Kabar bahwa Deglan sedang menyisir kota datang ke gubuk Elias lewat seorang anak kecil yang Pearl bayar dengan sekeping uang receh. Bocah itu mengetuk dinding tiga kali, mengintipkan kepalanya yang kotor, dan berbisik, "Nyonya Pearl bilang: orang-orang berkuda menggeledah gubuk-gubuk di deret selatan. Mencari penyusup. Mereka bergerak ke utara." Lalu ia menghilang secepat ia datang.
Elias berdiri sangat diam di tengah gubuknya selama tiga detik penuh, dan dalam tiga detik itu ia melihat seluruh dunianya bisa runtuh.
Deret selatan. Bergerak ke utara. Gubuknya berdiri di deret utara.
Ia tidak panik — panik adalah kemewahan orang yang tak punya rencana. Tapi jantungnya berdetak dengan ritme tajam yang ia kenal dari malam-malam di kereta angkut, dan tangannya sudah bergerak sebelum pikirannya selesai menghitung. Ia berlutut di sudut, mencungkil papan lantai yang longgar dengan ujung pisaunya, dan di bawah sana terbaring seluruh hidupnya: halaman robekan dari buku kadar, segel timah bernomor 4719, sampel tandingan dari Lereng Mati, catatan timbangannya, dan timbangan kuningan ayahnya yang dibungkus kain.
Semua ini, jika ditemukan, bukan hanya akan membongkar Amos Teller. Itu akan menggantungnya. Seorang pendulang lugu tidak menyimpan halaman dari buku rahasia kantor penaksir di bawah lantainya. Seorang pendulang lugu tidak punya segel peti angkut bijih dari empat tahun lalu. Benda-benda ini berteriak Elias Crane sekeras nama itu sendiri.
Ia berpikir cepat. Mengubur di bawah lantai tidak cukup — itu tempat pertama yang akan digeledah orang yang tahu cara menggeledah, dan Deglan tahu. Ia memerlukan tempat yang seorang penyisir tergesa-gesa tidak akan menyentuhnya.
Matanya jatuh pada tungku.
Gubuk itu punya tungku batu kasar di satu sudut, dingin sekarang, abunya menumpuk karena sudah beberapa hari ia tak memasak. Elias bekerja dengan tangan yang bergerak teratur meski cepat. Ia membungkus halaman robekan, segel, dan catatan timbangannya dalam kain berlapis-lapis, lalu memasukkannya ke dalam ketel besi tua. Ia menutup ketel, mendorongnya ke bagian belakang tungku, dan menumpuk kayu bakar serta abu di atasnya sampai benda itu tak lebih dari panci kosong di perapian seorang lelaki miskin.
Sampel emas tandingan ia tuangkan ke dalam kantong kulit dan ia gantungkan di lehernya, di balik kemeja. Emas itu kecil; jika digeledah dan ditemukan, seorang pendulang memang sewajarnya membawa emas. Tidak ada yang mencurigakan dari emas di leher pendulang.
Timbangan ayahnya adalah masalah terbesar. Itu terlalu indah untuk seorang Amos Teller yang miskin — kuningan tua dengan ukiran halus, sebuah benda yang diwariskan, bukan dibeli oleh pendulang gembel. Itu satu-satunya benda di dunia yang Elias tak sanggup kehilangan, dan itu pula benda yang paling berbahaya untuk dimiliki. Ia tidak punya waktu untuk menguburnya di luar. Maka ia melakukan satu-satunya hal yang masuk akal: ia membungkusnya dalam karung goni bersama beberapa alat tambang yang berkarat, sekop patah, pemecah batu, kawat, dan menggantung karung itu di paku tinggi di dinding luar gubuk, di antara karung-karung serupa milik tetangga-tetangganya. Sebuah karung alat tua di antara puluhan karung alat tua. Dalam keributan, mata yang memburu mencari sesuatu yang disembunyikan, bukan sesuatu yang tergantung terbuka di hadapan semua orang.
Lalu ia duduk di luar gubuknya, di atas peti terbalik, mengasah pisau dengan batu, dan menunggu.
Suara mereka datang sebelum sosoknya — derap kuku, teriakan kasar, pintu yang ditendang, sumpah serapah pendulang yang gubuknya dijungkirbalikkan. Elias memaksa bahunya turun, membuat napasnya pelan, mengubah dirinya menjadi seseorang yang tak punya apa-apa untuk ditakuti karena tak punya apa-apa untuk disembunyikan. Ia telah belajar di Fort Mallory bahwa orang bersalah bergerak terlalu sedikit atau terlalu banyak; orang tak bersalah hanya melanjutkan apa yang sedang ia lakukan. Maka ia terus mengasah.
Mereka muncul di ujung deret — empat penunggang kuda, dan di depan, di atas kuda hitam yang besar, Roy Deglan. Elias tidak mengangkat kepalanya terlalu cepat. Ia membiarkan dirinya menatap seperti pendulang mana pun menatap masalah yang datang: dengan kewaspadaan tumpul, sedikit takut, sedikit jengkel.
Anak buah Deglan turun dan mulai bekerja, masuk dari gubuk ke gubuk. Mereka menjungkirkan ranjang, menyepak peti, merobek kasur jerami. Seorang pendulang tua di tiga gubuk dari Elias berteriak protes dan didorong jatuh ke lumpur. Elias menahan dirinya. Setiap otot dalam tubuhnya ingin berdiri, tapi Amos Teller hanya akan menonton dengan ketakutan diam, dan maka itulah yang ia lakukan.
Seorang anak buah Deglan masuk ke gubuk Elias. Elias mendengar peti digeser, papan lantai diketuk dengan tumit bot. Jantungnya melompat ketika langkah-langkah itu berhenti di dekat tungku. Ada jeda. Lalu suara kayu bakar yang diaduk-aduk, malas, dengan ujung sepatu, oleh orang yang sudah lelah dan tidak benar-benar berharap menemukan apa-apa di perapian dingin seorang miskin. Ketel besi itu mungkin tergeser sedikit. Lalu langkah-langkah itu menjauh, keluar, dan anak buah itu meludah ke tanah. "Kosong," katanya pada yang lain. "Cuma sarang tikus."
Elias menarik napas perlahan lewat hidung, tetap mengasah.
Lalu bayangan jatuh ke atasnya, dan ketika ia mengangkat kepala, Roy Deglan duduk di atas kudanya tepat di depannya, menatap ke bawah dengan mata abu-abu yang dingin dan pucat seperti langit musim dingin.
Untuk satu detik yang panjang dan mengerikan, tak ada yang bicara. Elias merasakan tatapan itu menyusuri wajahnya, dan ia tahu — ia tahu — apa yang sedang dicari Deglan. Lelaki ini sudah pernah melihat wajahnya di bawah cahaya kebakaran di kantor penaksir. Lelaki ini sudah mengucapkan namanya. Dan sekarang ia mencari kepastian, mencocokkan ingatan dengan janggut dan debu dan kerutan baru yang ditambahkan empat tahun penjara pada wajah Elias.
Elias menahan tatapan itu cukup lama untuk terlihat tidak bersalah, lalu menurunkannya seperti pendulang yang takut pada orang berkuasa, kembali ke pisaunya. Tangannya tidak gemetar. Ia tidak mengizinkannya gemetar.
"Kau," kata Deglan. Suaranya kasar, datar. "Sudah berapa lama di gubuk ini?"
"Beberapa bulan, tuan," kata Elias. Ia membuat suaranya lebih tinggi, lebih ragu, membuang ketenangan yang biasa ada di sana. "Sejak musim semi. Membeli klaim di Lereng Mati lewat pembiayaan Tuan Vance. Tidak banyak hasil, kalau tuan mau tahu."
Sesuatu di mata Deglan bergerak ketika nama Vance dan kata pembiayaan disebut — ia menempatkan Elias dalam sistem, sebagai salah satu domba yang sudah ditandai, salah satu yang sedang digiling oleh mesin. Itu, anehnya, membuat Elias kurang mencurigakan. Penyusup tidak masuk ke dalam jerat Vance secara sukarela.
Tapi Deglan tidak langsung pergi. Ia terus menatap, kepalanya sedikit miring, seperti seekor anjing yang mencium sesuatu yang familiar tapi tak bisa dinamai. "Kita pernah bertemu?" tanyanya.
Elias mengangkat wajahnya, membiarkan kebingungan yang jujur, atau yang tampak jujur, melintas di sana. "Kurasa tidak, tuan. Aku bukan orang yang gampang diingat." Ia tersenyum lemah, senyum pendulang yang tahu dirinya tak penting. "Tidak ada yang mengingatku."
Deglan menatapnya beberapa detik lagi. Kuda hitamnya bergerak gelisah, menghentakkan kaki. Di belakang, anak buahnya selesai dengan deret itu dan menunggu. Akhirnya Deglan menarik tali kekang, dan kudanya berputar.
"Kalau kau lihat orang asing," kata Deglan tanpa menoleh, "orang yang tidak seharusnya ada di kota ini, kau lapor ke kantor Tuan Vance. Ada hadiah." Ia berhenti sejenak. "Kerja keras, anak pengawal."
Darah Elias membeku. Anak pengawal. Frasa yang sama yang Deglan ucapkan di kantor penaksir malam itu, di bawah pistol terkokang. Tapi Elias menyadari, dengan secepat kilat yang menyelamatkan nyawanya, bahwa Deglan mengucapkannya tanpa sadar — sebuah ejekan kebiasaan, sebuah cara bicara pada lelaki yang lebih rendah, bukan sebuah tuduhan yang ditujukan. Atau mungkin sebuah jebakan, sebuah umpan untuk melihat apakah lelaki di hadapannya akan terlonjak.
Elias tidak terlonjak. Ia mengernyit, seolah tak mengerti. "Pengawal, tuan? Aku cuma pendulang."
Deglan menahan kudanya satu saat lebih lama. Lalu ia mendengus, sesuatu antara tawa dan dengusan, dan menendang kudanya maju. "Begitulah kalian semua," gumamnya, dan ia pergi, anak buahnya mengikuti, derap kuku memudar ke arah utara di mana deret gubuk berakhir dan bukit dimulai.
Elias tetap duduk di atas peti, terus mengasah pisaunya yang sudah cukup tajam untuk mencukur, sampai suara terakhir lenyap. Lalu ia menurunkan pisau dan menyadari bahwa kemejanya basah oleh keringat dingin meski sore itu sejuk.
Ia masuk ke gubuknya. Anak buah Deglan telah menjungkirkan petinya, menyepak kasurnya, tapi mereka tidak menyentuh ketel di tungku. Ia mengeluarkannya, membuka tutupnya, dan halaman robekan, segel timah 4719, catatan timbangannya — semuanya ada, kering, aman. Ia mengambil karung goni dari paku di luar, dan timbangan ayahnya tergeletak di dalamnya di antara sekop patah, utuh dan tak tersentuh.
Ia duduk di lantai gubuknya yang berantakan dan membiarkan dirinya bernapas. Penyamarannya bertahan. Tapi sesuatu telah berubah, dan ia tahu itu dengan kepastian yang dingin. Deglan tidak mencari penyusup yang sembarangan. Deglan mencium sesuatu — sebuah ingatan yang tak mau diam, sebuah wajah yang tak mau cocok dengan dirinya sendiri. Hari ini, janggut dan debu dan kelelahan empat tahun telah menyelamatkannya.
Tapi Deglan akan kembali. Lelaki seperti itu selalu kembali pada hal yang menggigitnya. Dan lain kali, Elias tahu, menonton dengan ketakutan diam mungkin tidak akan cukup. Ia harus menjadi Amos Teller dengan begitu sempurna sehingga bahkan orang yang pernah menatap wajah Elias Crane di bawah cahaya api tak akan bisa menemukannya di sana. Karena satu kerlingan yang salah, satu kata yang terlalu tenang, dan empat tahun akan runtuh menjadi satu lubang di tebing Hollow Bend, di mana dua rekannya sudah menunggunya.