"Dia meluk Debby?! Di depan lu?!"
Mya hampir menjatuhkan sebungkus keripik singkong yang baru dibukanya. Jam sudah lewat sepuluh malam. Mereka duduk di karpet ruang tengah kontrakan, Sonja masih memakai dress biru muda itu, lipstik Sisley Hydrating milik Mya sudah luntur separuh karena teh jahe Tante Lies.
"Sebentar doang kok. Terus dia bisik-bisik. Terus Debby yang ganti meluk. Terus aku ditarik pergi kayak..." Sonja mencari kata yang tepat. "Kayak troli bandara, Mya."
"Terus di mobil lu nanya?"
"Nanya."
"Wih, kemajuan. Terus?"
"Katanya dia gak sanggup ketemu Debby sendirian. Takut memohon Debby tinggal." Sonja menarik lututnya ke dada. "Jadi aku tuh tamengnya. Dia sendiri gak membantah kok waktu aku bilang gitu."
Mya meletakkan keripik di lantai. Untuk sekali ini, dia tidak langsung melempar candaan. Dia menatap sepupunya yang duduk meringkuk dengan dress cantik dan wajah sedih, dan rasanya ingin sekali menjitak kepala Randu Alfaresi pakai botol skincare.
"Sonja, dengerin gue."
"Hmm."
"Lu tuh dari kuliah naksir dia. Berapa tahun? Lima? Enam?"
"Jangan dihitung, Mya. Malu."
"Selama itu, berapa kali dia tahu lu ada?"
Sonja diam. Payung polkadot. Sweater. Rumah sakit. Ayam bakar. Dress kependekan. Lagu Intuisi di mobil. Semuanya kebetulan. Semuanya karena Randu baik pada siapa saja, bukan karena dia Sonja.
"Gak pernah ya?" Mya menjawab sendiri. "Lu tahu kenapa? Karena lu selalu nunggu dilihat. Lu berdiri di pojok lift, nunduk, terus berharap dia noleh. Neng, cowok tuh makhluk yang radarnya rusak. Kalau gak dilambai-lambaiin, gak bakal nengok."
"Terus aku harus gimana? Joget di lobi?"
"Godain dia."
Sonja tersedak ludahnya sendiri. "Hah?!"
"Godain. Goda. Tease. To tease him. Paham?" Mya mengangkat jari telunjuk dengan gaya dosen killer. "Gue kasih lu tantangan. Tiga puluh hari. Mulai Senin. Selama tiga puluh hari lu berhenti jadi gadis antara ada dan tiada. Lu tunjukin ke Randu kalau lu ada. Lu bikin dia mikirin lu. Gue yang jadi pelatihnya."
"Gak mau." Jawab Sonja secepat kilat. "Gila apa? Dia baru putus, Mya. Baru aja tadi meluk mantannya. Masa aku nyosor?"
"Siapa yang nyuruh nyosor? Gue bilang godain, bukan nerkam." Mya mendengus. "Godain itu seni, neng. Pelan. Manis. Bikin penasaran. Kayak bumbu rendang, gak boleh buru-buru."
"Tetep gak mau. Lagian dia nganggep aku sukanya sama Bintang. Tadi sore aja dia masih nyindir soal Bintang terus."
"Nah! Justru itu! Selama ini lu diem, makanya dia bikin kesimpulan sendiri. Kesimpulan yang salah pula." Mya mengambil ponselnya. "Atau perlu gue yang ngomong ke dia? Gue tinggal kirim pesan, Ndu, sepupu gue tuh naksir lu dari jaman kuliah, dia nyimpen foto candid lu di kamarnya, di laci kedua, di bawah tumpukan kaos kaki..."
"MYA!" Sonja menerjang ponsel itu. Mya tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Sayangnya Sonja lebih tinggi, ponsel itu berhasil direbut dan langsung disembunyikan di balik punggung.
"Dari mana kamu tahu laci kedua?!"
"Gue HRD, neng. Gue tahu semua rahasia karyawan." Mya mengusap air mata tawanya. "Tenang, tenang. Gue gak bakal kirim apa-apa. Itu rahasia lu. Mau dibuka atau dikubur, lu yang putusin. Gue cuma pengin lu sadar satu hal."
"Apa?"
"Kalau lu diem terus, tiga puluh tahun lagi lu masih nyimpen foto itu di bawah kaos kaki. Terus Randu udah nikah sama cewek lain, punya anak tiga, dan lu dateng ke kondangannya pakai baju abu-abu biar gak keliatan."
Kalimat itu menancap lebih dalam dari yang Mya maksud. Sonja terdiam. Dia membayangkan dirinya di sebuah gedung resepsi, berdiri di antrean salaman, memakai kebaya abu-abu, tersenyum pada Randu dan seorang perempuan cantik di sampingnya. Selamat ya, Pak. Semoga sakinah. Lalu pulang naik ojek, dan tidak ada yang ingat dia pernah datang.
Gadis antara ada dan tiada. Selamanya.
Hening agak lama. Hujan di luar tinggal tetes-tetes dari talang.
"Mya." Panggil Sonja pelan.
"Hmm?"
"Kalau aku coba, terus ternyata dia tetap gak lihat aku, gimana?"
"Ya minimal lu tahu. Lu gak bakal kepikiran lagi kayak gimana rasanya kalau dulu lu berani." Mya mengangkat bahu. "Dan lu boleh berhenti kapan aja. Ini tantangan, bukan kontrak kerja. Gak ada pinalti."
Sonja memandangi kakinya. Kuku-kuku kaki yang tadi sore dipoles Mya warna nude. Dress biru muda. Kalau dipikir-pikir, hari ini dia sudah melakukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan. Bertanya pada Randu, kenapa saya diajak. Kalimat sesederhana itu, yang dulu bahkan tidak berani dia ucapkan dalam hati.
Dan dunia tidak kiamat.
"Oke." Katanya.
"Oke apa?"
"Oke. Aku mau. Tiga puluh hari." Sonja mengangkat dagu, mencoba terlihat berani walau pipinya sudah panas. "Tapi aku yang mutusin caranya. Kamu kasih saran aja. Dan jangan pernah sebut-sebut foto itu ke dia."
Mya memekik, meraih Sonja dan memeluknya sampai keduanya terjungkal ke karpet. "Akhirnya! Akhirnya sepupu gue dewasa! Ibu, bapak, Mas Sandhy, anak kalian akhirnya puber!"
"Mya, sesak!"
"Biarin! Ini pelukan bangga!" Mya melepaskan pelukannya, lalu duduk tegak dengan wajah serius. "Oke. Langkah pertama. Lu bisa masak apa?"
"Hah? Masak? Kok masak?"
"Jawab aja."
"Euum... nasi goreng, ayam kecap, sayur sop, telur balado. Rendang juga bisa kalau dibantu YouTube."
"Sempurna. Senin siang, lu bawain dia bekal."
"Ke lantai delapan?! Ke kantornya?!"
"Ya masa ke rumahnya, ntar dikira mau ngelamar Tante Lies." Mya menyeringai. "Lantai delapan. Jam makan siang. Antar langsung ke mejanya. Jangan dititipin satpam, jangan dititipin OB. Langsung. Ke. Mejanya."
Sonja membayangkan lantai delapan. Tempat orang-orang berjas, berlalu-lalang dengan wajah sibuk. Tempat Daniel, si bos iseng yang mulutnya tidak ada remnya.
Duuh. Kok rasanya aku baru saja mendaftar jadi bahan gosip satu gedung ya?
"Mya, aku boleh mundur gak?"
"Barusan lu bilang tiga puluh hari. Masa baru sepuluh menit udah mau kabur?" Mya berdiri, menepuk-nepuk celananya dari remah keripik. "Besok kita belanja bahan. Gue yang bayar. Anggap aja investasi."
"Investasi apa?"
"Investasi biar gue bisa pensiun dari jadi satu-satunya orang yang dengerin curhat lu soal Randu."
Malam itu Sonja masuk kamar dan membuka lemari. Sweater biru dongker itu masih terlipat rapi di rak paling atas, belum dikembalikan sejak hari hujan itu. Dia menghidunya diam-diam. Wanginya sudah memudar, tapi masih ada.
Tiga puluh hari, Pak Randu. Siap-siap ya.
Lalu dia membenamkan wajah ke bantal dan berteriak tanpa suara, karena keberaniannya sendiri terasa terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus.