Lereng Mati pantas dengan namanya. Tanah berbatu cokelat kering di sisi punggung bukit yang jauh dari sungai, ditumbuhi semak duri dan dihindari para pendulang karena reputasinya yang kosong. Itulah persis sebabnya Vance bersedia membiayainya kepada Amos Teller dengan murah hati — tanah yang ia yakini takkan pernah menghasilkan cukup untuk melunasi utang, sehingga penyitaan hanyalah soal waktu.
Tapi Elias tidak datang ke Lereng Mati untuk menjadi kaya. Ia datang untuk membangun sebuah timbangan yang tak bisa dibantah.
Selama berhari-hari ia menggali dengan punggung yang membungkuk dan tangan yang melepuh, dan tanah itu, seperti dijanjikan namanya, pelit. Tapi tidak sepenuhnya kosong. Di sela-sela batu kuarsa yang ia pecah dengan palu warisan ayahnya, ada urat-urat tipis — bukan kekayaan, tapi emas sungguhan, kadar baik, cukup untuk membuat penipuan itu telanjang ketika dibandingkan. Elias mengumpulkannya butir demi butir, gumpalan demi gumpalan, dan setiap malam ia membawanya pulang ke gubuk.
Lalu ia melakukan ritual yang menjadi jantung seluruh rencananya.
Ia membagi hasil galiannya menjadi dua bagian yang ia ukur seteliti mungkin agar setara. Bagian pertama ia timbang sendiri dengan timbangan kuningan ayahnya, mencatat beratnya sampai pecahan terkecil, lalu menguji kadarnya dengan asam pada batu uji hitam, membaca warna goresan dengan mata yang telah ia latih sejak kecil di bengkel ayahnya. Ia mengulanginya tiga kali untuk memastikan tak ada keraguan: berat sekian troy ounce, kadar sekian — emas baik, jauh dari emas semu. Bagian ini, sampel tandingan, ia bungkus dalam kain dan sembunyikan di bawah papan lantai bersama halaman curian. Inilah kebenaran yang ia simpan, yang bisa ditimbang ulang oleh siapa pun yang berani, kapan pun.
Bagian kedua, yang setara dengan bagian pertama, ia bawa ke kantor penaksir keesokan paginya.
Lyle menerimanya dengan tangan yang gugup seperti biasa, menuangkannya ke cawan, menambahkan anak timbangan, menguji dengan asam, dan menulis di buku besar. Lalu ia mendorong selembar surat keterangan ke seberang meja, suaranya datar dan tak menatap mata.
"Kadar rendah. Banyak campuran. Bernilai tiga dolar sepuluh sen."
Tiga dolar sepuluh sen. Atas emas yang, telah Elias timbang dan uji sendiri tadi malam dengan tiga kali pengulangan, bernilai lebih dari delapan puluh dolar.
Elias menerima surat keterangan itu dengan tangan yang ia buat sedikit gemetar, mengangguk patah-patah seperti pendulang yang kalah, dan keluar. Tapi kali ini, di dalam saku dadanya, ia membawa sesuatu yang belum pernah ia miliki sebelumnya dalam empat tahun memburu kebenaran ini: bukti yang dibuat oleh tangan Vance sendiri. Surat keterangan resmi, ditandatangani atas wewenang Sterling Vance sebagai penaksir kota, menyatakan secara hitam di atas putih bahwa segenggam emas seharga delapan puluh dolar hanya bernilai tiga dolar sepuluh sen. Dan di bawah papan lantai gubuknya, separuh kembar dari emas yang sama menunggu, siap ditimbang ulang oleh hakim mana pun, penaksir jujur mana pun, siapa pun yang mau meletakkannya di cawan dan membaca apa yang dikatakan beratnya.
Dua angka atas satu emas. Satu kebohongan, satu kebenaran, dan keduanya bisa diperiksa.
Malam itu, di bawah cahaya lilin yang ditutupi kaleng, Elias meletakkan surat keterangan palsu di samping catatan timbangannya sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari Fort Mallory, ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang nyaris seperti kepuasan. Mesin Vance, yang selama bertahun-tahun menggiling setiap pendulang yang berani mendekat, kini sedang menggiling Amos Teller — persis seperti yang ia rencanakan. Dan tidak seperti ratusan korban sebelumnya, satu pendulang ini menyimpan timbangan ayahnya, dan ia tahu, dengan kepastian yang lebih berat daripada emas, bahwa sebuah ons selalu sebuah ons, dan tidak ada pena di dunia ini, sehalus apa pun ia berbohong, yang bisa mengubah kebenaran itu selamanya.