Makan siang hari Senin itu berakhir dengan Sonja benar-benar memesan menu termahal: steak wagyu di restoran lantai dasar gedung sebelah, yang harganya membuat Randu sempat menelan ludah.
"Kamu serius?"
"Bapak yang bilang anggap saja bayar utang rendang. Rendang saya mahal, Pak. Empat jam." Jawab Sonja kalem, lalu memotong steaknya dengan anggun. Dia tidak memberi tahu Randu bahwa dia memesan itu karena Mya bertaruh lima puluh ribu dia tidak akan berani.
Randu tertawa, dan membayar tanpa protes. Sejak siang itu, kotak bekal kucing kembali bolak-balik. Tidak setiap hari, hanya Selasa dan Kamis. Jadwal yang Sonja tetapkan sendiri, dan Randu mematuhinya tanpa berani minta tambahan.
***
Sabtu malam, rumah orang tua Edel di kawasan Kemang dipenuhi lampu-lampu kecil berwarna kuning yang dililitkan di pohon-pohon halaman. Tamu-tamu berbatik dan berkebaya memenuhi tenda putih di halaman belakang. Ada meja prasmanan panjang, ada pemain kecapi yang memetik lagu-lagu lama, dan ada sudut foto berhias bunga mawar putih dengan tulisan Edel & Daniel.
"Ya ampun, Mya. Ini lamaran apa resepsi sih? Megah banget." Bisik Sonja sambil menarik-narik ujung lengan dress-nya. Dress satin warna hijau zaitun, lengan tiga perempat, panjang semata kaki. Pilihan Mya, tentu saja. Kali ini lehernya tertutup sopan, karena Sonja bersikeras.
"Namanya juga anak bos, neng. Lamaran aja kayak gini, nikahan ntar bisa nyewa GBK." Mya merapikan rambut Sonja yang dibuat bergelombang. "Dah, jangan nunduk. Lu cantik banget malam ini. Kalau Randu gak ngomong apa-apa, berarti matanya katarak."
Randu datang setengah jam kemudian bersama Lies. Dia memakai batik lengan panjang warna cokelat tua dengan motif parang. Begitu melihat Sonja di dekat meja minuman, langkahnya melambat.
Sonja menahan napas. Siap-siap. Pasti dia bakal komentar. Kenapa pakai baju itu? Terlalu ini, terlalu itu.
"Hai." Sapa Randu. Dia berhenti dua langkah di depan Sonja, menatapnya, lalu berdeham pelan. "Kamu cantik malam ini, Sonja."
Itu saja. Tanpa tapi.
Sonja mengerjap. "Makasih, Pak. Bapak juga..." Dia melirik batik parang itu. "Bapak juga rapi. Kayak mau ngelamar."
"Bukan aku yang mau ngelamar."
"Siapa tahu, Pak. Ketularan." Sonja tersenyum, memamerkan gingsulnya, lalu berbalik menuju Tante Lies sebelum Randu sempat membalas. Di belakangnya, dia bisa merasakan Randu masih berdiri terpaku.
Mya, yang menyaksikan semuanya dari balik gelas es buah, mengacungkan jempol diam-diam.
***
Acara inti berlangsung khidmat. Keluarga Daniel menyampaikan maksud kedatangan, keluarga Edel menerima. Lalu ayah Edel bertanya pada putrinya, di depan semua orang, apakah dia bersedia. Edel, gadis berwajah lembut dengan kacamata bulat dan senyum lebar, menjawab tanpa ragu.
"Saya bersedia, Pa."
Seisi tenda bertepuk tangan. Daniel, yang biasanya tidak bisa diam semenit pun, malam itu tampak gugup luar biasa. Tangannya gemetar waktu memasangkan cincin di jari Edel. Randu yang duduk di barisan keluarga sahabat diam-diam merekam semuanya dengan ponselnya, sambil menahan tawa melihat Daniel hampir menjatuhkan cincin.
Sesudah acara inti, tamu-tamu bergiliran berfoto dengan pasangan yang baru bertunangan. Sonja berdiri di dekat sudut foto, menunggu giliran bersama Mya, ketika seorang lelaki muda berkemeja batik biru menghampirinya.
"Mbak Sonja, ya? Yang suka antar bekal ke lantai delapan?"
Sonja merasakan wajahnya langsung panas. "Eeh... iya. Kok tahu?"
"Satu lantai tahu, mbak." Lelaki itu tertawa ramah. "Saya Gilang, di tim keuangan Pak Daniel. Kita belum pernah kenalan. Mbak sendirian? Mau foto bareng? Itu sudut fotonya bagus, mumpung lagi sepi."
Sonja menoleh mencari Mya. Sepupunya sudah menghilang, ditarik seorang tante yang ternyata pengikut akun Instagram-nya. Sonja kembali menatap Gilang. Lelaki itu sopan, tidak macam-macam. Tapi dia tidak kenal Gilang, dan berfoto berdua dengan lelaki yang tidak dia kenal di acara lamaran bos orang lain rasanya aneh.
"Euum... saya..."
"Boleh aku di sini?"
Suara itu datang dari samping kirinya. Pelan. Hampir seperti bisikan.
Sonja menoleh. Randu berdiri di sana, dua jengkal jauhnya, menatap Sonja, menunggu jawaban.
Sonja tahu Randu bisa saja langsung mengambil tempat di sampingnya. Dulu dia pasti melakukan itu. Menarik tangannya, menyeretnya, tanpa bertanya. Tapi malam ini dia bertanya.
Sonja mengangguk.
Randu melangkah, berdiri di sisinya, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. Lalu dia tersenyum pada Gilang. Senyum ramah, senyum seorang atasan yang baik hati.
"Lang, kamu sudah foto sama Pak Daniel? Itu, dia lagi nyariin tim keuangan buat foto bareng. Katanya mumpung semua pakai batik."
Gilang melirik ke arah sudut foto, di mana Daniel memang sedang melambai-lambaikan tangan ke arah sekumpulan staf lantai delapan. Dia mengangguk, tersenyum pada Sonja dengan sedikit kecewa, lalu pamit sopan.
Hening sebentar di antara mereka.
"Bapak cemburu ya?" Tanya Sonja. Dia tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Mungkin dari es buah. Mungkin dari dress hijau zaitun.
Randu tidak langsung menjawab. Dia memandangi lampu-lampu kecil di pohon.
"Aku gak tahu itu namanya apa." Katanya akhirnya. "Tapi waktu lihat dia ngajak kamu foto, kakiku jalan sendiri ke sini."
Sonja menunduk. Ujung bibirnya tertarik ke atas, tidak bisa ditahan.
"Kakinya Bapak tuh suka jalan sendiri ya. Waktu itu ke Terminal 3, sekarang ke sini."
"Kali ini, setidaknya aku nanya dulu."
"Iya Pak. Kali ini Bapak nanya dulu."
Di sudut foto, Edel yang sedang berpose dengan sepupu-sepupunya melirik ke arah mereka. Dia melihat Randu dan gadis tinggi itu berdiri bersebelahan di bawah lampu kuning, tidak bersentuhan, tapi entah bagaimana terlihat seperti sepasang yang sudah lama saling menunggu. Edel menyikut Daniel dan berbisik di telinganya.
Daniel menoleh. Lalu tersenyum lebar, sangat lebar, dengan mata berbinar seperti anak kecil yang baru dapat mainan.
"Itu dia, sayang. Gadis rendang."
Edel tersenyum penuh arti. "Dia lucu. Dan Randu kelihatan bahagia. Sudah lama aku gak lihat dia senyum kayak gitu."
"Makanya, aku bilang kan." Daniel merangkul tunangannya. "Malam ini dua lamaran sukses. Satu resmi, satu belum sadar."