Petugas valet menyerahkan kunci SUV hitam itu tepat saat gerimis menebal. Randu membukakan pintu penumpang depan, menunggu Sonja masuk, lalu memutari mobil dengan langkah lebar. Begitu pintu ditutup, suara hujan di atap mobil terdengar seperti ribuan jari yang mengetuk tanpa sabar.
Mobil bergerak meninggalkan Terminal 3. Wiper menyapu kaca depan, ke kiri, ke kanan, ke kiri lagi. Lampu-lampu bandara memanjang di kaca yang basah, berpendar kuning dan merah.
Sonja memeluk shoulder bag putih di pangkuannya. Tangannya masih terasa hangat di bagian yang tadi digenggam Randu. Hangat yang menyebalkan, karena genggaman itu datang sesudah Randu memeluk perempuan lain.
Duuh, Sonja. Jangan geer. Itu tadi bukan gandengan, itu seretan. Kamu tuh diseret kayak koper.
Debby. Perempuan secantik itu, dengan koper dan map dokumen di tangan, dan Randu memeluknya di tengah keramaian. Lalu membisikkan sesuatu. Lalu Debby yang ganti memeluk. Lalu Randu berbalik, menarik tangan Sonja, dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Dan aku berdiri di situ seperti tiang listrik. Tinggi, diam, dan tidak ada yang peduli.
Lima belas menit berlalu tanpa suara selain hujan. Randu menyetir dengan rahang mengeras. Sesekali jari-jarinya mengetuk setir, lalu berhenti, lalu mengetuk lagi.
Sonja menarik napas panjang. Bertanya, atau diam saja seperti biasa? Seperti biasa, Sonja si gadis antara ada dan tiada akan memilih diam. Menelan semuanya sendiri, lalu menangis di kamar sambil memeluk guling.
Tapi kalimat Mya tadi siang terngiang. Manfaatin dong tuh kesempatan, jarang-jarang kan datang dua kali.
"Pak..." Suaranya keluar lebih kecil dari yang dia mau.
"Hmm?"
"Kenapa tadi saya diajak ke sana?"
Jari Randu berhenti mengetuk setir. Mobil melambat karena lampu merah di jalan keluar tol. Untuk beberapa detik, hanya ada suara wiper.
"Perempuan tadi Debby." Kata Randu akhirnya.
"Saya tahu, Pak. Saya pernah ketemu waktu di rumah sakit."
"Dia mantanku. Malam ini dia berangkat ke Australia, kuliah master dua tahun." Randu menatap lurus ke depan. "Aku sudah bilang ke Daniel aku gak akan datang. Aku sudah bilang ke diriku sendiri juga. Tapi setelah Bintang masuk tadi, kakiku maunya ke Terminal 3."
"Terus kenapa saya harus ikut?"
Randu menghela napas, kasar. "Karena aku gak sanggup menemuinya sendirian, Sonja. Kalau sendirian, aku takut aku memohon dia tinggal. Dan aku gak mau jadi lelaki yang memohon pada perempuan yang sudah memilih pergi. Kalau ada orang lain di dekatku, aku jadi malu untuk bersikap bodoh."
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Sonja menunduk. Jadi begitu. Dia diajak bukan karena Randu ingin ditemani olehnya. Dia diajak karena dia kebetulan ada di situ. Kalau tadi yang ikut mengantar Bintang adalah satpam kompleks, mungkin satpam kompleks juga akan diseret ke Terminal 3.
"Jadi saya tamengnya ya, Pak." Kalimat itu meluncur sebelum sempat ditahan.
Randu menoleh cepat, lalu kembali ke jalan. "Aku..."
"Gak papa kok, Pak. Saya ngerti." Sonja tersenyum, senyum yang sama sekali tidak sampai ke mata. "Saya kan memang paling cocok jadi tameng. Tinggi, lebar ke atas. Hehe..."
Candaan itu jatuh di lantai mobil, tidak ada yang memungut.
"Maaf." Kata Randu pelan. "Aku harusnya bilang dulu ke kamu mau ke mana dan untuk apa, lalu tanya kamu mau ikut atau tidak. Bukannya menarik tanganmu seenaknya. Itu kurang ajar. Maaf ya, Sonja."
Sonja memandangi tangannya sendiri. Iya, kurang ajar. Tapi kenapa aku malah pengin ditarik lagi?
"Iya Pak. Dimaafkan." Jawabnya lirih.
Sisa perjalanan diisi radio yang Randu nyalakan, tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Sonja menempelkan pelipis ke kaca jendela yang dingin. Gerimis di luar terus turun. Di dalam dadanya juga.
Apa yang dibisikkan Randu tadi? Aku masih menunggumu? Aku akan menyusulmu? Jangan lupakan aku?
Aah, bodo amat. Itu bukan urusanku. Aku cuma tameng.
Tapi perihnya tetap urusan dia sendiri.
***
Lampu teras rumah Randu sudah menyala ketika mobil masuk halaman. Mobil Mya masih terparkir di depan pagar. Pintu rumah terbuka bahkan sebelum Randu mematikan mesin. Mya berdiri di atas undakan, bersedekap, dengan Lies di belakangnya memakai kerudung bergo dan jaket rajut.
"Lama amat, Ndu? Pesawat Bintang jam enam kan? Ini udah mau jam delapan." Seru Mya. "Lu bawa sepupu gue ke mana dulu?"
"Macet." Jawab Randu singkat.
Mya memicingkan mata. Jalanan Sabtu malam lengang begini, macet dari mana? Tapi dia memilih diam, karena dilihatnya Sonja turun dari mobil dengan wajah yang terlalu tenang. Tenang yang dibuat-buat. Mya hafal betul raut itu. Itu raut Sonja kalau habis menangis di toilet kantor lalu pura-pura habis cuci muka.
"Sonja, ayo masuk dulu nduk. Tante sudah bikinkan teh jahe. Hujan-hujan begini enaknya yang anget-anget." Lies menyongsong Sonja, menggandengnya masuk. Tangannya yang mulai berkerut terasa hangat.
"Tante sudah enakan?" Tanya Sonja.
"Sudah, dipijat Mya tadi. Wis, kepala tante sudah ringan." Lies tersenyum, tapi matanya bergantian menatap Sonja dan Randu. Si sulung langsung masuk kamar dengan alasan ganti baju. Si gadis duduk di sofa, memegangi cangkir teh dengan dua tangan seperti orang kedinginan, padahal ruang tamu itu sama sekali tidak dingin.
Lies sudah membesarkan dua lelaki. Dia tahu wajah lelaki yang habis melepas sesuatu. Dan dia juga dulu pernah muda, pernah menjadi gadis yang menunggu dilirik. Dia tahu wajah gadis yang baru saja patah, lalu menyusun dirinya sendiri lagi dari kepingan.
Ada yang terjadi di bandara. Dan itu bukan soal Bintang.
"Bintang sudah telepon, bu?" Tanya Randu yang keluar kamar dengan kaos rumah.
"Sudah, barusan. Sudah boarding katanya. Nanti kalau sudah mendarat dia kabari lagi." Lies menatap putranya lama. "Kamu dari mana saja, Ndu?"
"Dari bandara, bu."
"Bandara itu luas lho, Ndu. Terminalnya juga banyak."
Randu terdiam. Mya mengerjap, menoleh pada Sonja, lalu pada Randu, lalu kembali pada Sonja. Kepingan-kepingan di kepalanya mulai bersatu. Qantas. Jam delapan malam. Debby.
Ya ampun, Ndu. Lu ngajak sepupu gue nonton lu perpisahan sama mantan? Lu waras?
"Tante, kami pamit dulu ya. Sudah malam." Mya berdiri, mengambil kunci mobil. "Sonja besok pagi ada... ada... ada janji olahraga sama gue."
"Loh, gak makan dulu? Tante masak sayur asem."
"Lain kali ya, Tante. Janji deh." Mya mencium punggung tangan Lies, Sonja mengikuti.
Randu mengantar sampai undakan teras. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Sonja. Sesuatu yang lebih panjang dari maaf di mobil tadi. Tapi Sonja sudah menunduk dan berjalan cepat ke mobil Mya, seperti dulu, seperti gadis yang selalu buru-buru pergi tiap kali dia muncul.
Kenapa rasanya aku pernah melihat punggung itu pergi seperti ini?
"Ndu." Suara Lies di belakangnya. "Besok kalau kamu sudah tenang, ibu mau dengar ceritamu. Sekarang ibu cuma mau bilang satu hal. Gadis itu bukan payung, nak. Jangan dipakai kalau kamu kehujanan saja."
Randu menoleh. Ibunya sudah berbalik masuk, meninggalkannya sendirian di teras bersama gerimis yang belum juga mau berhenti.