Pearl menutup pintu belakang saloon dengan kakinya, kedua tangannya memegang nampan berisi dua cangkir kopi pahit dan sepotong roti jagung yang sudah keras. Ia meletakkannya di meja kayu kecil di ruang gudang, di antara peti minuman dan karung tepung, lalu menarik tirai goni agar tak ada yang melihat dari arah dapur.
"Kalau ada yang bertanya," katanya, "kau membantuku menghitung botol kosong."
Elias mengangguk. Di hadapannya tergelar selembar kertas besar, bekas pembungkus daging asin yang ia ratakan dengan telapak tangan sampai kerutnya nyaris hilang. Ia telah menggambar tiga kolom dengan arang: nama, tahun klaim hilang, dan nama pembeli. Sebagian baris sudah terisi tulisan rapatnya, sebagian masih kosong menunggu.
Hu datang terakhir, membawa baunya sendiri — tanah, merkuri, dan tembakau murah. Lelaki tua itu duduk dengan susah payah, lututnya berderak, lalu menatap kertas itu lama sebelum bicara. "Kau mau menulis semua nama orang yang dikubur mesin Vance? Kertasmu tidak cukup besar."
"Maka kita mulai dari yang kau ingat," kata Elias. "Satu per satu. Pelan saja."
Maka mereka mulai. Hu bicara dengan suara rendah, sesekali berhenti untuk mengingat, dan setiap nama yang keluar dari mulutnya seperti membuka pintu sebuah gubuk kosong. Ada Tobias Frey, yang klaimnya di hulu ditaksir miskin tiga musim berturut-turut sampai ia menjualnya seharga sepasang sepatu bot dan tiket kereta ke timur. Ada keluarga Mendez, yang ayahnya jatuh sakit dan mengira tanahnya memang sial, lalu mati tanpa tahu bahwa goresan asam di batu uji telah dibaca salah dengan sengaja. Ada Dunne bersaudara, yang bertengkar sampai berdarah memperebutkan klaim yang ternyata sudah dirampas keduanya di atas kertas, jauh sebelum mereka saling menghantam dengan gagang sekop.
Pearl menambahkan dari sudutnya sendiri. Ia mengenal kota lewat orang-orang yang mabuk di mejanya, dan orang mabuk bicara jujur tentang kekalahannya. Ia tahu siapa yang menjual cincin istrinya, siapa yang menggantung diri di terowongan tua, siapa yang pergi diam-diam di malam hari tanpa pamit karena malu. Suaranya datar saat menyebut nama-nama itu, tapi Elias melihat tangannya mengepal di pangkuan ketika ia sampai pada nama yang tak ia ucapkan dengan keras — Will, adiknya. Elias tidak menuliskannya. Ia hanya menatap Pearl sebentar, dan Pearl mengangguk sekali, dan itu cukup di antara mereka.
Menjelang lilin kedua, kolom pertama hampir penuh. Tapi yang membuat tengkuk Elias dingin bukanlah panjangnya daftar itu. Melainkan kolom ketiga.
Ia membaca ulang nama-nama pembeli yang berhasil mereka kumpulkan dari ingatan dan dari potongan gosip. Sekilas, semuanya berbeda. Sebuah klaim dibeli oleh seseorang bernama Marsh Trading. Yang lain oleh Tuan Halloway. Yang lain lagi oleh sesuatu yang disebut Perusahaan Tanah Pinggir Barat. Nama-nama yang asing, tersebar, seolah tak ada hubungan satu sama lain. Persis seperti yang dirancang.
Tapi Elias telah membaca terlalu banyak buku besar dalam hidupnya untuk percaya pada kebetulan. Ia mengambil halaman robekan dari saku dadanya — halaman yang ia bawa keluar dari kantor penaksir lewat jendela ruang brankas — dan membentangkannya di samping daftar. Di sana, di antara deret kadar asli, kode yang sama muncul berulang seperti tanda air: Cedar Ridge.
Ia menyusuri nama-nama pembeli dengan ujung jarinya, dan satu per satu menemukan jejaknya. Marsh Trading, ketika ditelusuri ke catatan notaris yang pernah ia intip, ternyata menyetorkan haknya ke Cedar Ridge dalam tiga bulan. Perusahaan Tanah Pinggir Barat sama. Tuan Halloway, yang menurut Hu tak pernah benar-benar terlihat orangnya, hanya sebuah tanda tangan di atas kertas. Semua sungai kecil ini, betapapun berbeda muaranya tampak dari jauh, mengalir ke satu kolam yang sama.
"Lihat," kata Elias pelan, dan ia memutar kertas itu agar Hu dan Pearl bisa melihat. Ia menggambar garis dari setiap nama pembeli, dan setiap garis berakhir di tiga kata yang sama. Ketika ia selesai, kertas itu tampak seperti akar pohon yang tumbuh terbalik — banyak cabang di atas, satu batang di bawah.
Hu menatapnya lama. "Selama ini kami pikir kami sial sendiri-sendiri," katanya. Suaranya parau. "Tiap orang menyalahkan tanahnya. Menyalahkan dirinya. Tidak ada yang tahu kalau kami semua dikuliti oleh pisau yang sama."
"Karena begitulah cara kerjanya," kata Elias. "Kalau seratus orang dirampok oleh seratus perampok, itu nasib. Kalau seratus orang dirampok oleh satu perampok, itu kejahatan. Vance memastikan kalian merasa seperti yang pertama."
Pearl menuangkan sisa kopi ke kerongkongannya dan meletakkan cangkir dengan keras. "Bagus. Kau punya daftar. Lalu apa? Kau bawa selembar kertas penuh nama orang kalah ini ke hadapan hakim yang dibeli Vance, dan ia menertawakanmu."
Elias menggulung kertas itu pelan, hati-hati, seolah ia menggulung sesuatu yang hidup. "Tidak," katanya. "Bukan ke hakim. Belum. Yang kupunya sekarang bukan bukti untuk pengadilan. Yang kupunya adalah daftar orang yang punya alasan untuk bicara, kalau saja ada satu di antara mereka yang berani lebih dulu."
"Dan kau pikir akan ada yang berani?" tanya Pearl. "Mereka sudah patah, Teller. Patah orang tidak melawan. Mereka cuma menunduk dan pergi."
Elias tidak langsung menjawab. Ia menatap nyala lilin, dan untuk sesaat ia teringat pada dirinya sendiri di Fort Mallory, pada empat tahun di mana ia juga telah menjadi orang patah, menunduk, menelan kebenaran karena tak ada yang mau mendengarnya. Dan ia ingat bahwa yang membuatnya berdiri kembali bukanlah keberanian yang muncul tiba-tiba. Melainkan satu hal kecil yang ia tahu pasti: berat sebuah ons. Sesuatu yang bisa diperiksa, ditimbang, dibuktikan dengan tangan sendiri.
"Orang patah tidak melawan untuk dendam," kata Elias akhirnya. "Aku setuju. Tapi mereka mungkin melawan untuk sesuatu yang lain. Tunjukkan pada satu orang bahwa kekalahannya bukan salahnya — bahwa angka di surat keterangannya bohong, dan kau bisa membuktikannya di depan matanya sendiri dengan timbangan — dan kau tidak memberinya dendam. Kau memberinya kembali harga dirinya. Itu lebih berat dari dendam."
Hu memandangnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kau bicara seperti pengkhotbah," katanya. "Tapi kau bergerak seperti maling. Aku belum tahu kau ini yang mana."
"Mungkin keduanya," kata Elias. Ia menyelipkan gulungan kertas ke balik papan longgar di dinding gudang, tempat Pearl menyimpan botol terbaiknya, dan menutupnya kembali. "Mulai besok, aku ingin nama pertama dari daftar ini. Yang masih ada di kota. Yang masih menyimpan surat keterangannya. Yang lukanya cukup dalam untuk membuatnya mau menimbang ulang."
Pearl dan Hu bertukar pandang. Lalu Pearl berkata, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, "Ada satu. Janda muda. Ames. Suaminya mati di terowongan tahun lalu — kata mereka kecelakaan. Tapi Tuan Ames itu menolak menjual klaimnya sampai mati. Dan jandanya, dia masih menyimpan kertas-kertas suaminya. Aku tahu, karena dia pernah menunjukkannya padaku sambil menangis, bertanya kenapa tanah suaminya selalu miskin padahal lelaki itu bersumpah ia menemukan emas baik."
Elias merasakan sesuatu mengeras di dadanya. Bukan kepuasan kali ini. Sesuatu yang lebih dekat pada kemarahan yang dingin dan sabar. "Kalau begitu," katanya, "kita mulai dari Nyonya Ames."
Lilin kedua hampir habis. Di luar, kota berbaring dalam gelap, ratusan orang tidur di atas tanah yang dicuri dari mereka tanpa mereka tahu. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali, Elias merasa ia tidak lagi memburu kebenaran sendirian. Ia sedang menyusun sebuah timbangan yang cukup besar untuk menampung seluruh kota — dan ia tahu, dengan kepastian yang lebih berat dari emas, bahwa cepat atau lambat, sesuatu harus diletakkan di cawan yang lain.