Setiap mesin punya gigi yang aus, dan Elias telah belajar dari ayahnya bahwa sebuah rantai tidak putus di mata terkuatnya. Ia mengamati anak buah Deglan selama berhari-hari, dari kejauhan, dari sudut saloon, dari bayangan, mencari mata rantai yang paling rapuh. Dan ia menemukannya pada seorang pemuda bernama Cobb.
Cobb tidak lebih dari dua puluh tahun, dengan wajah yang belum sepenuhnya kehilangan kelembutan masa kecil meski ia mencoba keras menutupinya dengan dengusan dan ludah dan tangan yang selalu dekat dengan pistol. Ia anak buah Deglan yang paling muda, yang paling banyak disuruh dan paling sedikit dipercaya, yang menjaga kuda sementara yang lain masuk ke rumah-rumah orang. Dan, seperti yang Pearl ketahui dengan jaringan gosipnya yang tak pernah keliru, Cobb berutang judi yang tak bisa ia bayar pada seorang bandar di belakang saloon seberang.
"Dia kalah lagi tadi malam," lapor Pearl, mengelap meja dengan kain kotor sementara Elias duduk di sudut dengan segelas minuman yang tak ia sentuh. "Dadu. Anak itu tidak punya kepala untuk dadu, tapi dia terus main karena itu satu-satunya tempat dia merasa seperti orang dewasa. Dia berutang empat puluh dolar pada Sweeney. Sweeney bukan orang yang sabar."
"Berapa bayaran Deglan padanya?" tanya Elias.
"Receh," kata Pearl. "Cukup untuk minum, tidak cukup untuk bermimpi. Dan anak itu penuh mimpi. Aku mendengarnya bicara ketika mabuk — soal pergi ke barat, soal kuda yang bagus, soal perempuan. Deglan memberinya perintah dan menendangnya seperti anjing, dan Cobb membenci itu meski ia terlalu takut untuk menunjukkannya."
Elias mengangguk pelan. Inilah gigi yang aus. Seorang pemuda yang berutang, yang dibayar murah, yang membenci tuannya, yang penuh mimpi yang tak terjangkau. Sebuah celah yang menunggu untuk dilebarkan — bukan dengan ancaman, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi orang seperti Cobb: harapan.
"Aku tidak ingin namaku terlibat," kata Elias. "Tidak boleh ada jejak ke Amos Teller. Kau yang harus melakukannya, Pearl. Lewat tanganmu, lewat orang-orangmu."
Maka mereka bekerja perlahan, dengan kesabaran yang Elias hargai dalam segala hal. Pertama, utang Cobb pada Sweeney lunas — tidak sekaligus, yang akan mencurigakan, tapi diam-diam dikurangi, seolah keberuntungan akhirnya berpihak padanya. Sweeney, yang dibayar Pearl dari peti uangnya sendiri dengan janji akan diganti dari emas Lereng Mati, berkata pada Cobb bahwa seorang lelaki yang tak mau menyebut namanya telah menutup sebagian utangnya, dan bahwa lelaki itu mungkin punya pekerjaan untuknya kelak. Lalu, beberapa malam kemudian, salah satu pelayan Pearl mulai memberi Cobb minuman gratis, sekali-sekali, dengan kerlingan dan kata-kata yang membuat pemuda itu merasa dilihat. Diperhatikan. Dianggap penting.
Elias tahu bahwa orang yang kelaparan akan perhatian akan menjual apa saja demi sepiring lagi. Dan Cobb kelaparan.
Butuh hampir dua minggu sebelum Elias merasa cukup aman untuk mendekat sendiri, dan ketika ia melakukannya, ia tidak melakukannya sebagai penyelidik. Ia melakukannya sebagai sesama lelaki yang kalah. Suatu malam ia duduk di samping Cobb di bar, keduanya setengah mabuk — atau Elias berpura-pura begitu, sambil diam-diam menumpahkan sebagian besar minumannya ke lantai di antara kakinya — dan ia mulai bicara, bukan bertanya, hanya bicara, tentang utang yang menjerat, tentang orang berkuasa yang menggiling orang kecil, tentang betapa kota ini memakan siapa pun yang tak punya nama.
Cobb, yang penuh minuman dan kepahitan, mulai membalas. Mulai mengeluh. Tentang Deglan yang memperlakukannya seperti kotoran. Tentang gaji yang tak pernah cukup. Tentang bagaimana ia melakukan pekerjaan kotor sementara orang lain menikmati hasilnya.
"Pekerjaan kotor," gumam Elias, menatap gelasnya, suaranya kabur dan tanpa minat, seolah ia hanya berbasa-basi. "Kita semua melakukan pekerjaan kotor seseorang. Aku menggali tanah yang dijanjikan Vance untuk membuatku kaya, dan tanah itu cuma membuatku makin berutang. Setidaknya kau dibayar."
"Dibayar," Cobb mendengus. "Kau tahu berapa Deglan dibayar untuk satu pekerjaan? Satu pekerjaan besar, maksudku. Dia membeli kuda hitam itu dari satu pekerjaan saja. Dan aku? Aku menjaga kandang."
Elias menjaga wajahnya kosong, menjaga tangannya santai di sekitar gelas. "Pekerjaan besar apa," katanya, hampir tertawa, seolah ide bahwa Deglan punya pekerjaan besar itu lucu. "Membakar gubuk orang tua? Itu tidak akan membeli kuda."
"Bukan itu." Cobb mencondongkan tubuh, matanya berkilau dengan kebanggaan keliru orang yang ingin terdengar lebih penting dari dirinya. "Sebelum aku masuk. Pekerjaan di rel. Di tebing. Mereka tidak banyak bicara soal itu, tapi aku dengar yang lebih tua-tua bicara saat mabuk. Sesuatu di Hollow Bend. Sebuah muatan yang—" ia berhenti, menyadari ia mulai bicara terlalu banyak, dan sebuah kewaspadaan mabuk menyusup ke matanya. "Ah, sudahlah. Bukan urusanmu."
Tapi sudah terlambat. Kata itu sudah keluar. Hollow Bend. Sebuah muatan. Sebuah pekerjaan di rel di tebing yang membuat Deglan cukup kaya untuk membeli kuda hitam besarnya.
Elias merasakan sesuatu menyala dingin di dadanya, tapi tak satu pun dari itu mencapai wajahnya. Ia mengangkat gelasnya dan menelan sisa minumannya, lalu meletakkannya dengan dentang. "Tebing," katanya, kabur, tak peduli, sudah beralih topik dalam suaranya. "Berbahaya, rel di tebing. Aku pernah lihat gerbong jatuh. Sudah, aku harus tidur, punggungku akan membunuhku besok pagi." Ia bangkit, sengaja goyah, menepuk bahu Cobb dengan keakraban orang mabuk. "Kau anak baik, Cobb. Terlalu baik untuk Deglan. Suatu hari kau akan punya kudamu sendiri."
Cobb tersenyum lebar pada pujian itu, pada janji yang tak berbeda dengan janji-janji kosong yang Deglan timpakan padanya tapi terasa berbeda karena diberikan dengan kelembutan. Dan Elias berjalan keluar ke malam, langkahnya tetap goyah sampai ia hilang dari pandangan, lalu berdiri tegak, dan berjalan lurus ke gubuk Pearl dengan kepala yang sangat, sangat jernih.
Konfirmasi. Untuk pertama kali, dari mulut orang dalam, walau seorang anak buah muda yang hanya mendengar dari yang lebih tua, ia mendapat konfirmasi bahwa Hollow Bend — perampokan kereta yang menjebloskannya ke penjara, yang membunuh Tom dan Gantry — adalah pekerjaan Deglan. Bukan perampok jalanan. Bukan kebetulan. Sebuah pekerjaan yang dibayar, yang membuat seorang penegak bayaran cukup kaya untuk membeli kuda hitam.
Dan jika itu pekerjaan Deglan, dan Deglan adalah anjing Vance, maka tali yang menghubungkan perampokan kereta itu ke kantor penaksir kini punya simpul pertamanya — sebuah simpul yang baru saja diikatkan oleh seorang pemuda mabuk yang ingin merasa penting.
Elias berhenti sejenak di gelap, menatap kembali ke arah saloon. Ia merasakan rasa bersalah yang samar bercampur dengan kemenangan. Cobb adalah anak yang penuh mimpi, dan Elias sedang menggunakan mimpi-mimpi itu sebagai pengungkit, menariknya pelan-pelan dari tuannya menuju sesuatu yang pemuda itu belum mengerti bisa menggantungnya. Itu bukan pekerjaan yang membuat Elias bangga. Tapi ia teringat pada Tom Bissell yang mati di gerbong, pada Gantry, pada empat tahun di Fort Mallory, pada Daniel Ames yang mati keras kepala dengan kebenaran di kantongnya, pada Nyonya Ames yang menggenggam jam saku yang berhenti di pukul sebelas lewat dua. Dan ia mengeraskan hatinya.
Satu simpul terikat. Ia akan membutuhkan banyak lagi. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia tahu pasti bahwa benang yang menghubungkan kereta yang ia kawal mati-matian dengan timbangan yang berbohong di kantor Vance itu nyata — dan ia telah memegang ujungnya.