Vance menggigit pada hari kesepuluh, dan ketika ia menggigit, ia melakukannya dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan Elias.
Tanda pertama datang lewat mata Pearl di kota. Cornelius Quill, yang baru saja meninggalkan Cedar Gulch beberapa minggu sebelumnya, kembali tergesa dengan kereta pos, kotak berkasnya berkunci di pangkuannya. Pengacara keliling itu tidak datang sesuai jadwalnya yang biasa, sekali atau dua kali setahun. Ia datang dipanggil. Dan seorang Quill yang dipanggil tergesa berarti ada berkas yang harus dibuat cepat—berkas yang menguntungkan jika diselesaikan sebelum orang lain bergerak.
Tanda kedua datang dari kantor notaris. Pruett, lewat juru tulisnya yang lidahnya longgar, menyebut bahwa ada urusan baru tentang klaim terlantar di Coyote—pencarian status, pemeriksaan tunggakan, dokumen-dokumen yang biasanya mendahului penyitaan. Seseorang sedang menyiapkan tanah itu untuk dirampas, dan menyiapkannya cepat.
Dan tanda ketiga, yang paling jelas, datang dari Cobb sendiri.
Pemuda itu mencari Amos Teller, gugup dan bersemangat sekaligus, dan dalam percakapan setengah berbisik di belakang saloon ia menumpahkan apa yang ia tahu seperti air dari ember yang retak. Deglan dan anak buahnya diperintahkan mengawasi klaim Coyote. Pemilik klaim terlantar itu—seorang pendulang tua yang sudah lama pergi—sedang dicari, dan jika tak ditemukan, klaimnya akan disita atas dasar penelantaran. Tapi ada lebih dari itu. Deglan juga memerintahkan agar siapa pun yang terlihat menggali atau menimbang di sekitar Coyote dibawa menghadap.
"Mereka pikir ada emas besar di sana," kata Cobb, matanya berkilau dengan mimpi pinjaman. "Deglan bilang ini bisa jadi pekerjaan besar. Sebesar—" ia berhenti, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah, "—sebesar yang dulu. Yang di rel."
Elias menjaga wajahnya tetap kosong, tapi di dalam ia merasakan sesuatu mengencang. Untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Cedar Gulch, ia bukan lagi sosok yang bersembunyi dan menunggu gerakan musuhnya. Ia telah menarik tuas, dan mesin itu bergerak persis ke arah yang ia hitung. Vance, si penaksir yang menimbang segala sesuatu, telah mencium keberuntungan yang terlalu besar untuk ditolak, dan keserakahannya telah membuatnya berhenti menghitung dan mulai meraih. Quill dipanggil. Berkas disiapkan. Deglan dikerahkan. Setiap gerakan meninggalkan jejak. Untuk pertama kali, Elias mengendalikan tempo.
Tapi mengendalikan tempo, ia segera tahu, tidak sama dengan mengendalikan segalanya.
Karena Deglan membawa kekerasan lebih cepat dari yang Elias duga.
Umpan itu seharusnya bergerak lambat: rumor menarik perhatian, perhatian menggerakkan berkas, berkas menggerakkan boneka, dan dalam setiap gerakan lambat itu Elias akan mengumpulkan bukti tentang bagaimana Vance merampas—siapa yang menandatangani, ke mana uang mengalir, bagaimana penyitaan dipalsukan, semuanya direkam, ditimbang, disimpan. Sebuah penyitaan yang terdokumentasi rapi, bukti tahap demi tahap dari mesin yang bekerja di tempat terang.
Tapi Deglan tidak menunggu berkas. Untuk mengamankan klaim Coyote sebelum kabar bonanza menyebar dan menarik pendulang lain, ia bergerak dengan cara yang paling ia kuasai: ketakutan. Anak buahnya mulai menggeledah lereng Coyote, mengusir siapa pun yang berkemah di dekatnya, membakar tenda seorang pendulang miskin yang kebetulan mendulang di anak sungai dekat sana, semata-mata untuk membersihkan tanah itu dari saksi sebelum penyitaan resmi.
Elias, yang mengawasi dari kejauhan dengan teropong tua, merasakan dingin yang berbeda dari sebelumnya. Ia telah merancang umpan yang bermain di tanah kertas dan keserakahan, sebuah con yang bersih, di mana kemenangan datang dari menjebak pelaku dalam berkasnya sendiri. Tapi Deglan tidak bermain di kertas. Deglan bermain di api dan ketakutan, dan api tidak peduli pada rencana siapa pun yang menyalakannya.
"Ini terlalu cepat," katanya pada Pearl malam itu, suaranya tegang. "Aku mengira aku menarik tuas yang menggerakkan kertas. Tapi aku menarik tuas yang juga menggerakkan Deglan. Dan Deglan tidak bergerak dengan pena. Ada orang-orang di sekitar Coyote sekarang—pendulang yang tak tahu apa-apa, yang kebetulan ada di sana. Mereka tidak bagian dari rencanaku. Mereka tidak tahu mereka berdiri di tanah yang baru saja kubuat berbahaya."
Pearl menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak rencana ini dimulai, ada peringatan di matanya yang belum pernah ia tunjukkan. "Kau membuat tanah itu berbahaya, Teller," katanya pelan. "Kau menyalakan keserakahan Vance, dan keserakahannya punya tangan, dan tangan itu bernama Deglan, dan tangan itu tidak menimbang siapa yang ia lukai." Ia berhenti. "Kau lebih baik berdoa bahwa kau bisa mengendalikan apa yang kau nyalakan. Karena api yang kau pakai untuk membakar musuhmu tidak membedakan kayu siapa yang ia makan."
Elias tidak menjawab. Ia menatap ke arah lereng Coyote yang jauh, di mana cahaya kecil sebuah tenda terbakar berkedip di kegelapan, dan untuk pertama kalinya sejak ia menarik tuas itu, ia merasakan keraguan dingin merayap masuk—keraguan bahwa dalam memasang perangkap untuk Vance, ia mungkin telah memasang perangkap yang lebih besar dari yang bisa ia kendalikan, dan bahwa orang yang akan jatuh ke dalamnya mungkin bukan hanya orang yang ia maksudkan.