"Kau gila," kata Pearl, dan kali ini tidak ada nada bercanda di suaranya. "Kau benar-benar gila."
Mereka berdiri di belakang saloon dalam gelap, dan Elias baru saja memberitahunya apa yang ia lakukan: ia telah menandatangani kontrak pembiayaan klaim dengan Quill, atas nama Amos Teller, mengikat dirinya pada utang kepada bank Vance dengan jaminan sebidang tanah terlantar di lereng yang disebut orang Lereng Mati.
"Aku tahu apa yang kuperbuat," jawab Elias tenang.
"Tidak, kau tidak tahu." Pearl menyilangkan lengan, dan dalam cahaya tipis dari jendela saloon, wajahnya keras dengan ketakutan yang ia samarkan sebagai kemarahan. "Aku sudah lima tahun menonton mesin ini, lebih lama darimu. Kau pikir kau bisa masuk ke dalamnya lalu keluar lagi sesukamu? Begitu kau berutang pada Vance, kau miliknya. Itu bukan kiasan. Itulah persis yang menimpa Will. Adikku menandatangani kertas seperti yang baru kau tanda tangani, mengira ia cukup pintar untuk membayarnya, mengira ia mengendalikan tanahnya. Lalu kadarnya dicap rendah, cicilannya tak pernah lunas, tanahnya disita, dan satu pagi mereka menemukannya menggantung." Suaranya pecah di kata terakhir, lalu ia memaksanya kembali keras. "Kau baru saja menggantungkan tali yang sama di lehermu sendiri dan menyebutnya rencana."
Elias membiarkan kata-kata itu mengendap, karena Pearl benar, dan ia menghormatinya terlalu dalam untuk menyangkalnya. "Aku tahu cara kerja perangkapnya," katanya akhirnya, pelan. "Justru karena aku tahu, aku tidak akan terjatuh ke dalamnya seperti Will. Will tidak tahu ia sedang dipanen. Aku tahu. Will mengira kalau ia bekerja cukup keras, kebenaran akan menyelamatkannya. Aku tidak menggali Lereng Mati untuk membayar utang, Pearl. Aku menggalinya untuk menjadi saksi."
"Saksi atas apa?"
"Atas mesin itu, dari dalam." Ia melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan yang tajam. "Selama ini aku hanya bisa melihat penipuan ini dari luar — menimbang ulang emas orang lain, menebak, menyimpulkan. Tak ada hakim jujur yang akan percaya pada tebakan seorang pendulang tanpa nama. Tapi sekarang aku punya kontrak resmi atas namaku sendiri. Aku akan menggali klaim itu, mengumpulkan emasnya, menimbangnya sendiri dengan timbangan ayahku sampai aku tahu beratnya sampai butir terakhir. Lalu aku akan menyerahkannya pada Lyle untuk ditaksir. Dan ketika Lyle mencapnya rendah — dan ia akan mencapnya rendah, persis seperti yang lain — aku akan punya dua angka: berat yang kuukur sendiri, dan kadar palsu yang dicap Vance, atas emas yang sama, dengan surat keterangan resmi bertanda tangan mereka sendiri di tanganku."
Pearl terdiam, dan Elias melihat ia mulai mengerti.
"Bukti yang selama ini kucari selalu bisa mereka bantah," Elias melanjutkan. "Halaman curian — pemalsuan, kata mereka. Kesaksian pendulang — dendam, kata mereka. Tapi bukti yang mereka buat sendiri, atas emas yang bisa ditimbang ulang siapa saja yang mau, surat keterangan dengan tanda tangan resmi yang menyatakan emas seharga dua ratus dolar hanya bernilai tiga dolar — itu bukti yang tak bisa mereka sebut buatan musuh. Karena mereka sendiri yang menulisnya. Aku tidak masuk ke jaring mereka untuk tertangkap, Pearl. Aku masuk untuk membuat jaring itu menjerat tangan yang menenunnya."
Pearl menatapnya lama dalam gelap. Lalu ia menggeleng pelan, dan ada sesuatu di antara kekaguman dan kengerian di wajahnya. "Will juga mengira ia lebih pintar dari mereka," katanya lirih. "Aku cuma berdoa kau benar-benar lebih pintar, dan bukan cuma lebih keras kepala." Ia berbalik untuk masuk, lalu berhenti. "Kalau mesin ini mulai menggilingmu, siapa pun namamu, jangan tunggu sampai terlambat untuk berteriak. Aku sudah kehilangan satu orang yang terlalu keras kepala untuk minta tolong."