Jumat, tidak ada bekal.
Randu baru menyadarinya jam satu siang, ketika perutnya keroncongan dan tangannya refleks melirik sudut meja. Sudut itu kosong. Tidak ada tas kain bergambar kucing, tidak ada sticky note kuning. Hanya tumpukan map laporan klien yang menunggu tanda tangan.
"Lho, katering pribadi lu libur, Ndu?" Daniel melongok dari pintu.
"Bukan katering."
"Iya, iya, bukan katering. Proposal." Daniel masuk, duduk tanpa diundang. "Kenapa? Lu bikin ulah?"
Randu tidak menjawab. Dia membuka ponsel. Semalam, sesudah mengantar ibunya pulang, dia sempat mengirim pesan pada Sonja. Maaf soal tadi. Ibu memang begitu, tapi aku juga kasar. Sampai sekarang, pesan itu hanya bercentang dua. Dibaca, tidak dibalas.
Pagi tadi dia mengirim satu lagi, menanyakan apakah Sonja sudah sarapan. Sama. Dibaca, tidak dibalas.
"Ndu." Daniel mengetuk meja. "Gue tanya sekali lagi. Lu bikin ulah?"
"Ibu datang ke kontrakannya kemarin. Terus terang bilang mau Sonja jadi mantunya. Di depan Sonja, di depan Mya."
"Waduh. Tante Lies gak main-main ya. Terus lu?"
"Gue bilang ibu jangan maksa orang."
"Itu bener sih."
"Terus gue bilang gue belum siap mikirin hal kayak gitu. Ibu tahu kenapa."
Daniel diam sebentar. Lalu dia bersandar ke kursi dan menatap langit-langit. "Bro. Lu tahu gak, itu sama aja lu bilang, maaf ya, gue masih mikirin mantan gue, lu cuma cadangan. Di depan cewek yang tiga hari berturut-turut masakin lu."
"Bukan gitu maksud gue."
"Maksud lu gak penting. Yang dia denger itu yang penting." Daniel berdiri, menepuk bahu Randu. "Selamat. Lu udah berhasil bikin satu-satunya orang yang bikin lu senyum dua minggu ini mundur teratur. Gue bangga. Lu emang jenius soal ngerusak sesuatu."
***
Senin datang. Tidak ada bekal. Tidak ada Sonja di lift pagi. Selasa, sama.
Rabu, Randu mendapati dirinya berdiri di lobi lima belas menit lebih lama dari biasanya, berpura-pura membaca pesan di ponsel, menunggu sesosok gadis tinggi yang biasanya datang jam tujuh lewat dua puluh. Gadis itu tidak muncul. Mungkin dia datang lebih pagi. Mungkin dia sengaja lewat lift barang.
Sial. Kenapa aku nyariin dia?
Dia sudah setengah jalan menekan tombol lift ke lantai dua puluh tujuh, sebelum menariknya kembali. Tidak. Kalau Sonja sedang menghindar, mendatanginya ke meja kerja di depan rekan-rekannya hanya akan membuatnya terpojok. Sonja tidak suka jadi pusat perhatian. Senin lalu, ketika Daniel berteriak-teriak soal rendang, wajah gadis itu merah sampai ke telinga. Dan dia tetap berdiri di situ, demi menyampaikan kalimat yang pasti sudah dia latih semalaman.
Randu menekan tombol lift ke lantai delapan. Lalu dia mengirim pesan, bukan pada Sonja, tapi pada Mya.
"Mya, Sonja suka kopi apa?"
"Kenapa lu nanya?"
"Jawab aja."
"Kopi susu gula aren, less sugar, es batunya dikit. Kalau lagi capek, tambah satu shot. Kenapa? Lu mau nyogok?"
"Gue mau nitip. Lu bisa?"
Butuh dua menit sebelum Mya membalas. "Bisa. Tapi gue gak janji dia mau minum."
"Gak papa."
***
Rabu malam, jam delapan lewat. Lantai dua puluh tujuh sudah sepi. Hanya bagian accounting yang lampunya masih menyala, karena tutup buku akhir bulan tidak mengenal kata pulang tepat waktu. Sonja menggeliat di kursinya, matanya perih karena menatap angka-angka di layar sejak siang.
Mya sudah pulang jam enam, katanya ada acara endorse. Sebelum pergi, dia meletakkan sesuatu di sudut meja Sonja tanpa berkata apa-apa, lalu melambai sambil bersiul tidak jelas.
Sonja baru melihatnya sekarang. Segelas kopi susu gula aren dalam gelas plastik, es batunya sudah mencair separuh. Di gelasnya tertempel sticky note. Bukan kuning. Biru, warna yang tidak pernah Sonja punya.
Tulisan tangannya rapi, agak miring ke kanan.
Kalau kamu butuh tumpangan pulang, kabari. Kalau tidak, tidak apa-apa. — R.
Sonja menatap catatan itu lama sekali.
Dia belum pernah melihat tulisan tangan Randu sebelumnya. Rapi, agak condong, seperti orangnya yang selalu sedikit membungkuk ke depan kalau sedang berjalan buru-buru. Tulisan seorang lelaki yang, sebelas hari lalu, menariknya ke Terminal 3 tanpa bertanya, lalu enam hari lalu berkata di depannya bahwa dia belum siap.
Dan sekarang dia menulis, kalau tidak, tidak apa-apa.
Sonja menyedot kopi itu. Dingin, encer karena es yang mencair, tapi manisnya pas. Less sugar. Pasti Mya yang kasih tahu.
Dia membuka ponsel. Ada sebelas pesan dari Randu sejak Kamis lalu, semuanya belum dibalas. Maaf soal tadi. Sudah sarapan? Kotak bekalmu masih di aku, kubersihkan. Hari ini hujan, kamu bawa payung? Dan seterusnya. Pesan-pesan pendek, tanpa menuntut jawaban.
Jempolnya melayang di atas layar. Kabari. Tinggal ketik, Pak, saya masih di kantor. Lalu turun ke lobi, masuk SUV hitam itu, duduk di kursi depan, dan membiarkan dirinya berharap lagi.
Tidak. Belum.
Sonja menutup aplikasi pesan dan membuka aplikasi ojek online. Lima menit kemudian dia sudah di lobi, memakai helm hijau yang bau keringat abang ojek, dengan gelas kopi kosong di dalam tas. Sticky note biru itu dia selipkan di dompet, di antara KTP dan kartu ATM.
Di sepanjang perjalanan pulang, angin malam Jakarta menampar wajahnya. Dia tidak menangis. Hanya saja, untuk pertama kalinya sejak Kamis lalu, dadanya tidak terasa seberat sebelumnya.
***
Kamis pagi, jam enam lewat lima, ponsel Randu bergetar di atas nakas. Dia meraihnya dengan mata masih setengah terpejam.
Sonja.
Randu langsung terduduk.
Isinya pendek. Terima kasih kopinya, Pak. Semalam saya pulang naik ojek. Maaf baru balas.
Randu membacanya tiga kali. Lalu dia mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi. Akhirnya hanya satu kalimat yang dia kirim.
Sama-sama. Kotak bekalmu masih di aku. Boleh kuantar ke lantai 27?
Balasan datang dua belas menit kemudian. Dua belas menit yang terasa seperti dua belas jam, selama itu Randu sempat mandi kilat dan hampir lupa memakai sabun.
Boleh, Pak.
Hanya dua kata. Tapi Randu tersenyum sampai Lies yang sedang menyiapkan sarapan di dapur menoleh curiga.
"Kenapa kamu, Ndu? Pagi-pagi senyum-senyum sendiri. Kesambet?"
"Gak papa, bu."
Lies menyipitkan mata. Dia tidak bertanya lagi. Tapi sambil mengaduk kopi, bibirnya ikut tersenyum diam-diam.