Panggilan itu masuk hari Sabtu, dua minggu sesudah Terminal 3, tepat ketika Randu dan Daniel sedang main futsal di lapangan sewaan dekat kantor. Ponsel Randu yang tergeletak di bangku penonton bergetar berulang-ulang. Daniel yang sedang istirahat minum melirik layar dan bersiul.
"Ndu! Telepon dari Australia nih! Kode negara plus enam satu!"
Randu berhenti menggiring bola. Bola menggelinding pelan ke kakinya Daniel. Dia berjalan ke pinggir lapangan, mengusap keringat dengan kaos, dan menatap layar ponsel yang masih menyala.
Debby.
"Angkat, bro. Daripada lu kepikiran sampe malam." Kata Daniel, kali ini tanpa nada iseng.
Randu mengangkatnya. Dia berjalan menjauh, ke sudut lapangan dekat jaring yang sobek.
"Halo, Deb."
"Ndu..." Suara Debby terdengar jauh, sedikit bergema. "Maaf ganggu. Di sana siang ya? Di sini sudah sore. Aku baru pulang dari kampus."
"Gak papa. Gimana di sana? Betah?"
"Dingin. Lebih dingin dari yang kubayangkan." Debby tertawa kecil, tawa yang dulu selalu membuat Randu ingin memeluknya. "Ndu, aku mau ngomong sesuatu. Boleh?"
"Boleh."
"Dua minggu ini aku banyak mikir. Soal kita. Soal keputusanku." Ada jeda, napas yang ditarik panjang. "Aku masih sayang kamu, Ndu. Gimana kalau kita coba jarak jauh? Dua tahun aja. Banyak kok yang bisa. Kita video call tiap malam, kamu bisa main ke sini pas libur, aku pulang pas lebaran. Nanti selesai kuliah, kita bicarakan lagi soal... soal ibu, soal lamaran. Gimana?"
Dua minggu lalu, kalimat itu akan menjadi jawaban dari seluruh doa Randu. Dia akan langsung mengiyakan, mungkin sambil berlutut di lapangan futsal sobek ini, tidak peduli Daniel menertawakannya seumur hidup.
Tapi sekarang, yang terlintas di kepalanya justru sticky note kuning yang masih menempel di pinggir layar laptopnya. Dan suara gadis tinggi di lift yang berkata, Bohong deng, Pak, saya cuma pengin lihat Bapak panik.
"Deb." Panggilnya pelan. "Kamu ingat aku bisikin apa di bandara?"
Hening di seberang. Lalu Debby menjawab, suaranya lebih kecil. "Ingat."
"Aku bilang, semoga kamu bahagia. Aku berhenti menunggu." Randu memejamkan mata. "Aku gak bilang itu karena marah, Deb. Aku bilang itu karena aku tahu kalau aku terus nunggu, aku bakal jadi orang yang nyalahin kamu tiap hari. Nyalahin cita-citamu. Kamu gak pantas dapat itu. Dan aku juga gak mau jadi lelaki kayak gitu."
"Ndu, tapi kan..."
"Kamu sudah memilih, Deb. Dan pilihanmu itu bagus. Kamu memang harus kuliah. Aku bangga sama kamu." Randu membuka matanya. Langit siang itu biru, tanpa awan. "Tapi aku juga sudah memilih. Aku gak mau menunggu lagi."
Lama sekali Debby tidak menjawab. Randu mendengar isakan pelan, yang ditahan.
"Ada orang lain?" Tanya Debby akhirnya.
Randu tidak langsung menjawab. Ada orang lain? Belum. Atau... belum dia akui.
"Aku gak tahu, Deb." Jawabnya jujur. "Tapi kalaupun nanti ada, itu bukan alasan aku berhenti. Aku berhenti karena aku sudah selesai menunggu."
"Oke." Suara Debby bergetar. "Oke, Ndu. Makasih sudah jujur. Salam buat ibu ya."
"Kamu juga. Jaga diri di sana. Pakai jaket yang tebal."
Sambungan terputus. Randu berdiri lama di sudut lapangan, memandangi ponselnya. Dadanya terasa kosong, tapi anehnya, kosong yang ringan. Seperti kamar yang baru dibersihkan dari barang-barang lama.
***
"Jadi?" Tanya Daniel waktu Randu kembali ke bangku.
"Dia ngajak LDR."
"Terus?"
"Gue tolak."
Daniel mengangkat alis setinggi-tingginya. "Lu? Randu Alfaresi? Yang kemarin-kemarin galau sampai nendang ban mobil? Nolak Debby?"
"Lu tahu dari mana gue nendang ban mobil?"
"Satpam parkiran cerita. Seluruh gedung tahu, bro." Daniel menyeringai. "Serius lu?"
Randu tidak menjawab. Dia membuka galeri foto di ponselnya. Ratusan foto. Debby di Bandung. Debby di pantai Anyer. Debby di ulang tahunnya yang ke dua puluh tujuh, meniup lilin. Debby dan dia di depan toko perhiasan, waktu mereka masih berencana mencari cincin.
Dia menandai semuanya. Satu folder penuh. Jempolnya berhenti sebentar di atas tombol hapus.
"Ndu, lu yakin? Gak mau disimpan di cloud dulu? Buat kenang-kenangan?" Daniel ikut melongok.
"Kalau gue simpan, gue bakal buka. Kalau gue buka, gue bakal nyesel." Randu menekan tombol itu. Hapus. Lalu masuk ke folder yang baru dihapus, dan menghapusnya lagi, permanen. "Selesai."
Daniel menatap sahabatnya dengan pandangan yang jarang dia tunjukkan. Pandangan seorang sahabat yang sudah menemaninya sejak semester satu, sejak mereka berdua masih makan mi instan di kos sempit dekat kampus.
"Gue bangga sama lu, bro." Katanya. "Beneran."
"Gak usah lebay."
"Oke, gak lebay. Sekarang lu mau ngapain?"
Randu membuka aplikasi pesan. Percakapan dengan Sonja masih sama seperti dua hari lalu. Kotak bekal sudah dia antar ke lantai 27 hari Kamis. Sonja menerimanya dengan anggukan, terima kasih, dan senyum kecil. Belum ada rendang lagi, belum ada godaan di lift lagi. Gadis itu masih menjaga jarak, seperti kucing yang pernah diinjak ekornya.
Dia mengetik.
Sonja, Senin siang kamu ada acara? Kalau tidak, aku mau traktir makan siang. Anggap saja bayar utang rendang. Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa.
Kirim.
"Lu nambahin kalimat kalau tidak mau tidak apa-apa lagi?" Daniel membaca dari balik bahunya. "Ndu, lu lagi ngajak makan siang atau lagi bikin surat pernyataan?"
"Diem lu."
Ponsel bergetar. Cepat sekali. Randu dan Daniel sampai saling pandang.
Boleh, Pak. Tapi saya pesan yang paling mahal ya.
Randu tertawa. Tertawa keras, sampai pemain futsal di lapangan sebelah menoleh. Daniel menepuk punggungnya keras-keras.
"Nah! Itu dia! Dia balik! Gadis rendang balik!" Daniel mengacungkan tinju ke udara. "Eh, ngomong-ngomong, Ndu. Sabtu depan gue lamaran."
Randu berhenti tertawa. "Hah? Sama Edel? Akhirnya?"
"Akhirnya. Dia mau sama gue, bro. Dengan latar belakang gue yang begini. Lu harus datang. Ajak Mya. Mya juga udah gue undang." Daniel menyeringai lebar, lebih lebar dari biasanya. "Dan ajak gadis rendang. Edel pengin kenalan. Gue udah cerita banyak soal dia."
"Lu cerita apa aja?"
"Semua. Termasuk soal lu yang ngeliatin bekal kosong kayak ngeliatin foto almarhum."
Randu melempar botol minum ke arah Daniel. Daniel menangkapnya sambil tertawa, lalu berlari kembali ke lapangan. Randu menatap ponselnya sekali lagi.
Boleh, Pak. Tapi saya pesan yang paling mahal ya.
Dia menyimpan pesan itu di kepala. Dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, dia tidak memikirkan Terminal 3.