Senin, jam dua belas lewat tujuh menit. Sonja berdiri di depan lift dengan tas kain berisi kotak bekal dua susun. Isinya nasi hangat, rendang yang semalam dia masak sampai jam sebelas dengan bantuan YouTube dan omelan Mya, sayur buncis, dan sambal hijau di wadah kecil terpisah.
Di tutup kotak bekal, dia menempelkan sticky note kuning. Tulisannya dia ganti empat kali sejak subuh. Versi terakhir, yang akhirnya lolos sensor Mya:
Jangan dikembalikan kalau belum habis. Yang masak tersinggung. — S.
Lift berdenting. Pintu terbuka. Kosong.
Sonja masuk, menekan angka delapan. Jarinya gemetar sedikit. Pintu menutup, dan angka di atas pintu mulai turun. Dua puluh enam. Dua puluh lima. Dua puluh empat.
Ya Allah, hamba mohon, semoga Pak Randu sedang di luar. Eeh, jangan deng. Nanti rendangnya sia-sia. Semoga dia ada, tapi Pak Daniel gak ada. Aamiin.
Doa itu terkabul separuh.
Lantai delapan lebih ramai dari yang dia bayangkan. Ruangannya terbuka, dengan meja-meja staf di tengah dan beberapa ruang berdinding kaca di pinggir. Bau kopi dan kertas printer. Orang-orang baru kembali dari makan siang, beberapa masih membawa gelas es teh plastik.
Seorang staf perempuan berkacamata menghampirinya. "Cari siapa, mbak?"
"Pak... Pak Randu. Ada?"
"Oh, ada. Itu ruangannya, yang pintu kaca ujung. Tapi lagi ada Pak Daniel."
Duuh. Gagal separuh.
Sonja berjalan ke ujung, melewati deretan meja. Dia bisa merasakan mata-mata yang mengikutinya. Gadis tinggi dengan blouse kuning gading dan tas kain bergambar kucing, membawa bekal ke ruangan Pak Randu. Besok pasti jadi bahan obrolan pantry.
Pintu kaca itu setengah terbuka. Randu duduk di balik meja, kemejanya digulung sampai siku, sedang menunjuk sesuatu di layar laptop. Daniel duduk di kursi tamu dengan kaki disilangkan, memutar-mutar pulpen.
Sonja mengetuk.
Dua kepala menoleh bersamaan. Randu mengerjap. Daniel berhenti memutar pulpen.
"Sonja?" Randu berdiri. "Ada apa? Ada masalah sama Mya?"
"Eng... enggak, Pak." Sonja maju dua langkah, meletakkan tas kain di sudut meja Randu. Tangannya dingin. "Ini... buat Bapak. Makan siang. Rendang."
Hening.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Lalu Daniel bersiul. Panjang. Keras. Sampai staf-staf di luar ruangan menoleh.
"Waduh, waduh, waduh! Ada yang dapat kiriman nih! Rendang, pula! Tahu gak lu Ndu, rendang itu masakan yang butuh empat jam. Empat jam, bro! Ini bukan bekal, ini proposal!"
"Dan." Desis Randu.
"Mbak Sonja, kan? Yang di lift itu?" Daniel sudah berdiri, berjalan ke pintu dan dengan sengaja membukanya lebar-lebar. "Teman-teman! Tolong jadi saksi! Bapak Randu Alfaresi yang baru resmi jomlo ini, hari Senin, pukul dua belas, menerima rendang dari seorang nona!"
Beberapa staf tertawa. Seseorang bertepuk tangan. Seseorang lain menyeletuk, "Cie, Pak Randu!"
Sonja ingin lantai terbuka dan menelannya bulat-bulat. Mukanya pasti sudah semerah sambal balado. Tapi dia memaksa diri tetap berdiri, tidak lari. Belum. Ada satu hal lagi yang harus dia katakan. Mya sudah melatihnya semalam, tiga belas kali, sampai bisa diucapkan tanpa tergagap.
"Pak Randu." Katanya, cukup keras untuk mengalahkan tawa Daniel. "Kotaknya dikembalikan ya. Kalau sudah habis. Kalau belum habis, jangan."
Randu memandanginya. Lalu memandangi sticky note kuning di tutup kotak. Sudut bibirnya bergerak, seperti menahan sesuatu.
"Kalau sudah habis, aku kembalikan ke lantai 27?"
"Iya Pak."
"Langsung ke mejamu?"
"I... iya Pak."
"Oke." Randu mengangguk pelan, menatapnya lurus. "Terima kasih, Sonja. Aku belum makan dari pagi."
Itu dia. Itu yang Sonja butuhkan. Dia menunduk, mengangguk cepat, berbalik dan berjalan, setengah berlari, ke arah lift. Di belakangnya, Daniel masih berteriak, "Mbak! Besok saya juga mau! Saya suka semur jengkol!"
Pintu lift tertutup. Sonja bersandar ke dinding lift dan menutup wajah dengan dua tangan.
Ya Allah. Aku ngelakuin itu. Aku beneran ngelakuin itu.
Dia tertawa sendiri. Tertawa sambil malu, sambil gemetar, sambil ingin menangis. Lift naik ke lantai dua puluh tujuh, dan Sonja Januar keluar dari situ dengan senyum lebar yang memamerkan gigi gingsulnya, sampai resepsionis lantai dua puluh tujuh mengira dia baru dapat bonus.
***
Di lantai delapan, Randu menatap kotak bekal di mejanya.
"Lu mau makan itu sekarang, atau mau dipandangin sampai basi?" Tanya Daniel yang sudah duduk lagi.
"Lu keluar dulu, Dan."
"Kenapa? Takut gue minta?"
"Iya."
Daniel tertawa, tapi tetap berdiri dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar dia menoleh. "Ndu, gue serius nih. Dari Debby ke gadis itu emang jauh. Tapi bukan berarti ke bawah. Bisa jadi ke samping. Atau ke atas. Mikir lu."
Pintu kaca tertutup. Randu membuka kotak bekal itu. Wangi rendang langsung menguar, membuat perutnya berbunyi tidak tahu malu. Dia mencabut sticky note kuning itu, membacanya sekali lagi, lalu, entah kenapa, menempelkannya di pinggir layar laptop.
Rendangnya empuk. Bumbunya meresap. Sambal hijaunya pedas sampai keningnya berkeringat. Tanpa sadar, Randu menghabiskan semuanya. Sampai butir nasi terakhir.
Dia meraih ponsel, membuka percakapan dengan Mya.
"Mya, minta nomer Sonja dong."
Balasan datang kurang dari sepuluh detik. "Buat apa lu?"
"Mau bilang makasih."
"Bilang langsung lah. Kan katanya kotaknya mau dibalikin ke lantai 27. Masa makasihnya lewat pesan, cemen lu."
"Mya."
"Iya iya, gue kirim. Tapi kalau lu bikin dia nangis lagi kayak Sabtu kemarin, gue kirim satpam ke lantai lu."
Lalu sebuah kontak masuk. Sonja. Randu menyimpannya, menatap nama itu beberapa saat, dan menyadari bahwa sejak Sabtu malam, ini pertama kalinya dia tidak memikirkan Debby selama hampir satu jam penuh.
***
Sore itu, jam lima kurang sepuluh, lift berhenti di lantai 27. Randu keluar membawa kotak bekal yang sudah dicuci bersih di pantry. Sonja yang sedang membereskan meja di bagian accounting mendongak, dan pulpen di tangannya jatuh menggelinding ke kolong.
"Habis." Kata Randu, meletakkan kotak itu di mejanya. "Gak ada yang tersisa. Yang masak gak perlu tersinggung."
Sonja menunduk mencari pulpennya, lebih karena ingin menyembunyikan wajah daripada butuh pulpen.
Tapi kali ini, dia mengangkat kepalanya lagi. Sebelum Randu berbalik, dia sempat berkata.
"Besok Bapak mau ayam kecap atau telur balado?"
Randu berhenti melangkah. Dan untuk pertama kalinya, Sonja melihat Randu Alfaresi salah tingkah.