali ini keheningan di antara mereka tidak terasa seperti kuburan. Lebih seperti sore hari sesudah hujan. Tenang, sedikit basah, dan wangi.
"Sonja." Panggil Randu di lampu merah dekat Mampang.
"Ya, Pak?"
"Aku mau ngomong sesuatu. Tapi kamu jangan ketawa."
"Saya gak janji, Pak."
Randu tersenyum sedikit, lalu wajahnya kembali serius. Jari-jarinya mengetuk setir.
"Belakangan ini aku sering mikirin kamu." Katanya. "Bukan soal bekal. Ya, soal bekal juga sih. Tapi bukan cuma itu. Hari Jumat waktu kamu gak bawa bekal, aku nyariin. Pagi-pagi di lobi aku nunggu kamu lewat. Aku nulis pesan ke kamu terus kuhapus lagi, terus kutulis lagi. Kayak anak SMA."
Sonja tidak bergerak. Dia takut, kalau dia bergerak sedikit saja, ini semua akan pecah seperti gelembung sabun.
"Tadi waktu Gilang ngajak kamu foto, aku sadar sesuatu." Lanjut Randu. "Aku gak suka lihat kamu sama orang lain. Itu gak adil, karena aku gak punya hak apa-apa atas kamu. Tapi itu yang aku rasakan. Dan aku pikir kamu harus tahu, daripada aku bikin kamu nebak-nebak lagi kayak di Terminal 3."
Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson. Randu kembali melaju.
Sonja memandangi tangannya sendiri. Jari-jarinya sedingin es. Ini dia. Ini saatnya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mya tidak ada di sini. Tante Lies tidak ada. Hanya ada dia dan Randu, dan lagu tahun sembilan puluhan yang terlalu manis.
"Pak." Suaranya bergetar. "Saya juga mau ngomong sesuatu. Dan Bapak juga jangan ketawa."
"Aku janji."
"Saya..." Sonja menelan ludah. "Saya suka sama Bapak. Dari dulu. Dari jaman kuliah."
Randu menoleh cepat. Mobil sedikit oleng, lalu dia buru-buru meluruskan setir.
"Dari kuliah?"
"Iya. Waktu itu Bapak pernah ke kampus ketemu Bintang. Saya lihat Bapak dari jauh, terus ketahuan, terus saya kabur. Terus saya pernah dua kali ke rumah ibu Bapak, sama teman-teman Bintang. Yang kedua, saya lagi lihat-lihat foto keluarga di ruang tamu, terus ketahuan Tante Lies." Sonja tertawa kecil, gugup. "Habis itu... Bapak datang. Sama Kak Debby. Kalian mau makan siang. Terus saya gugup banget, sampai sendok saya jatuh. Terus saya buru-buru pamit. Bapak sempat bilang, loh kok buru-buru makannya mbak, gak papa temani kami makan."
Hening. Lama sekali.
Randu menepikan mobil di pinggir jalan, di depan sebuah minimarket yang lampunya terang benderang. Dia mematikan radio. Lalu dia menatap Sonja, benar-benar menatapnya, seolah baru pertama kali melihat wajah itu.
Ingatan itu datang perlahan, seperti foto lama yang dicelup ke cairan pencuci. Rumah ibu yang dulu. Meja makan dengan taplak kotak-kotak merah. Masakan ibu yang tinggal sedikit karena teman-teman Bintang sudah makan duluan. Dan seorang gadis tinggi kurus, berponi, menunduk dalam-dalam, menjatuhkan sendok sampai berdenting di lantai, lalu memungut butir-butir nasi dengan tangan gemetar, lalu pergi tergesa tanpa menoleh.
Punggung itu. Punggung yang di malam sesudah Terminal 3 berjalan cepat ke mobil Mya. Punggung yang sama.
"Itu kamu." Bisik Randu.
"Itu saya, Pak."
"Ya Allah." Randu mengusap wajahnya dengan dua tangan. "Itu kamu. Gadis yang menjatuhkan sendok. Aku ingat. Dan di kampus, aku pernah nanya ke Bintang, siapa tuh, kok aneh penampakannya. Ya Allah, aku pernah ngomong gitu."
"Iya. Saya memang aneh, Pak. Si Gadis Aneh. Itu julukan saya di kampus." Sonja tersenyum, tapi matanya basah. "Makanya Bapak gak ingat. Saya memang gampang dilupakan."
"Bukan." Randu menggeleng keras. "Bukan kamu yang gampang dilupakan, Sonja. Aku yang gak pernah benar-benar melihat."
Dia bersandar ke kursi, menatap langit-langit mobil. Ingatan lain datang. Malam itu, di dapur, sambil makan mi kuah pedas. Karena Sonja sukanya padamu, Ndu, bukan ke Bintang. Ibu tahu.
Dan dia membentak. Gak mau bu! Terserah mau suka sama siapa, yang pasti Randu gak mau!
Ibu benar. Dari awal, ibu benar. Gadis di rumah sakit yang menunggui Bintang semalaman, yang selalu kikuk di dekatnya tapi tertawa lepas di dekat Bintang. Bukan karena dia suka Bintang. Justru karena dia tidak suka Bintang, dia bisa santai. Dan karena dia suka padanya, dia gugup.
Betapa bodohnya aku.
"Pak?" Sonja memanggil pelan. "Bapak marah?"
"Marah?" Randu menoleh, menatapnya dengan mata yang aneh. Seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang. "Sonja, aku gak marah. Aku cuma... aku cuma sadar aku bodoh banget. Ibuku sudah bilang dari dulu. Aku gak percaya. Aku kira kamu sukanya sama Bintang."
"Semua orang mengira gitu, Pak. Bintang juga."
"Kenapa kamu gak pernah bilang?"
"Bilang apa? Halo Pak, saya gadis yang dulu jatuhin sendok, saya naksir Bapak sejak kuliah, maaf Bapak lagi pacaran sama Kak Debby enam tahun ya?" Sonja tertawa, akhirnya, dan air mata yang tadi tertahan ikut jatuh. "Saya gak segila itu, Pak."
Randu ikut tertawa. Tawa pelan, getir, sekaligus lega. Dia mengambil tisu dari dashboard dan mengulurkannya pada Sonja. Tidak mengusap air matanya sendiri, hanya mengulurkan.
Sonja menerimanya.
Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi sesudah itu. Randu menyalakan mesin, kembali ke jalan, dan mengantar Sonja sampai depan kontrakan. Sebelum turun, Sonja sempat menoleh.
"Pak, tadi Bapak janji gak ketawa."
"Kamu juga."
"Kita berdua ingkar janji ya, Pak."
"Iya." Randu tersenyum. "Selamat malam, gadis sendok."
Sonja menutup pintu mobil dan berlari kecil ke teras, menutupi wajahnya yang semerah tomat. Randu menunggu sampai lampu ruang tamu kontrakan menyala, baru dia pergi.
Di sepanjang jalan pulang, dia tidak menyalakan radio. Dia hanya memikirkan satu hal. Bagaimana caranya meminta maaf pada ibunya, karena sudah menolak sesuatu yang ternyata selama ini ada di depan matanya sendiri.