Sebuah kebohongan yang baik, ayah Elias pernah berkata, bukan kebohongan yang besar. Itu kebohongan yang ingin dipercaya orang. Letakkan satu kebenaran di hadapan keserakahan seseorang, dan ia akan mengisi sisanya sendiri.
Maka Elias tidak membangun kebohongannya dari udara. Ia membangunnya dari sesuatu yang setiap orang di Cedar Gulch sudah ingin percaya: bahwa di suatu tempat di bukit-bukit ini, masih ada urat emas raksasa yang menunggu ditemukan.
Lokasinya ia pilih dengan kecermatan seorang yang menimbang. Sebuah klaim terlantar di lereng dekat ngarai Coyote—tanah yang ditinggalkan bertahun-tahun lalu oleh seorang pendulang yang menyerah, kini kosong, hampir lupa. Tapi yang membuat tempat ini sempurna bukanlah kekosongannya. Melainkan letaknya: klaim itu berbatasan langsung dengan tanah Hu, tanah di lereng Coyote yang kini dimiliki Cedar Ridge di atas kertas, tempat istri Hu dikubur.
"Jika ada urat emas besar di klaim sebelahnya," kata Elias, menjelaskan pada Pearl dan Hu di gudang, "maka urat itu hampir pasti memanjang ke bawah tanahmu juga, Hu. Urat tidak berhenti di garis batas klaim—itu hanya garis di atas kertas. Vance tahu ini. Setiap penambang tahu ini. Kalau dia percaya ada bonanza di klaim Coyote, dia akan tahu tanahmu—yang sudah ia miliki lewat boneka—mendadak bernilai sepuluh kali lipat. Dan dia akan bergerak untuk mengamankan keduanya, cepat, sebelum orang lain mencium kabarnya."
Hu menatapnya lama, dan ada sesuatu yang gelap di matanya. "Kau memakai tanah istriku sebagai umpan."
Elias tidak berkelit dari tatapan itu. "Ya," katanya. "Dan kalau kau menyuruhku berhenti, aku berhenti. Tanah itu milikmu, dan janjiku padamu, dan aku tidak akan mempermainkannya tanpa izinmu." Ia berhenti. "Tapi pikirkan ini, Hu. Selama tanah itu hanya tanah kosong dengan kuburan, Vance memegangnya diam-diam dan tak ada yang bisa menyentuhnya. Tapi kalau ia bergerak untuk menggalinya, untuk mengamankan bonanza yang ia kira ada di sana, ia harus menggerakkan boneka, berkas, uang, dan orang. Ia harus keluar dari bayangan. Dan setiap gerakan meninggalkan jejak yang bisa ditimbang."
Untuk waktu yang lama Hu mengisap pipanya dalam diam. Lalu ia berkata, pelan, "Istriku tidak takut pada keserakahan orang hidup. Dia sudah di tanah, di luar jangkauan mereka. Pakai tanah itu. Tapi—" matanya menajam, "—kalau kau membuat mereka menggali kuburannya, aku akan menembakmu sendiri, siapa pun namamu."
"Mereka tidak akan menggali apa pun," kata Elias. "Umpan ini berakhir jauh sebelum sekop menyentuh tanah. Aku berjanji."
Membangun rumor adalah pekerjaan yang lebih halus daripada menggali. Kebenaran tidak boleh datang dari satu mulut—satu sumber bisa dilacak, diragukan, dibungkam. Ia harus tumbuh dari banyak arah sekaligus, sampai tak ada yang ingat siapa yang pertama mengatakannya, sampai semua orang yakin mereka mendengarnya dari orang lain.
Maka Pearl menanamnya di sumber yang paling subur untuk gosip: meja saloon. Seorang pelayan menyebut, seolah tak sengaja, bahwa ia mendengar dua pendulang membicarakan sampel kaya dari arah Coyote. Seorang pemabuk, dibayar dengan minuman gratis, mulai berkhotbah tentang urat emas yang membuat mati orang yang menyerah terlalu cepat. Dan Cobb—Cobb yang penuh mimpi dan kepahitan, yang masih percaya Amos Teller adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia—Cobb diberi sepotong umpan dengan cara yang lebih licik. Elias, dalam percakapan mabuk lain yang dipalsukan, mengeluh bahwa ia menyesal tidak punya cukup uang untuk membeli klaim Coyote yang terlantar itu, karena ia sudah menimbang sampel dari batu yang dijatuhkan seseorang di jalan, dan kadarnya membuat Lereng Mati terlihat seperti lelucon. "Tapi jangan bilang siapa-siapa," bisik Elias, tahu persis bahwa tidak ada cara lebih cepat menyebarkan sebuah rahasia daripada memintanya dirahasiakan.
Cobb, tentu saja, akan membawanya kepada Deglan. Dan Deglan, yang tahu Amos Teller adalah pendulang yang membaca kadar lebih baik dari kebanyakan, akan membawanya kepada Vance bukan sebagai gosip saloon, melainkan sebagai laporan dari seseorang yang tahu cara menimbang.
Elias menyusun setiap mata rantai rumor itu dengan kesabaran seorang yang merangkai anak timbangan, dari yang teringan ke yang terberat, sampai keseluruhannya cukup berat untuk menarik perhatian satu lelaki yang menimbang segala sesuatu. Lalu ia mundur, dan menunggu.
"Sekarang kita lihat," katanya pada Pearl, malam itu, "apakah keserakahan benar-benar membuat orang cermat berhenti menghitung. Kalau Vance mengabaikannya, kita kehilangan apa-apa. Tapi kalau dia menggigit—kalau dia bergerak merampas klaim bonanza ini—maka untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke kota ini, aku bukan lagi yang diburu. Aku yang memasang perangkapnya. Dan dia, si penaksir hebat yang menimbang semua orang, akan melangkah ke dalamnya sambil mengira dirinya sedang menimbang sebuah keberuntungan."
Di luar, di lereng Coyote yang jauh, sebuah klaim terlantar tidur di bawah bintang, dengan kuburan seorang perempuan di tanah sebelahnya, dan tak satu pun emas raksasa di bawah keduanya. Hanya sebuah kebohongan yang ditanam dengan hati-hati di tanah keserakahan seorang lelaki, menunggu untuk tumbuh.