Selasa, ayam kecap. Rabu, telur balado dengan tempe orek. Kotak bekal kucing itu bolak-balik antara lantai 27 dan lantai 8 seperti tukang pos yang rajin.
Hari Rabu pagi, Sonja bahkan melakukan sesuatu yang membuat Mya menjerit bangga sampai tersedak kopi. Dia satu lift dengan Randu dari lobi. Hanya berdua, karena lift lain sedang penuh. Biasanya dia akan mepet ke pojok seperti kucing basah. Kali ini dia berdiri di tengah, tepat di sebelah Randu, dan sesudah menghitung sampai sepuluh di dalam hati, dia menoleh.
"Pak, dasinya miring."
"Hah? Masa?" Randu langsung meraba dasinya, menunduk, membetulkan simpul yang sebenarnya sudah sempurna. "Udah?"
"Masih, Pak. Ke kiri dikit."
Randu menggeser lagi. "Sekarang?"
"Bohong deng, Pak. Dari tadi udah rapi kok." Sonja menahan tawa sampai bahunya bergetar. "Saya cuma pengin lihat Bapak panik."
Randu menatapnya dengan mulut setengah terbuka. Lift berdenting di lantai delapan. Pintu terbuka, dan Randu melangkah keluar, lalu berbalik dengan telunjuk teracung.
"Awas kamu ya."
Pintu menutup sebelum dia sempat menambah apa pun. Sonja tertawa sendirian di dalam lift sampai lantai dua puluh tujuh, sambil memegangi dadanya yang berdebar seperti habis lari pagi keliling taman.
Duuh, Sonja. Kamu barusan ngerjain direksi. Kamu bisa dipecat. Eeh, gak bisa deng, kita kan beda kantor. Hehe...
***
Kamis sore, Sonja baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut dengan handuk ketika bel kontrakan berbunyi. Mya, yang sedang maskeran di sofa dengan wajah hijau seperti alien, menendang kaki Sonja.
"Bukain, neng. Muka gue lagi gak bisa diajak bersosialisasi."
Sonja membuka pintu dengan handuk masih melilit di kepala, dan membeku.
Tante Lies berdiri di depan pintu, tersenyum lebar, membawa tas kain besar. Di belakangnya, Randu memeluk dua kardus yang diikat tali rafia, wajahnya kaku seperti orang yang diseret ke dokter gigi.
"Assalamualaikum, nduk. Tante ganggu ya?"
"Wa... waalaikumusalam, Tante! Eeh enggak, enggak ganggu kok. Masuk Tante, masuk." Sonja buru-buru menarik handuk dari kepalanya, membuat rambut basahnya berantakan ke mana-mana. Di belakangnya terdengar suara Mya memekik dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci masker.
Randu meletakkan kardus di lantai ruang tamu. Dia sempat melirik Sonja, rambut basah, kaos oblong kebesaran bergambar Doraemon, celana training, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke dinding.
"Ini oleh-oleh dari kampung, nduk. Dari dulu mau tante kasih, waktu Bintang masih di rumah sakit itu, tapi kok ya ketunda terus. Ada kerupuk, ada wajik, ada sambel pecel. Ada juga baju batik, tante pilihkan sendiri warnanya. Semoga cocok." Lies duduk di sofa, menepuk tempat di sebelahnya.
"Ya Allah Tante, kok repot-repot banget. Saya kan cuma bantu sedikit."
"Sedikit apanya, nak. Kamu itu nyelametin nyawa anak tante. Gak ada yang sedikit dari itu."
Mya muncul dari kamar mandi dengan wajah sudah bersih tapi masih memerah. "Halo Tante! Eh ada Randu juga. Tumben lu mau disuruh-suruh."
"Disuruh ibu." Jawab Randu pendek.
Sonja membuatkan teh. Mya mengeluarkan kue kering dari toples. Lies bercerita tentang Bintang yang sudah mulai kerja di Palembang, tentang kosnya yang dekat sungai, tentang Bintang yang katanya sudah bisa masak mi sendiri, "Lha wong mi instan, Ndu, ya bisa lah. Ibu lho ditipu."
Sampai di situ semua terasa hangat. Sonja bahkan sudah bisa tertawa lepas. Sampai Lies meletakkan cangkir tehnya, menggenggam tangan Sonja, dan menatapnya lekat.
"Nduk, tante mau ngomong terus terang ya. Tante ini sudah tua, gak suka muter-muter."
Perasaan Sonja mendadak tidak enak. Di sudut ruangan, Randu menegakkan punggung.
"Bu..." Randu memperingatkan.
"Diam dulu kamu, Ndu." Lies tidak menoleh. "Sonja, tante ini pengin punya mantu. Dan dari semua gadis yang tante kenal, tante paling pengin kamu. Kamu baik, kamu berani, kamu sopan sama orang tua. Kamu nyelametin Bintang. Tante gak tahu bagaimana caranya membalas, selain..."
"Ibu." Suara Randu meninggi. Dia sudah berdiri. "Ibu jangan memaksa orang."
Ruangan sunyi. Mya berhenti mengunyah kue kering.
"Sonja itu punya hidup sendiri, bu. Punya perasaan sendiri. Ibu gak bisa datang ke rumah orang, terus menyodorkan anak ibu kayak menyodorkan sambel pecel." Randu menarik napas. Suaranya turun, tapi tetap tegas. "Dan aku juga belum siap memikirkan hal seperti itu. Ibu tahu kenapa."
Lies menatap putranya lama. Lalu menatap Sonja. Gadis itu tersenyum. Senyum sopan yang rapi, dengan lesung pipi dan gigi gingsul yang terlihat. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa ada yang baru saja retak di dalam.
"Gak papa kok Tante. Pak Randu benar." Sonja meremas tangan Lies dengan lembut, lalu melepaskannya. "Saya senang banget Tante sayang sama saya. Itu sudah cukup kok. Beneran."
"Nduk..."
"Tante mau tambah tehnya? Saya bikinin lagi ya." Sonja berdiri, mengambil cangkir Lies yang masih setengah penuh, dan berjalan ke dapur dengan langkah yang terlalu cepat.
Mya melirik Randu. Tatapan yang, kalau bisa membunuh, sudah membuat Randu terkapar di karpet.
***
Setengah jam kemudian, Lies dan Randu berpamitan. Sonja mengantar sampai pintu, mencium punggung tangan Lies, tersenyum lagi, melambai. Randu sempat menoleh dari pagar, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi Sonja sudah menutup pintu.
Begitu pintu tertutup, senyum itu luruh.
Sonja masuk kamar, mengunci pintu, dan duduk di lantai bersandar ke ranjang. Air mata turun tanpa suara. Dia tidak tahu kenapa rasanya sesakit ini. Bukankah Randu benar? Bukankah memang tidak boleh ada yang dipaksa? Dia sendiri juga tidak mau dinikahi karena hutang nyawa.
Tapi cara Randu mengatakannya. Dan aku juga belum siap memikirkan hal seperti itu. Ibu tahu kenapa.
Karena Debby. Selalu Debby.
Tiga hari dia membawakan bekal. Tiga hari dia menggoda di lift, mengirim kotak dengan sticky note, belajar berdiri di tengah ruangan alih-alih di pojok. Dan dalam satu kalimat, semuanya kembali ke titik nol. Dia kembali menjadi gadis yang disodorkan, dan ditolak di depan sepupunya sendiri.
Ketukan pelan di pintu.
"Sonja." Suara Mya, tanpa candaan sama sekali. "Gue gak bakal maksa lu buka pintu. Gue cuma mau bilang, gue ada di sofa. Semalaman kalau perlu."
Sonja tidak menjawab. Tapi dia mendengar Mya tidak beranjak dari depan pintu itu sampai lama, lama sekali.
Di dalam mobil yang melaju pulang, Lies memandangi jalanan tanpa bicara. Randu menyetir dengan rahang mengeras.
"Ibu marah?" Tanya Randu akhirnya.
"Ibu gak marah, Ndu." Lies menghela napas. "Ibu cuma sedih. Kamu benar, ibu gak boleh memaksa. Tapi kamu tadi gak lihat matanya ya? Pas dia senyum itu?"
Randu tidak menjawab. Dia melihat. Itulah masalahnya. Dia melihat, dan sejak tadi dadanya terasa seperti ditekan batu.