Panggilan itu datang dua hari kemudian, dan datang dengan cara yang membuat menolaknya akan lebih berbahaya daripada datang.
Seorang anak buah Deglan, yang lebih muda dan kurang seram dari yang lain, mendatangi Lereng Mati di pagi hari saat Elias sedang berpura-pura menggali. "Tuan Deglan ingin bicara denganmu," katanya, mengunyah sesuatu, sikapnya santai dengan kekuasaan pinjaman. "Di kantor angkut lama. Siang ini. Soal pembiayaan klaimmu, katanya."
Elias menyandarkan sekopnya pada batu dan menyeka dahinya. Soal pembiayaan adalah dusta, tentu saja — Deglan tidak mengurus pembiayaan; itu urusan Vance dan kasirnya. Ini interogasi yang dibungkus sebagai urusan bisnis. Tapi seorang pendulang yang berutang pada Vance tidak menolak panggilan, dan menolak hanya akan menanam kecurigaan yang lebih dalam daripada yang sudah ada.
"Aku akan datang," kata Elias.
Maka siang itu ia berjalan ke kantor angkut lama, sebuah bangunan kayu kosong di tepi kota yang dulu menjadi gudang Perusahaan Angkut Meridian — tempat, ia tahu dengan ironi pahit, di mana ia pernah menyusup mencari catatan pengiriman bertahun-tahun lalu. Tempat di mana semuanya dimulai. Ia berjalan dengan langkah pendulang, bahu sedikit membungkuk, kepala sedikit tertunduk, dan sepanjang jalan ia membangun Amos Teller di dalam dirinya batu demi batu, sampai Elias Crane terkubur begitu dalam sehingga ia sendiri hampir lupa lelaki itu ada.
Deglan menunggu di dalam, duduk di atas peti dengan satu kaki terangkat, membersihkan kukunya dengan ujung pisau. Cahaya masuk lewat celah-celah papan dinding, menggaris ruangan berdebu dengan pita-pita keemasan. Tak ada anak buah lain. Hanya mereka berdua, dan itu sendiri adalah sebuah pesan: Deglan tidak ingin saksi untuk apa pun yang akan ia lakukan.
"Teller," kata Deglan tanpa mengangkat pandangan. "Duduk."
Elias duduk di peti yang ditunjuk, di seberang, cukup dekat untuk membuatnya tak nyaman. Ia meletakkan tangannya di lutut, terbuka, tidak mengancam. Ia membuat napasnya sedikit cepat, seperti orang yang gugup berada di hadapan kekuasaan.
Deglan menyelesaikan satu kuku, lalu mengangkat matanya, dan tatapan abu-abu itu jatuh ke wajah Elias dan menetap di sana seperti tangan yang meraba. "Aku tidak suka wajah yang tidak bisa kutempatkan," katanya. "Itu penyakitku. Aku melihat orang, dan kalau aku merasa pernah melihatnya, itu menggangguku sampai aku tahu di mana. Kau menggangguku, Teller."
"Maaf, tuan," kata Elias, dan ia membiarkan secercah kebingungan polos. "Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak dari sini. Aku datang dari arah barat, dari ladang-ladang tambang lama dekat Sungai Cold Fork sebelum itu kering. Sebelumnya aku— bermacam pekerjaan. Buruh tani. Tukang angkut. Apa saja."
"Tukang angkut." Deglan mengulanginya, dan matanya menyipit. "Angkut apa?"
Elias merasakan jebakan di kata itu seperti merasakan tanah yang lunak di bawah kaki. Jika ia mengaku pernah bekerja di jalur angkut bijih, ia mungkin meletakkan dirinya terlalu dekat dengan kebenaran. Jika ia menyangkalnya terlalu keras, kegelisahannya akan terlihat. Maka ia memilih jalan tengah, jalan yang membumi dan tak menarik.
"Gandum, kebanyakan," katanya. "Kayu sekali-sekali. Pernah angkut kulit binatang sepanjang satu musim, baunya tidak hilang dari pakaianku sampai sekarang." Ia mencoba senyum lemah, senyum lelaki yang ingin disukai oleh orang yang menakutinya. Deglan tidak membalas senyum itu.
"Kau pintar bicara untuk seorang penggali," kata Deglan. "Sebagian besar mereka cuma menggumam."
"Ibuku dulu guru, tuan," kata Elias — dusta yang ia siapkan berbulan-bulan lalu, sebuah detail yang membuat Amos Teller masuk akal, seorang lelaki yang lebih terpelajar dari nasibnya. "Mengajariku huruf sebelum ia mati. Tidak banyak gunanya buat menggali, tapi begitulah."
Deglan bangkit dari petinya dan berjalan mengitari Elias, perlahan, langkahnya berbunyi di lantai kayu. Elias tidak mengikutinya dengan mata. Ia menatap lurus ke depan, memaksa dirinya untuk tetap di tempat, melawan setiap naluri yang berteriak agar ia memutar dan menghadapi ancaman yang ada di belakangnya. Seorang penembak akan memutar. Seorang pengawal kereta akan memutar. Amos Teller, buruh tani yang takut, akan duduk diam dan berharap masalah ini lewat.
Maka ia duduk diam.
Deglan berhenti di belakangnya. Elias merasakan kehadiran lelaki itu, mencium kuda dan keringat dan minyak senjata. "Ada seorang lelaki yang kukenal dulu," kata Deglan, suaranya pelan sekarang, hampir akrab. "Pengawal kawat. Pemberani yang bodoh. Punya mata seperti milikmu — cara dia menatap sesuatu, mengukurnya. Lelaki itu seharusnya sudah mati, atau membusuk di tempat yang tak akan pernah ia tinggalkan. Tapi kadang-kadang aku melihat sepasang mata, dan aku ingat dia."
Elias merasakan dunianya menyempit menjadi satu titik. Ini dia. Ujung pisaunya. Jika ia bereaksi — tegang, menelan ludah, mengubah napas — Deglan akan tahu. Lelaki seperti Deglan tidak membaca kata-kata; ia membaca tubuh, ketakutan, getaran kecil yang dikhianati seseorang ketika namanya disebut tanpa disebut.
Maka Elias membuat satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya. Ia berbalik di petinya, perlahan, dengan kebingungan yang sabar di wajahnya, dan ia menatap Deglan dengan tatapan kosong seorang lelaki yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Tuan," katanya, dan ia membiarkan kelelahan masuk ke suaranya, kelelahan jujur seorang penggali yang tubuhnya remuk, "aku tidak tahu apa-apa soal pengawal. Aku punya utang di kantor Tuan Vance yang tidak bisa kubayar dengan tanah yang tidak menghasilkan apa-apa. Aku punya punggung yang sakit dan tangan yang melepuh. Kalau ada hadiah untuk menangkap orang yang kau cari, demi Tuhan, aku berharap akulah orangnya, supaya aku bisa lunasi utangku. Tapi aku cuma aku."
Ia menahan tatapan Deglan. Tidak terlalu lama — lelaki bersalah menatap terlalu lama untuk membuktikan kejujurannya. Tidak terlalu sebentar — lelaki bersalah menghindar. Ia menatap secukupnya, lalu menurunkan matanya ke tangannya yang melepuh, tangan yang ia hancurkan selama berhari-hari di Lereng Mati justru untuk momen seperti ini, dan ia membiarkan tangan itu bicara untuknya.
Keheningan terbentang. Debu melayang di pita-pita cahaya.
Deglan menatapnya untuk waktu yang terasa seperti satu jam. Dan dalam waktu itu Elias merasakan timbangan tergantung di udara di antara mereka, dua cawan, dan di satu cawan terletak ingatan Deglan tentang wajah Elias Crane di bawah cahaya api, dan di cawan lain terletak lelaki lelah dan berutang dan tak penting yang duduk di hadapannya sekarang. Dan ia tahu, dengan setiap saraf di tubuhnya, bahwa hidupnya bergantung pada cawan mana yang akan turun.
Akhirnya, Deglan meludah ke lantai. "Mungkin aku jadi tua," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Elias. "Melihat hantu di mana-mana." Tapi suaranya tidak yakin, dan matanya, ketika berbalik, masih menyimpan sesuatu yang gelap dan tak puas.
"Pergilah," kata Deglan. "Kembali ke tanah sialmu. Dan Teller—" ia berhenti, "—kalau aku mendengar kau berkeliaran di tempat yang seharusnya tidak kau datangi, di malam hari, di dekat kantor yang bukan urusanmu, aku tidak akan repot-repot mencocokkan wajah. Aku mengerti?"
"Ya, tuan," kata Elias. "Sangat mengerti."
Ia bangkit, dan kaki-kakinya hampir tak menopangnya, tapi ia berjalan keluar dari kantor angkut lama dengan langkah pendulang yang sama dengan saat ia masuk — pelan, membungkuk, tak penting. Ia tidak mempercepat langkahnya. Ia tidak menoleh. Ia berjalan sampai bangunan itu hilang dari pandangan di belakang punggung bukit, lalu ia masuk ke balik gerumbul batu, bersandar pada permukaan yang panas oleh matahari, dan untuk waktu yang lama ia hanya bernapas, tubuhnya gemetar dengan getaran yang baru sekarang ia izinkan keluar.
Ia selamat. Tapi ia tahu sekarang dengan kepastian yang dingin: Deglan tidak yakin, dan ketidakyakinan itu adalah racun yang lambat. Lelaki itu telah menatap matanya dan melihat hantu, dan tidak ada janggut atau debu atau kelelahan yang akan menghapus hantu itu untuk selamanya. Waktu Amos Teller sedang habis, butir demi butir, seperti pasir lewat leher gelas. Elias harus bergerak lebih cepat sekarang. Ia harus menemukan ke mana emas curian itu pergi, harus menautkan setiap mata rantai, harus membangun timbangannya cukup besar dan cukup berat untuk menjatuhkan Vance — sebelum sepasang mata abu-abu pucat akhirnya menemukan nama yang sesuai dengan wajahnya.